Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps.36


__ADS_3

Dengan malas Elisa membuka matanya, pagi ini terasa berat beranjak dari tempat tidur. Hari ini adalah awal dari kehancuran hidupnya.


Setelah shalat shubuh tadi, Elisa mencoba untuk memejamkan matanya kembali, tapi waktu terasa begitu cepat. Dan kegelisahan menguasai jiwanya.


"Ya Allah apakah ini mimpi, dekorasi kamar ini. Apakah benar ini hari pernikahanku?" Airmata Elisa mengalir deras.


"Kenapa hidupku seperti ini ya ya Allah, apa salahku. Bukankah aku rajin beribadah, kenapa engkau tak mendengar doa-doaku". Elisa merasa sangat putus asa.


Iwan tampak duduk termenung, dia menyalahkan dirinya sendiri karena gagal menjadi seorang bapak yang baik. Bapak yang tidak bisa melindungi anaknya.


Waktu begitu cepat berjalan, perias pengantin sudah datang. Nia mengantar kekamar Elisa.


"Elisa cepat cuci mukamu, perias sudah datang!" Perintah Nia lantang.


Dengan sempoyongan, Elisa kekamar mandi mencuci mukanya. Air matanya terus mengalir. Matanya sangat sembab, ingin sekali berteriak meluapkan kesedihannya.


"Mbak yang sabar ya." Ucap perias saat melihat Elisa keluar dari kamar mandi.


Elisa menatap dengan wajah yang sangat sedih. Hatinya hancur, dia duduk dalam keadaan yang sangat lemah.


Perias mendandani Elisa tak terasa bulir air matanya pun keluar.


"Mbak berdoa, semoga ada keajaiban." Ucap perias.


"Keajaiban apa mbak, tinggal hitungan jam. Laki-laki tua itu menjadi suamiku." Jawab Elisa sesenggukan.


"Mbak, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Jangan putuskan doamu meminta pertolongannya." Perias menguatkan Elisa.


"Iya mbak, aku tidak berhenti berdoa." Jawab Elisa sesak.

__ADS_1


Sudah selesai Elisa dirias dan memakai kebaya berwarna putih. Elisa tampak begitu sangat cantik, memakai jilbab menambah keanggunan wajahnya.


"Begitu cantik kamu Elisa, sungguh tega orang tuamu." Bisik Perias.


"Bu, aku kok sedih mikirin Elisa." Ucap ibu-ibu penjaga tamu.


"Iya kenapa tega orang tuanya." Jawab ibu-ibu yang lain.


Tibalah pengantin laki-laki dengan rombongan. Istri-istri Juragan ikut mengantar.


"Ya ampun, liat aki-aki tua itu gak ada malunya." Ucap ibu-ibu.


"Hust bu, jangan bicara sembarang." Ucap suaminya.


Nia tampak bahagia sekali menyambut Juragan. Juragan sudah siap untuk mengucapkan ijab. Didepan penghulu dan saksi, sedangkan Elisa dikamar.


"Berhenti hentikan. Suara dari arah luar." Menghentikan pernikahan.


Semua tamu mencari dimana arah suara itu. Semua tamu merasa bahagia, karena pernikahan Elisa dengan Juragan akan batal.


"Bapak bapak sudah tua. Seharusnya bapak malu sama mereka. Hardik seorang cowok yang sudah berdiri tegak dibelakang Juragan.


"Faisal!" Juragan berdiri menatap tajam.


"Siapa yang ngasih tau kamu, dan kapan kamu pulang?" Juragan tampak heran.


"Bapak tidak perlu tau siapa yang ngasih tau saya, kenapa saya pulang." Ucap Faisal menatap tajam Juragan.


"Jangan halangi bapak menikah. Teruskan pak penghulu." Juragan duduk kembali.

__ADS_1


"Jika bapak, tetap menikah dengan Elisa. Seumur hidup saya tidak akan menganggap bapak sebagai bapak saya." Ancam Faisal.


Faisal adalah anaknya dari istri pertama, dia adalah seorang Insinyur dan bekerja di Medan. Faisal mengetahui bapaknya menikah karena ditelfon oleh buguru Maya.


"Bapak, karena harta membutakan mata hati bapak. Gadis yang harus bapak lindungi masa depannya justru akan bapak hancurkan. Faisal malu punya bapak seperti Juragan kaya raya ini!" Faisal sudah membuang rasa hormatnya.


Elisa mendengar, dan sangat bahagia sekali.


"Bu Maya, apakah ibu yang menyelamatkan saya." Elisa menatap kearah Maya yang sudah berada dipintu kamar.


"Iya sayang, ibu yang menelfon Faisal. Faisal langsung terbang kesini." Maya memeluk Elisa.


"Hiks hiks terimakasih bu." Elisa menangis sesenggukan dipelukan bu guru SDnya itu.


"Dan ibu Nia, dimana hati ibu menjual anak sendiri demi lunasnya hutang dan kemewahan. Ibu macam apa ibu ini." Faisal menatap tajam Nia.


Nia menunduk malu dengan para tamu. Sedangkan semua tamu senang karena pernikahannya batal.


"Oya, Juragan terhormat aku akan membayar hutang pak Iwan beserta bunganya, jadi tidak perlu bapak menyita rumahnya. Tulis disini berapa nominalnya." Faisal menyerahkan cek kosong.


"Sombong kamu." Juragan merobek cek lalu pergi karena merasa malu.


"Nak, ibu bangga sama kamu!" Susi memeluk Faisal.


"Ibu maafin Faisal, bukan maksud Faisal menjadi anak durhaka bu." Faisal meneteskan air mata.


"Tidak nak, kamu hanya menyadarkan bapakmu. Semoga bapakmu sadar." Susi tersenyum bangga.


~ Jangan lupa tinggalkan jejak, like dan komen. Jika berkenan vote ya. Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2