
Rita bahagia mendengar cerita Mita jika Dr. Farhan masih mencintai Elisa. Rita berfikir bagaimana caranya menyatukan mereka kembali. Di butik sambil melayani pelanggan, Rita terus memikirkan bagaimana caranya agar Farhan dan Elisa bisa bersatu dan pernikahan Farhan batal.
"Hmm, bagaimana ya?" Rita tampak duduk melamun di kursi kerjanya.
"Apa aku katakan ke bu Elisa kalau pak Farhan masih mencintainya? Ahhh, tapi pasti bu Elisa tidak mau ngerusak hubungan mereka bu Elisa baik banget." Rita tampak bingung memikirkan bagaimana caranya.
Rita pun menemukan ide, Rita meraih tasnya lalu bersiap untuk pergi. Rita pamit pada karyawan Elisa yang lain jika dia keluar ada urusan penting.
"Mbak aku mau keluar dulu ya ada kepentingan." Ucap Rita tersenyum pada teman kerjanya.
"Iya mbak."
Rita pun bergegas dan menunggu taksi di depan butik. Akhirnya taksi pun datang, Rita menaiki taksi. Pikirannya bimbang apakah keputusannya ini baik atau malah akan memperburuk keadaan.
Pandangan Rita ke arah jendela kaca mobil, pikirannya tak tenang bingung dan kacau. Dia ingin menyatukan cinta bosnya yang sudah baik padanya selama ini. Tapi, Rita juga bingung jangan sampai caranya justru memperburuk hubungan mereka.
"Hmmm, aku coba dulu lah." Bisik Rita menenangkan dirinya.
Sampailah Rita di tempat tujuan, Rita turun dari taksi. Ada perasaan ragu-ragu ingin mengurungkan niatnya, tapi keinginan untuk menyatukan mereka kembali sangat besar. Rita ingin melihat bosnya bahagia dengan seseorang yang mencintainya tulus. Sudah cukup Rita melihat bosnya menderita.
Rita datang ke rumah sakit di mana Dr. Farhan bertugas. Rita memberanikan diri untuk menemui Farhan dan menjelaskan status Elisa. Rita berjalan melewati lorong rumah sakit dan mencari ruangan Farhan.
"Mbak di mana ya ruangan Dr. Farhan?" Tanya Rita pada salah satu perawat.
"Oh Dr. Farhan, itu di sana. Tapi, Dr. Farhan masih menangani pasien jadi belum bisa ditemui. Kalau mau menunggu silahkan menunggu di ruang tunggu ya." Ucap perawat lembut sambil menunjukkan ruang tunggu pada Rita.
"Makasih ya mbak." Ucap Rita tersenyum lalu menuju ruang tunggu.
Rita pun menunggu dengan sabar, jantungnya pun berdebar-debar dan rasanya gelisah. Rita takut jika apa yang akan dia lakukan nanti salah. Bagaimana jika Farhan akan marah padanya. Pikiran Rita benar-benar kacau memikirkan apakah dia akan mengurungkan niatnya atau melanjutkan niatnya.
"Kok nggak keluar-keluar ya Dr. Farhan, ini sudah jam 3." Bisik Rita gelisah sambil melihat jam dipergelangan tangannya, Rita sudah menunggu 1 jam.
Rita pun dengan sabar menunggu Dr. Farhan dengan perasaan yang semakin gelisah. Rita sambil mengotak atik ponselnya. Wajahnya semakin pucat, bukan karena lapar tapi gelisah bagaimana dia menghadapi Farhan nantinya dan membahas kehidupan mereka.
Dua jam sudah Rita menunggu, tapi Farhan tidak keluar juga dari ruangannya. Tiba-tiba Farhan keluar dari UGD, Rita melihat dari arah lain. Rita semakin gugup dan bingung bagaimana menemuinya. Farhan berjalan dengan tenang lalu masuk ke ruangannya, Rita hanya duduk di kursi dan bingung membiarkam Farhan masuk ke ruangannya.
"Hmm, bagimana ini apa aku masuk ya?" Bisik Rita berdiri mondar mandir di depan pintu ruangan Farhan.
__ADS_1
Rita benar-benar bingung terbesit dalam pikirannya untuk mengurungkan niatnya. Rita gelisah ingin melanjutkan niatnya atau mengurungkannya.
Clek
Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam, Rita yang berdiri di depan pintu terkejut dan wajahnya terlihat pucat. Farhan menatap Rita dan masih mengingat Rita adalah karyawan Elisa.
"Loh, sepertinya karyawan Elisa?" Ucap Farhan tersenyum.
"Iya Dok saya Rita." Ucap Rita gugup.
"Mau periksa atau Vino sakit lagi?" Farhan tampak khawatir.
"Emmm, tidak Dok Vino baik-baik saja."
"Alhamdulillah, jadi Rita mau periksa atau gimana?"
"Saya mau bertemu Dokter." Ucap Rita lirih.
"Bertemu saya, ada apa Rit?" Ucap Farhan mengernyitkan dahinya.
"Sebenarnya aku sudah mau pulang, bagaimana kalau kita ngobrol di cafe." Ucap Farhan mencari solusi.
"Oh iya Dok." Ucap Rita setuju, mereka pun bergegas ke cafe dengan menaiki mobil Farhan. Farhan penasaran kenapa karyawan Elisa mengajaknya ngobrol atau meyangkut kesehatan Vino. Farhan menerka-nerka tujuan Rita datang menemuinya.
"Elisa sehat Rit?" Ucap Farhan lembut sambil serius nyetir.
"Alhamdulillah baik Dok, tapi lagi fokus di rumah karena Vino kan baru sembuh."
"Ya bagus begitu, walaupun dia wanita karir dia juga tidak boleh melupakan kodratnya sebagai seorang ibu."
"Iya Dok."
Sampailah mereka di cafe, mereka memesan jus dan makanan ringan sebagai teman ngobrol. Rita tampak gugup Farhan sudah ada di depannya, Rita bingung memulai dari mana mengatakannya.
"Mmm, Rita bisa kamu jelaskan ada apa?" Ucap Farhan memulai pembicaraan.
"Mmm i itu Dok." Ucap Rita gugup.
__ADS_1
"Kenapa Rit santai saja kalau sama saya." Ucap Farhan tersenyum.
"Sekarang minum dulu jusnya supaya tenang." Ucap Farhan lalu meminum jus. Rita meraih jus lalu meminumnya, wajahnya terlihat pucat jantungnya dag dig dug.
"Pak, eh Dokter maaf kalau saya lancang." Ucap Rita gugup.
"Iya kenapa, jadi bingung kan aku." Ucap Farhan tersenyum penuh kebingungan.
"Apa Dokter masih mencintai bu Elisa?" Tanya Rita spontan.
"Maksudnya?" Farhan menatap Rita dan mengernyitkan dahinya, Farhan tak mengerti kenapa Rita bertanya yang tak seharusnya ditanyakan.
"Maaf pak maaf, tapi saya ingin tau apa pak Farhan masih mencintai bu Elisa?" Ucap Rita merasa bersalah.
"Aneh kamu Rita, lagian kok kamu tau kalau aku dan Elisa itu pernah saling mencintai?" Ucap Farhan tersenyum sinis.
"Lagian kalau aku masih mencintai dia, itu nggak penting lagi. Dia sudah punya suami, dia sudah bahagia dengan keluarganya. Aku nggak mau rebut istri orang, aku nggak mau rusak rumah tangga orang lain." Ucap Farhan kesal.
"Dokter, dokter salah paham bu Elisa sudah cerai dengan suaminya." Ucap Rita lirih.
"Cerai, jadi Elisa tidak pernah bahagia Rit?" Ucap Farhan terkejut.
Rita mengangguk mengiyakan ucapan Farhan. Farhan terlihat murung dan sedih setelah mendengar ucapan Rita.
"Kenapa cerai, terus kenapa dia bohong saat aku bertanya tentang suaminya?" Farhan tampak lesu.
"Bu Elisa tidak mau menghancurkan kebahagiaan pak Farhan. Bu Elisa itu kehidupannya sangat menderita. Aku mengenal bu Elisa dari belum punya apa-apa sampai sekarang sukses. Dia menikah karena . . . ." Rita menceritakan semua kisah Elisa sampai bercerai dengan Faisal.
"Astagfirullah Rit. Aku tidak pernah menyangka jika kehidupan Elisa begitu berat." Ucap Farhan matanya berkaca-kaca.
"Dokter saya sudah menceritakan semuanya, terserah Dokter mau melanjutkan pernikahannya atau kembali pada bu Elisa. Saya tidak ingin kalian menyesal setelah semua terlambat." Ucap Rita beranjak dari kursinya.
"Iya Rit, makasih ya atas penjelasaannya. Aku antar kamu pulang?" Farhan berniat mengantar Rita pulang tapi Rita menolak dan memilih untuk naik taksi.
Farhan pun kembali ke rumah, sepanjang jalan dia memikirkan apa yang harus dia lakukan membatalkan atau melanjutkan pernikhannya. Sedangkan cinta untuk Elisa sangat besar apalagi Farhan sudah mulai menyayangi Vino dan ingin selalu bertemu dengan anak Elisa.
**Jangan lupa like, komen dan vote. Terimakasih
__ADS_1