
Elisa tampak sedang asyik menggendong bayinya yang sudah berumur 2 bulan. Sambil bernyanyi dan menimang bayinya.
"Anak ciapa ini, anteng banget kayak ayah ya?" Elisa tersenyum menimang bayinya.
Pagi ini hari tampak cerah, Elisa duduk didepan rumah. Sedangkan didalam Rita sibuk mengerjakan pekerjaannya menjahit pakaian.
"Anak bunda, kalau besar jadi apa chayank." Elisa menciumi pipi bayinya.
"Hm, kalau besar sayang ma ayah bunda, sama kakek nenek ya." Xixixixixixixi, kamu ketawa ya." Elisa trus menimang-nimang bayinya.
Tiba-tiba dia mengingat bapak mertuanya yang tidak pernah melihat cucunya. Bahkan Elisa belum berani bertemu karena mengingat hal buruk yang pernah juragan lakukan padanya.
"Hm, andai tidak ada kejadian seperti itu. Vino kamu pasti sudah ada dipangkuan eyang kamu." Elisa menatap bayinya sedih.
Elisa lalu menepis bayangan masa lalunya, lalu kembali menimang-nimang bayinya.
Saat mau masuk kedalam rumah. Elisa dikejutkan dengan suara mobil yang menghampiri rumahnya.
Turunlah seorang wanita cantik yang pernah Elisa lihat sewaktu makan direstauran.
"Seperti aku pernah kenal?" Elisa berdiri didepan pintu dan melihat kearah wanita itu.
Wanita itu berjalan mendekati Elisa, tampak perutnya buncit seperti sedang hamil 5 bulan.
"Permisi." Ucap wanita itu
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" Ucap Elisa ramah.
"Kita bisa bicara didalam?" Ucap Mita.
"Oiya, silahkan masuk." Elisa mempersilahkan Mita masuk kedalam. Bayi Vino Elisa tidurkan diayunan.
"Elisa, aku Mita kita pernah bertemu direstauran." Mita mengulurkan tangannya dan tersenyum.
Elisa membalas uluran tangan Mita. Rita menghidangkan teh dan cemilan. Tapi Rita seperti mengingat sesuatu dan berpikir sejenak melihat kearah Mita dari tempat duduknya.
"Astaga, itu kan wanita yang bermesraan dengan ayahnya Vino. Mau apa dia kesini?" Rita diam menatap benci kearah Mita.
"Elisa, lihatlah perutku. Aku hamil 5 bulan." Ucap Mita tersenyum sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
"Iya, maaf ada apa ya. Apa ada yang bisa saya bantu?" Ucap Elisa tak mengerti.
Mita tersenyum menatap Elisa. Elisa semakin tak mengerti.
"Astaga, tidak jangan bilang kalau itu anak laki-laki tukang selingkuh itu. Please jangan bilang, aku tidak tega melihat bu Elisa." Rita tampak ketakutan.
"Elisa, kamu harus tau. Aku sudah menikah dengan Faisal." Ucap Mita tenang.
Degggg jantung Elisa seakan berhenti berdetak. Raganya terasa remuk, hatinya benar-benar hancur.
"Apa, apa maksud kamu?" Elisa berdiri air matanya mengalir deras. Rita berlari menghampiri Elisa yang hampir pingsan lalu memapah Elisa duduk dikursi.
Dada Elisa terasa sesak, dia tidak percaya. Tapi apa yang dia lihat didepannya nyata.
"Kapan kalian menikah, apa kamu tidak tau dia sudah beristri?" Ucap Elisa menatap tajam air matanya mengalir deras. Rita disampingnya pun menatap penuh amarah.
"Dihari kamu melahirkan, saat nomor kamu menghubunginya. Kami sedang melaksanakan akad." Ucap Mita lirih.
"Eh, maksud kamu apa dasar wanita murahan." Rita mengumpat Mita yang sedang memegang perutnya.
"Rit sudah." Elisa meminta Rita untuk tenang.
"Kenapa, apa tidak ada pria lain sampai kamu merebut suami orang." Elisa menatap tajam kearah Mita.
"Rita ambilkan ponselku." Ucap Elisa dengan nada kesal.
Rita mengambil ponsel dan memberikan kepada Elisa.
Dregggggg
"Ya hallo bun." Jawab Faisal lembut.
"Pulang sekarang." Ucap Elisa dengan lantang lalu mematikan panggilan telfon.
Faisal terkejut selama ini Elisa tidak pernah berkata kasar padanya. Faisalpun buru-buru pulang. Sepanjang jalan Faisal merasa gelisah ada apa sebenarnya.
"Tunggu suamiku, kita akan selesaikan masalah ini." Ucap Elisa menahan sakit. Rita tetap setia duduk disamping bosnya itu yang terus berderai air mata.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Faisal tampak muncul dari luar tapi sudah dengan raut wajah yang gelisah karena melihat mobil Mita terparkir diluar.
"Apa ini, sekarang kamu jelaskan kepada saya." Elisa menatap tajam kearah suaminya.
Faisal menunduk dan merasa bersalah. Mita menghampiri Faisal dan memegang pundaknya.
"Dek, maafin aku. Aku sudah menikah dengan Mita." Ucap Faisal lirih.
"Apa, menikah?" Ucap Elisa tambah emosi ketika mendengar dari mulut suaminya.
"Apa kurangnya aku, aku berusaha menjadi istri yang baik. Kenapa kamu tega, apa salahku. Hiks hiks." Elisa menangis dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Faisal berlutut di depan Elisa.
"Dek, maaf aku khilaf." Faisal memegang pundak Elisa. Dengan kasar Elisa menepis tangan Faisal.
Rita tampak menjauh, hatinya pun sakit melihat pemandangan seperti itu.
Mita menghampiri Faisal lalu memapah Faisal untuk duduk dikursi.
"Dek, aku janji aku akan setia. Mita juga istriku dia hamil. Aku tidak tega menceraikannya." Ucap Faisal sayu.
"Cukup, maksud kamu poligami?" Elisa menatap tajam kearah Faisal.
Faisal mengangguk membenarkan pertanyaan Elisa.
"Eh, tidak semudah itu. Aku tidak bisa menerima penghianatanmu. Lebih baik aku pisah dengan laki-laki yang tidak pernah bisa menjaga kesetiaan." Ucap Elisa lalu menggendong bayinya.
"Please kamu mau kemana dek?" Faisal menghalangi Elisa yang keluar dari rumah.
Mita menghalangi Faisal untuk membiarkan Elisa pergi.
"Bu, ibu mau kemana?" Rita mengikuti Elisa.
"Entahlah Rit, hatiku hancur." Ucap Elisa sesenggukan sambil menggendong bayinya.
"Kekos ku saja bu." Ucap Rita menawarkan.
Elisa menganguk tanda setuju. Mereka pun menuju kekos Rita. Sedangkan Faisal sangat kacau, karena akan kehilangan Elisa dan anaknya. Mita tersenyum melihat kejadian tadi, dia merasa menang dan bisa memiliki Faisal seutuhnya.
__ADS_1
~ ** Jangan lupa like dan komen. Vote juga ya, supaya penulis semangat berkarya. Terimakasih🙏