
Malam ini Elisa melihat kakaknya berbeda, Siska terlihat sangat bahagia. Senyum ceria terlihat diwajahnya.
"Kak ada kabar apa? Kakak kelihatannya bahagia sekali." Elisa memeluk kakaknya dari belakang.
"Hmmmm adekku penasaran rupanya , Xixixi...!" Siska menggoda Elisa.
"Please bilang dong kak?" Elisa melepas pelukan dan cemberut.
"Tambah cantik aja adek ku kalau lagi manyun kayak gitu." Hehehehe Siska mencubit pipi Elisa.
"Aduh kakak." Elisa memegang pipinya.
"Udah kakak mau nonton tv dulu, kamu kerjakan PRnya dulu." Siska meninggalkan Elisa sambil tertawa.
Elisa menatap kakaknya sambil tersenyum.
Diruang tamu tampak Nia dan Iwan sedang menerima tamu laki-laki. Dia adalah Beni kekasih Siska.
"Begini pak, bu kedatangan saya kesini ingin meminta izin kepada bapak dan ibu. Untuk menjadikan Siska pendamping hidup saya." Ujar beni dengan sopan.
"Kalau memang sudah yakin bapak merestui." Jawab Iwan tersenyum.
"Kapan orang tuamu kesini nak?" Ujar Nia merasa sangat senang.
"Satu minggu lagi bu!"
"Baiklah nak, jangan lama-lama nanti menimbulkan fitnah." Ujar Iwan penuh harap.
Elisa yang sedang keluar ingin minum, melihat siapa sosok laki-laki itu. Elisa mengenal Beni dengan baik sudah seperti kakaknya sendiri. Karena Siska berpacaran sama Beni cukup lama 3 Tahun.
"Ada apa ya ka Beni, sepertinya serius sekali." Elisa menatap dari kejauhan.
__ADS_1
Benipun akhirnya berpamitan untuk pulang. Siska tampak sangat bahagia. Iwan menasehati Siska.
"Nak, jika sudah menikah jadilah istri yang baik yang nurut sama suami."
"Iya pak." Ucap Siska tunduk.
"Syukuri rezeky sekecil apapun, semoga berkah." Iwan terus menasehati anaknya.
"Hmmm kayaknya nyindir ini, ibu ga pernah bersyukur gitu." Nia cemberut pada Iwan.
"Bukan begitu bu, kita kan harus nasehati nak kita, supaya langgeng." Iwan menatap istrinya bingung.
"Apa kakak mau nikah?" Deg hati Elisa seakan berdetak kencang.
Entah perasaan apa yang Elisa rasakan, sedih atau bahagia. Tapi, kenapa justru kabar bahagia. Elisa justru akan menangis.
"Ya Allah kenapa perasaanku sedih gini ya." Elisa menyandarkan dirinya ditembok.
"Hiks hiks hiks !" Elisa berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut. Siskapun masuk kedalam kamar, Elisa dari tadi belum makan malam. Siska hendak memanggil adiknya.
"Eh apa ini, bukunya belum dirapikan. Dia sudah tidur." Siska menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
Siska merapikan buku-buku Elisa, lalu mendekati adiknya.
"Dek kamu sudah tidur?" Siska menggoyangkan tubuh Elisa dengan pelan.
Elisa pura-pura sudah terlelap tidur, padahal dia menahan untuk tidak menangis.
"Dek kakak mau cerita sama kamu?" Ujar Siska lirih.
"Kakak harus nikah, kakak sudah dewasa. Mau tidak mau kita akan berpisah." Ujar Siska lemah.
__ADS_1
"Kakak sayang kamu dek, tapi tidak mungkin kakak sendiri terus. Pasti kakak akan nikah dan ikut suami." Siska membelai kepala Elisa yang tertutup selimut.
Air mata Elisa menetes deras didalam selimut. Diapun tak tahan menahan tangisnya, lalu membuka selimutnya.
"Loh kamu nangis?" Siska tampak terkejut lalu bangun dari tidur.
Elisa menganggukkan kepala. Lalu memeluk kakaknya.
"Huks huks huks!" Elisa menangis sesenggukan dipelukan Siska.
Siska tau jika adiknya pasti sedih jika harus berpisah dengannya, karena dari kecil dia tidak pernah berpisah.
"Kakak mau nikah, trus aku sama siapa? Hiks hiks" Elisa memeluk erat kakaknya.
"Eh ga boleh ngomong gitu, ada ibu dan bapak sayang. Kakakpun pasti akan sering kesini kok".Siska berusaha menenangkan Elisa.
"Tapi kak, Elisa pasti kesepian."
"Dek kamu rela kakak ga nikah sampai tua?" Siska tersenyun pada adeknya.
Elisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Jadi, kakak harus gimana." Siska melepas pelukan Elisa lalu duduk diranjang.
"Ya udah kakak boleh nikah asal jangan lupain Elisa." Elisa duduk disamping Siska dan bergelayut manja.
"Hahahah kamu ini, mana ada kakak lupa sama adiknya. Apalagi adik secantik kamu." Siska mencubit pipi Elisa.
Merekapun tertawa, lalu bersiap untuk tidur. Elisa sudah terlelap. Siska menatap wajah adiknya.
"Aku tau dek, ibu tidak menyayangimu. Tapi ada bapak yang sangat menyayangimu. Semoga Allah selalu melindungimu." Siska menatap Elisa sedih.
__ADS_1
~ Jangan lupa like dan komennya ya. Jika berkenan kasih vote ya. Terimakasih.