
Pagi ini adalah pagi pertama Elisa sah menjadi seorang istri. Ketika bangun dia terkejut disampingnya seorang laki-laki masih terlelap karena kecapean resepsi. Entah mengapa dalam hati Elisa ada seperti yang mengganjal, sesak pengen nangis. Karena keputusannya menikah dengan orang yang sama sekali tidak dia cintai.
Balas budi, merasa tidak enak. Dan karena kebaikan Faisal selama ini. Alasan Elisa menerima Faisal untuk menjadikan dia istri. Farhan yang dia cintai, selama 3 tahun tidak pernah memberi kabar dan tidak pernah datang menemuinya. Tapi, sampai saat ini Elisa masih mengingat Farhan. Dadanya terasa sesak jika mengingat dia sudah sah menjadi nyonya Faisal.
"Sayang, awas teriris tangannya." Faisal memeluk pinggang Elisa dari belakang dan menempelkan dagunya dibahu Elisa.
Elisa yang mengiris bawang terkejut, karena dari tadi bengong memikirkan Farhan.
"Hm, nggak bang. Sudah biasa!" Ucap Elisa berusaha melepas pelukan suaminya.
Tapi Faisal justru semakin erat memeluk istrinya manja. "Sayang, aku sangat mencintaimu!" Bisik Faisal ditelinga Elisa.
Degggggggg
Hati Elisa tambah sesak, ada penyesalan. Dan ada rasa tak tega, karena dia sadar hati dia masih untuk laki-laki lain.
"Sayang, kamu berhenti kerja aja ya. Biar abang aja yang kerja, kamu urus rumah." Ucap Faisal melepas pelukannya dan berdiri disamping Elisa.
"Ya bang." Jawab Elisa lirih.
"Ya udah, abang mandi dulu baru kita sarapan." Faisal mengecup kepala Elisa dari samping dan meninggalkan Elisa dengan raut wajah yang bahagia.
Elisa berhenti mengiris bawang, dia berdiri mematung melihat suaminya menjauh. Hatinya bagai teriris, ingin rasanya berteriak. Tapi, semuanya sudah terjadi. Banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya, takut jika Farhan masih setia. Dan ada kemarahan dalam dirinya, mengapa Farhan melupakan dirinya begitu saja.
"Hm, masakan istriku pasti enak." Ucap Faisal saat melihat makan dimeja.
__ADS_1
Elisa tersenyum dan mengambilkan nasi dipiring Faisal . Mereka makan berdua, Faisal menatap wajah ayu Elisa tanpa makeup tanpa perduli Elisa merasa kikuk.
"Sayang, semoga secepatnya kita dikasih momongan ya." Ucap Faisal disela-sela makan.
"Uhuk" Elisa kesedak.
"Ini minum, sayang. Pelan-pelan kalau makan." Faisal memberikan air putih.
Selesai sarapan Faisal bersiap untuk kerja, walaupun habis menikah. Dia tidak libur dan tetap bekerja.
"Sayang, jaga diri dirumah ya. Sampai ketemu nanti malam, dandan yang cantik untuk abang ya. Abang sudah belikan baju untuk kamu pakai nanti malam." Ucap Faisal tersenyum dan mengerdipkan matanya.
Elisa hanya tersenyum, dan memasangkan dasi suaminya. Faisal menarik pinggang Elisa, lalu memeluk erat.
Deg deg deg
"Bang, abang harus berangkat. Nanti terlambat!" Elisa berusaha melepas pelukan suaminya.
"Hehehe, iya sayangku." Faisal mencium kening Elisa.
"Miss u sayang!" Faisal tersenyum dan berlalu dari hadapan Elisa.
Elisa dirumah sendiri, perasaannya tak karuan. Dia duduk lemas disofa, hatinya sangat sakit sekali. Farhan, Farhan selalu menghantui pikirannya.
"Ya Allah, dosakah diriku. Aku sudah menikah dengan Kak Faisal. Tapi hatiku untuk pria lain." Bulir-bulir air mata menetes di pipi ayunya.
__ADS_1
Elisa mengambil kotak hadiah yang dikasih oleh suaminya. Dan membukanya, betapa terkejut Elisa ketika melihat isi hadiah.
"Astaga, apa ini? Apa aku harus pakai pakaian seperti ini." Elisa melihat gaun tidur yang sangat terbuka.
Malam nanti adalah malam pertama dirinya dan Faisal sebagai pasangan suami istri. Mau tidak mau dia harus melakukan kewajibannya. Dan Faisal sudah memberikan pakaian untuk dia pakai nanti malam.
"Bagaimana ini?" Elisa begitu panik. Belum siap melakukannya dengan Faisal.
Elisa tidak semangat mengerjakan pekerjaan rumah. Sambil nyuci piring dia bengong memikirkan apa yang akan terjadi dimalam pertamanya. Dengan laki-laki yang tidak dia cintai, hanya karena merasa berhutang budi dia menerima Faisal sebagai suami.
Sementara Farhan masih sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Dia harus lebih giat belajar, agar bisa selesai tepat waktu dan segera menemui Elisa.
Dreggggggggg
"Hallo ma." Jawab Farhan lirih.
"Nak, kamu kenapa sih kalau sama Putri masih saja cuek?" Ucap mamanya lembut.
"Kenapa sih ma, kalau tidak bahas Putri sekali saja? Setiap nelfon Putri saja yang dibahas." Ucap Farhan kesal.
"Farhan, Putri itu cinta sama kamu. Papa kamu sama papanya itu rekan bisnis, jadi kami lebih setuju jika kamu sama Putri bersatu!" Ujar mamanya tegas.
"Aku tidak pernah mencintai Putri, aku hanya mencintai Elisa." Jawab Farhan ketus.
"Elisa, Elisa terus dari dulu. Mama sengaja tidak memperbolehkan kamu pulang karena mama tidak suka kamu berhubungan sama dia. Emangnya dia selefel sama kita?" Mamanya tampak emosi.
__ADS_1
"Sudahlah ma, percuma ngomong sama mama!" Farhan memutuskan panggilan telfon.
~Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like vote dan komennya. Jika berkenan Vote ya. Jangan lupa tinggalkan jejak, karena akan membuat penulis semakin semangat berkarya. Terimakasih🙏