
Semenjak kedatangan Farhan Elisa tampak murung tidak seperti biasanya. Dia lebih banyak diam dibanding dengan hari-hari sebelumnya dia terlihat kuat walau badai sebesar apapun menerjang.
Kali ini Elisa tampak rapuh, sudah lama dia berusaha mengubur rasa cintanya pada Farhan semenjak keputusannya menikah dengan Faisal dan berharap Farhan sudah menemukan penggantinya. Tapi, kenyataannya Farhan datang dan tetap setia akan cintanya.
"Bu, nggak biasanya ibu selalu murung gini?" Rita menghampiri Elisa di meja kerjanya, sebuah rancangan Elisa yang belum diselesaikan ada di depan Elisa.
"Entahlah Rit, kali ini aku benar-benar rapuh. Mungkin selama ini aku kuat, tapi untuk kali ini rasanya aku tidak kuat Rit." Ucap Elisa matanya berkaca-kaca.
"Bu, apa karena pria yang datang kemarin?" Tanya Rita hati-hati dia duduk di kursi depan Elisa.
"Iya Rit, dia itu kakak SMA aku dulu. Dia laki-laki pertama yang membuat aku jatuh cinta, dan dia mencintaiku Rit."
"Terus, apa salahnya ibu membuka hati lagi untuk dia bu."
"Tidak semudah itu Rit, aku sudah menghianati dia. Dia,..." Elisa menceritakan semua pada Rita dari awal kenal, dekat dan janji mereka sampai Farhan datang menemui dia.
"Jadi dia seorang dokter bu?" Ucap Rita bangga.
"Iya Rit, Alhamdulillah dia sekarang sudah jadi dokter." Ucap Elisa tersenyum tapi matanya berkaca-kaca.
"Bu, ibu harus semangat kayak yang aku kenal. Ibu nggak boleh rapuh." Ucap Rita memberi semangat.
"Berat Rit, aku tidak menyesal sudah pernah menikah. Karena sekarang aku punya Vino. Tapi, ketika aku melihat kak Farhan kemarin datang dan mengatakan alasannya dia tidak pernah menghubungiku, rasanya hati aku hancur Rit. Aku sudah menghancurkan hatinya." Ucap Elisa air matanya membasahi pipi.
"Bu, apa yang ibu takutkan. Ibu sudah pisah sama pak Faisal, saatnya ibu bahagia dengan cinta lama ibu. Nggak ada yang salah ibu." Ucap Rita memberi semangat.
"Enggak Rit, aku nggak pantas buat dia. Biarlah dia bahagia dengan wanita yang lebih baik dari aku." Ucap Elisa menghapus air matanya.
Rita terdiam menatap Elisa dia bingung mau mengatakan apa. Rita tau Elisa masih menyimpan rasa cinta yang besar buat Farhan. Dan Rita tau Elisa tidak bersalah dalam hal ini, Elisa pernah menceritakan padanya bagaimana perjuangan berat hidupnya sampai dia harus menikah dengan Faisal.
Elisa berusaha semangat lagi, dia meraih desainnya lalu meneruskan menggambar. Rita melihat bosnya itu dia pun sedih kapan bos sekaligus orang yang dia anggap kakak hidupnya benar-benar bahagia.
__ADS_1
Rita tau bosnya sudah sukses, tapi kebahagiaan seutuhnya bukanlah harta. Tapi kehidupan yang utuh yang menerima dan mencintai Elisa dengan statusnya.
Rita melanjutkan pekerjaannya, dan tersenyum ketika melihat bosnya sudah sibuk dengan desainnya.
"Semoga secepatnya ibu menemukan kebahagiaan ibu seutuhnya." Rita menatap ke arah Elisa sambil merapikan pakaian di patung.
Saat Rita sibuk merapikan pakaian di patung, datang pengunjung wanita cantik dan modis, kulit putih rambut lurus sebahu tinggi ramping. Dia datang bersama kedua wanita muda.
"Selamat datang di butik kami." Ucap Rita lembut.
Wanita itu tersenyum sinis dan melangkah masuk ke dalam sambil melihat koleksi pakaian hasil rancangan Elisa.
"Wah beb, ini cantik ya cocok nggak buat aku?"
Deggggg, jantung Elisa seakan berhenti berdetak. Dia mengenal itu suara Putri kakak kelasnya dulu yang sangat membenci dia, bahkan dia juga mencintai Farhan.
"Beb, kurang cocok kayaknya ini untuk acara menghadiri pesta. Yang cocok itu kebaya, sipp banget untuk acara lamaran kamu." Ucap salah satu teman Putri.
"Iya sih, hmm benar juga ini cocok buat aku. Aku harus tampil perfect secara calon aku ganteng banget, dokter lagi. Aduh bakal keren kan yang dengar pasti iri deh. Xixixixixixi." Ucap Putri bangga.
"Jadi, ternyata kak Farhan akan tunangan. Ternyata aku hanya gr waktu dia datang sebenarnya hanya ingin memberi tau kalau dia mau tunangan." Elisa diam menatap kearah Putri.
"Mbak, mana ya yang punya butik ini?" Ucap Putri tak sabar.
"Oh ada saya panggilkan dulu ya."
Rita menghampiri Elisa yang duduk tak jauh dari Putri berdiri hanya ada penghalang dinding kaca yang tembus pandang.
"Iya Rit." Dengan lesu Elisa beranjak dari kursinya.
"Ada yang bisa saya bantu mbak." Ucap Elisa lembut.
__ADS_1
Putri terkejut lalu menoleh ke arah suara.
"Kamu?" Ucap Putri raut wajahnya masih benci dengan Elisa.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" Elisa berusaha tenang.
"Hm, jadi kamu Elisa yang terkenal sekarang yang dulu penjual kue keliling." Ucap Putri tersenyum sinis, ke dua temannya hanya diam di samping Putri.
Elisa hanya diam dan tidak menanggapi kata-kata Putri. Dia malas menanggapi hal tidak penting, dalam hidup Elisa tidak ada kata mendengar hal yang membuatnya terpuruk.
"Maaf mau pesan apa, jika tidak maaf kami sibuk." Ucap Elisa tersenyum.
Rita yang mendengar ucapan Elisa merasa senang, karena Elisa bisa melawan secara halus.
Putri yang mendengar ucapan Elisa hatinya tambah panas.
"Hemm, sebenarnya aku mau pesan kebaya ya. Tapi, ini lamaran aku hari spesial banget. Tapi, pakaian di sini nggak lefel buat aku. Jadi nggak jadi." Ucap Putri kesal lalu berlalu dari hadapan Elisa.
Elisa hanya diam dan sabar menanggapi ucapan Putri yang memang sangat membencinya.
Putri kembali lagi menghampiri Elisa.
"Oya, Elisa besok aku lamaran sama Farhan. Emm, tunggu undangan pernikahan aku ya." Ucap Putri tersenyum penuh kemenangan lalu meninggalkan butik Elisa.
Rita kesal dengan wanita yang sudah merendahkan bosnya itu.
"Bu, sombong banget itu cewek. Kalau aku sudah aku tarik-tarik itu rambutnya. Belagu amat, palingan lebih kaya ibu." Ucap Rita kesal.
"Husttt, jangan membandingkan hidup kita dengan orang lain." Ucap Elisa lembut lalu kembali kekursinya.
"Farhan mau tunangan, gimana sih ceritanya?" Bisik Rita bingung.
__ADS_1
Elisa meneruskan pekerjaannya seakan tidak terjadi apa-apa. Padahal hanya dia yang tau bagaimana perasaannya. Perih, sakit yang Elisa rasakan tapi berusaha menerima. Dan mendoakan Farhan bahagia.
**Jangan lupa like dan komen. Vote ya, terimaksih.