
Setelah acara khitbah Farhan dan Elisa mempersiapkan keperluan untuk acara pernikahan mereka. Beberapa hari ini Farhan sibuk mengurus apa saja yang dibutuhkan untuk pernikahan mereka. Sedangkan Elisa sibuk mempersiapkan undangan dan souvenir pernikahan.
Saat akad dan resepsi nanti, Elisa sudah menyiapkan gaun pengantin hasil rancangannya. Semua urusan tentang akad dan resepsi Elisa yang mengurus. Sedangkan Farhan yang membiayai semua keperluan pernikahan.
Undangan sudah selesai dicetak, gaun pengantin pun sudah siap. Elisa terlihat bahagia menyambut hari bahagianya nanti. Elisa juga mempercayakan wedding organizer ternama untuk mengurus tempat acara pernikahan yang diadakan di rumah Elisa. Dengan memasang tenda di halaman rumahnya.
Rita pun bahagia melihat Elisa yang terlihat semakin berseri-seri semenjak pertunangannya dengan Farhan. Meski tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya, Elisa pun masih sibuk di butik melayani pelanggannya.
"Bu, apa ibu tidak capek? seharusnya ibu istirahat biar Rita yang mengurus semuanya." Ucap Rita menghampiri bosnya yang selesai menemui pelanggannya. Meskipun banyak karyawan, Elisa tetap berada di butik melayani pelanggannya.
"Enggak Rit, justru semakin sehat. Kalau di rumah aja malah capek, kan udah biasa kerja." Jawab Elisa tersenyum. Rita tersenyum melihat semangat bosnya itu.
Rita pun beranjak meninggalkan bosnya yang tengah mendesain sebuah gaun dan menemui pelanggan yang baru datang. Elisa terlihat serius di meja kerjanya sambil merancang gaun pesta.
Tiba-tiba ponsel Elisa berdering. Nomor baru yang tidak tersimpan di hpnya. Elisa meraih ponselnya dan menjawab panggilan telepon.
"Assalamualaikum, dengan Elisa di sini. Maaf dengan siapa ini?" tanya Elisa menyangka pelanggan yang sedang menghubunginya.
"Wa'aalikumussalam!" jawab seorang laki-laki yang tak asing lagi di telinganya. Elisa terkejut dan seketika membisu.
"Elisa, maaf apakah kamu masih mengingatku?" tanya laki-laki itu membuat Elisa sadar dari lamunannya.
"Iya bang, bagaimana kabar bang Faisal?" tanya Elisa lirih.
"Alhamdulillah sehat, bagaimana kabar kamu dek?" tanyanya lembut.
"Alhamdulillah baik, maaf ada apa bang menghubungi saya?" tanya Elisa lirih dan seakan malas berbicara dengan orang yang pernah menyakitinya. Elisa pun bingung dari mana dia mendapat nomor hpnya, karena Elisa sudah mengganti nomor hpnya.
"Elisa, apakah aku sudah tidak boleh menghubungimu, Elisa bagimana kabar Vino?"
"Dia sehat!"
"Alhamdulillah, Elisa kamu bisa kan temui abang di restauran. Tolong kamu datang bersama Vino, bang sangat merindukannya." Pinta Faisal dengan nada memohon.
__ADS_1
"Baiklah." jawab Elisa dengan nada tidak senang.
"Terimakasih Elisa, bang tunggu di restauran nanti bang kirim alamatnya." Ucap Faisal lega dan merasa senang karena Elisa masih mau menemuinya.
Setelah mengucapkan salam, panggilan telepon pun terputus. Elisa termenung mengapa tiba-tiba mantan suaminya menghubunginya. Setelah sekian lama tidak pernah menanyakan kabar anaknya, mengapa baru sekarang dia menanyakan kabar. Disaat Elisa sudah bisa melupakan rasa sakitnya dan melupakan dia, kini dia muncul kembali.
Elisa meraih tasnya dengan malas lalu menghampiri Rita yang tengah duduk sambil mengotak atik poselnya.
"Rit, aku keluar dulu." Ucap Elisa tersenyum lesu.
"Iya bu." Jawab Rita tersenyum dan mengira bosnya itu akan pergi dengan calon suaminya.
Elisa dengan malas menuju restauran dia membawa mobilnya sendiri tanpa sopir. Faisal sudah menunggunya dan berharap dia datang bersama Vino.
Sampailah Elisa di restauran yang ditentukan oleh mantan suaminya. Elisa turun dari mobil dan masuk ke restauran mencari keberadaan Faisal. Faisal melihat Elisa datang lalu melambaikan tangannya sembari tersenyum. Elisa membalas senyuman kecut di bibirnya.
"Selamat datang dek," sapa Faisal saat Elisa sudah ada di depannya, Elisa hanya membalas dengan sunyum kecut di bibirnya.
Faisal mengulurkan tangannya, Elisa membalas dengan menangkupkan kedua tangannya di dada. Elisa lalu duduk tepat di depan Faisal.
"Vino mana dek?" tanya Faisal saat sadar Elisa datang tanpa Vino.
"Oh, iya itu bang maaf. Tadi, Elisa langsung dari butik. Vino di rumah sama baby sisternya." Jawab Elisa dengan nada malas.
"Oh begitu, abang sangat rindu dengan kalian." Ucap Faisal matanya berkaca-kaca. Elisa terkejut mendengar perkataan mantan suaminya itu. Elisa hanya diam dan seakan tidak nyaman ngobrol dengan laki-laki yang sudah mencampakkannya.
Faisal sudah mendapatkan balasannya. Dia dulu rela meninggalkan Elisa demi wanita lain. Sekarang wanita itu meninggalkannya demi pria lain. Faisal menyesal sudah mencampakkan Elisa dan memilih pergi bersama wanita lain.
Seketika hati Elisa sakit saat berada di depan mantan suaminya itu. Kenangan masa lalu yang sangat menyakitkan terngiang di benaknya. Laki-laki yang dia anggap bisa melindunginya justru menggores luka yang dalam di hatinya.
"Elisa kamu mau makan apa?" tanya Faisal dengan tatapan sayu.
"Terimakasih bang, Elisa tidak bisa lama-lama di sini." Jawab Elisa menolak untuk makan karena sudah merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Faisal memanggil pelayan dan hanya memesan jus orange. Faisal menatap lembut Elisa membuat Elisa risih dan tidak nyaman.
"Elisa, abang ke sini ingin meminta maaf padamu!"
"Sebelum abang minta maaf, Elisa sudah memaafkan abang." Jawab Elisa lirih.
"Benarkah, Alhamdulillah." Ucap Faisal bahagia, tangannya meraih tangan Elisa. Tapi, dengan cepat Elisa menghindar dan menjauhkan tangannya.
Faisal tersenyum menatap Elisa. "Dek, abang sadar abang sudah menyakitimu. Meninggalkan kamu dan Vino, abang ingin menebus kesalahan abang pada kalian."
Elisa bingung menatap Faisal. Elisa tidak mengerti dengan maksud perkataan mantan suaminya itu. Faisal tersenyum melihat mantan istrinya bingung dengan ucapannya. Pelayan datang membawa minuman untuk mereka. Faisal meneguk jus lalu tersenyum menatap Elisa, Elisa hanya diam dan menunduk.
"Dek, abang mau kita rujuk!" ucap Faisal tersenyum yakin ajakannya akan diterima Elisa. Bagai petir yang menyambar, Elisa terkejut dan refleks menatap Faisal. Faisal tersenyum menatap Elisa, Elisa lalu mengalihkan pandangannya. Jantungnya berdetak kencang menahan amarahnya.
Selama ini Elisa sudah sangat sabar, dicampakkan saat dia hamil. Sekarang dengan mudahnya laki-laki yang pernah menyampakkannya datang dan mengajaknya kembali saat dirinya sudah melupakan dan akan menjalani kehidupan yang baru.
"Bang maaf Elisa tidak bisa." Ucap Elisa berusaha tetap lembut.
"Kenapa dek, apa kamu masih membenciku?" tatapan Faisal sendu.
Elisa berusaha tersenyum. "Elisa tidak pernah membenci abang, semua yang sudah terjadi itu sudah takdir. Bang, Elisa ke sini menemui abang hanya ingin memberikan sesuatu pada abang!"
Elisa mengambil sesuatu di dalam tasnya, undangan pernikahan berwarna silver. Faisal menerima dengan seribu tanya dibenaknya.
"Apa ini Elisa?"
"Abang datang ya dipernikahan kami, lima hari lagi!" ucap Elisa berusaha tersenyum.
Deg, detak jantung Faisal seakan berhenti berdetak. Seketika perasaannya hancur, penyesalannya pun tiada arti. Kini harapan untuk kembali pada Elisa sudah tidak ada lagi. Matanya terlihat memerah karena menahan sedih dan kecewa.
Elisa beranjak dari duduknya dan tersenyum. "Terimakasih bang, meskipun kita sudah tidak bisa sama-sama lagi. Vino tetap anak abang, sampai kapan pun abang bisa menemui Vino."
Faisal menunduk sedih tanpa bisa berkata apa-apa. Perasaannya sangat hancur, dia menyangka Elisa masih mencintainya dan berharap kembali padanya. Tetapi, nyatanya dia sudah mempunyai penggantinya.
__ADS_1
Elisa mengucapkan salam dan dibalas salam dengan suara lesu dan menunduk. Faisal memegang kepalanya sedih, hancur perasaannya benar-benar hancur menerima kenyataan Elisa tak sendiri lagi.
Elisa meninggalkan Faisal dengan perasaan sedihnya. Meski Elisa pernah dihianati, tetapi Elisa tidak ingin membenci ayah dari anaknya. Elisa ingin selalu memaafkan dan berdamai dengan masa lalunya. Itu cara dia bisa hidup bahagia dan tenang menjalani hari-hari selanjutnya.