
Bisik-bisik teman sekolah, ketika Elisa lewat didepan mereka. Tampak mereka sedang berbisik-bisik sambil tertawa. Tini merasa heran dengan teman-teman disekolahnya. Tapi Tini berusaha tidak menghiraukan dan asyik bercanda dengan Elisa sambil berjalan menuju kelas.
"Hahahahhaha!" Suara tawa terdengar saat Elisa dan Tini masuk kedalam kelas.
"Heh kenapa kalian tertawa saat kami masuk, kami salah apa?" Ujar Tini keras.
"Sudahlah Tin, mungkin mereka tidak menertawakan kita." Elisa menarik Tini untuk duduk.
"Tidak Elisa, mereka menertawakan kita. Dari luar tadi banyak yang bisik-bisik." Ujar Tini sebal.
"Ah itu hanya perasaan kamu." Elisa tersenyum lalu duduk dikursi.
"Eh Tini, kenapa kamu mau sahabatan sama penjual kue itu. Hahahahaha...!" Ujar salah satu temannya yang bernama Erik.
Tini terkejut lalu berdiri
"Apa maksud kamu Erik, dengan menuduh Elisa berjualan Kue." Tini bertolak pinggang dihadapan Erik.
Elisa hanya diam tanpa memperdulikan ejekan mereka.
"Eh Tini, semua sudah tau jika gadis miskin yang sombong ini adalah penjual kue keliling." Suara Erik semakin keras.
Tini menatap Elisa yang hanya diam saja.
"Jaga mulut kamu Erik!" Tini mengacungkan telunjuknya dimuka Erik.
"Kenapa saya harus menjaga mulut saya, itu kenyataannya dia hanya gadis miskin yang sombong." Erik tersenyum sinis.
Elisapun sakit mendengar perkataan temannya, lalu dia memilih diam dan berlari keluar kelas.
Tini melihat Elisa keluar, tapi dia tetap bertahan menghadapi mereka.
__ADS_1
"Eh Erik, asal kamu tau aku lebih bangga punya teman seperti Elisa si penjual kue keliling. Dari pada harus berteman dengan kamu...!" Ujar Tini keras sambil berlalu.
"Hey Tini, kasih tau sahabatmu itu jangan sombong!" Erik berteriak keras.
Tinipun seketika berhenti dan menoleh kearah Erik.
"Eh cowok sombong, pantas kamu ditolak sama Elisa. Kamu gak pantas dapetin Elisa paham kamu!" Ujar Tini sambil tersenyum sinis, lalu pergi menyusul Elisa.
Erik tampak diam dan merasa malu karena sudah dipermalukan dihadapan satu kelas.
Tini mencari-cari keberadaan Elisa.
Mata Tini kesana kemari, celingak-celinguk dimana sahabatnya itu.
"Ehhh...Tini, kamu sendiri? Farhan tiba-tiba muncul.
"Ea kak, Elisa dimana ya?
"Iya kak ga papa" Tini tersenyum lalu berlalu.
"Hm udah kayak jelangkung aja kamu say!" Tini menepuk pundak Elisa.
Elisa menoleh dan tersenyum.
"Baca apa sih serius amat." Tini melihat buku yang dibaca Elisa.
"Ini cerita kasih sayang seorang ibu pada anaknya" Elisa menjawab sambil tersenyum
"Ohhh seperti itulah ibu say, dia akan menyayangi anaknya. Bahkan nyawapun taruhannya." Tini duduk disamping Elisa.
Elisa berfikir, jika seorang ibu menyayangi anaknya bahkan nyawa taruhannya. Mengapa ibunya sangat membencinya. Elisa diam.
__ADS_1
"Say kamu gak marah dengan kata-kata mereka?" Tini merangkul Elisa.
Elisa menoleh dan tersenyum.
"Kenapa marah say, yang dia katakan memang benar?" Ujar Elisa lirih.
"Apajadi kamu penjual kue keliling?" Tini pura-pura terkejut lalu berdiri dihadapan Tini.
"Emang kenapa kalau aku penjual kue keliling, kamu ga suka sahabatan sama aku." Elisa menatap sedih.
"Hahahahaha sahabatku, ini yang aku mau. Kamu harus kuat, aku bangga sama kamu." Tini tersenyum dan memeluk Elisa.
Elisapun memeluk sahabatnya.
"Terimakasih sahabatku, kamu sudah sudi berteman denganku." Ujar Elisa lirih.
"Elisa, kamu adalah sahabat terbaikku. Aku tidak perduli status sosial kamu. Yang aku mau ketulusan hatimu." Tini tersenyum bahagia.
Dari kejauhan Farhan menatap bahagia kedua gadis yang bersahabat sangat tulus, Farhanpun bangga pada Elisa dia gadis yang sabar dan kuat.
Farhan tidak peduli status sosial Elisa, Farhan mencintai Elisa karena ketulusan hatinya. Elisa beda dengan wanita lain. Elisa berjuang untuk biaya sekolahnya. Tidak ada alasan Farhan berpaling dari Elisa, walaupun Farhan tidak tau perasaan Elisa padanya. Karena satu kalipun Farhan belum mengutarakannya.
"Hm aku kagum padamu gadis cantik!" Farhan tersenyum menatap Elisa dari kejauhan.
Putri dari jauh melihat Farhan yang sedang menatap Elisa, Putri sangat marah. Dan ada kebencian dalam hatinya, menyusun niat akan memepermalukan Elisa lagi.
"Tunggu saja nanti gadis kampung, pembalasan karena kamu berani merebut Farhan." Putri lalu pergi kekelas dengan perasaan jengkel.
Sedangkan Elisa bergandengan tangan dengan Tini sambil tertawa menuju kelas, tanpa menghiraukan bisik-bisik temannya.
~ Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dankomennya. Terimakasih🙏
__ADS_1