
Bagas dan Laras akan pergi kejogja hari ini. Untuk mencari keberadaan anaknya. Karena Marni sudah pulang kekampungnya.
"Ma sudah siap belum. Kita harus buru-buru kebandara nanti kita ketinggalan pesawat." Bagas berteriak dari luar kamar.
"Iya pa sudah!" Laras muncul dengan terburu-buru.
Bagas tersenyum melihat istrinya sangat bahagia dan sangat cantik hari ini.
"Hmmm cantik istri papa?" Puji Bagas sambil mengulurkan tangannya.
Laras hanya tersenyum lalu meraih tangan bagas, mereka bergandengan tangan menuju mobil. Asisten rumah tangga dan sopir sangat bahagia melihat pasangan yang romantis ini.
"Pak sopir cepat ya!" Ucap Laras tak sabar.
"Iya bu." Jawab sopir sambil melajukan mobilnya.
"Pa, mama tidak sabar ketemu anak kita pa!" Laras bergelayut manja pada suaminya.
"Iya ma papa juga." Bagas membelai pipi istrinya.
Tibalah mereka berdua dibandara, mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Tampak raut bahagia diwajahnya, seperti pasangan yang baru menikah. Setiap mata memandang pasti akan iri melihatnya.
Selama didalam pesawat Laras tak melepaskan pegangan tangannya dilengan Bagas. Dia membayangkan akan berkumpul bertiga saling menyayangi tak akan terpisah lagi.
Sampailah mereka dikota Jogja, kota yang ramah kota pendidikan itu. Hati Laras sangat bahagia sekali.
"Ma masih jauh tidak dari kota?" Bagas tampak bingung.
"Entahlah pa kita tanya supir taksi saja." Ujar Laras melambaikan tangannya memanggil taksi.
"Pak kalau dari kota kedesa ini apakah masih jauh?" Laras menunjukkan sebuah alamat.
"Oh itu bu, 2 jam dari sini bu." Ucap sopir sopan.
"Bapak bisa antar kami?" Ucap Bagas.
"Iya pak bisa, tapi ongkosnya mahal pak.
__ADS_1
"Oh kalau masalah ongkos ga papa, asal bapak antar kami sampai tujuan dengan selamat." Ujar bagas tersenyum.
"Siap pak!" Sopir taksi mempersilahkan mereka masuk.
Diperjalanan, Laras tampak kelelahan dia tertidur dipundak Bagas. Bagas sesekali membelai kepala Laras. Bagaspun tidak sabar ingin sekali bertemu dengan anaknya.
"Pa bu, sudah sampai." Ucap sopir mengagetkan Laras.
"Benarkah pak." Laras terbangun.
"Alhamdulillah ma!" Ucap Bagas senang.
Bagas memberikan ongkos taksi dan bonus kepada sopir karena merasa bahagia.
Bagaspun berjalan menusuri desa yang sangat sejuk, dan masih asri beda dikota yang banyak kendaraan lalu lalang.
"Pak dimana ini alamat rumah?" Bagas bertanya kepada seorang petani yang lewat.
"Oh mari saya antar ke pak RT. Biar nanti pak RT yang antar pak." Jawab petani sopan.
"Assalamualaikum pak RT." Petani itu memberi salam.
"Waalaikum salam mari masuk pak." Pak Rt mempersilahkan dengan sopan.
Bagas menyampaikan maksud kedatangan mereka kedesa untuk mencari mantan asisten rumah tangga istrinya dulu.
"Dia bernama Marni pak, ini foto masa muda nya dulu?" Laras memperlihatkan foto Marni.
"Maaf ada apa bapak dan ibu mencari Marni?" Pak RT menatap gelisah ke Bagas dan Laras.
"Dulu saya pernah menitipkan anak saya sewaktu masih bayi pak." Ujar Laras semangat.
Pak RT mengangguk-angguk. Dan ada raut tidak tega diwajahnya.
"Begini pak bu, mari saya antar kerumahnya." Ujar Pak RT.
"Baik pak, Alhamdulillah ." Laras tampak sangat senang.
__ADS_1
Disepanjang jalan Laras tampak sangat ceria. Tapi pak RT nada biacaranya sudah mulai menyimpan kesedihan.
Tibalah dirumah Marni, pak RT menujukkan rumah yang tampak sudah usang. Yang terlihat lama tak berpenghuni.
"Pak apakah tidak salah ini rumah Marni?" Laras tampak lemas.
"Iya bu ini rumah Marni." Jawab pak RT lirih.
"Terus kenapa seperti tidak berpenghuni pak?" Bagas tampak khawatir.
"Marni sudah lama meninggal pak 13 tahun yang lalu." Ujar pak RT menahan sedih.
"Apa pak ga mungkin pak. Hiks hiks" Laras memeluk suaminya.
Bagas mengelus pundak istrinya dan berusaha tegar.
"Anak saya kemana pak?" Ujar Bagas ingin tau.
"Setau saya Marni tidak membawa anak kesini." Maaf saya tidak tau soal anak pak. Ucap Pak RT iba.
"Pa kemana anak kita, hukssss huks!" Laras sesenggukan didada Bagas.
"Suaminya Marni kemana pak?" Tanya Bagas menahan sakit.
"Suaminya Marni sudah menikah lagi, hanya sekarang tinggal diPalembang." Pak RT menjelaskan dengan wajah tak tega.
Tak terasa bulir air mata Bagas menetes. Dia merasa bersalah. Masa lalu yang membuat anaknya menjadi korban.
"Ya sudah pak, terimakasih. Jika ada kabar suaminya, tolong hubungi saya." Bagas memberikan kontak hp.
"Baik pak, pasti saya kabari. Bapak dan ibu harus sabar. Berdoa terus semoga dipertemukan." Pak RT memegang pundak Bagas.
Bagas mengangguk dan tersenyum. Lalu berpamitan akan kembali kerumahnya. Sebenarnya pak RT menawari untuk mereka bermalam. Tapi bagas memilih untuk pulang.
Sepanjang jalan Laras hanya menangis, tidak peduli sopir atau orang lain yang menatapnya. Hati mereka sangat hancur.
~ Tinggalkan jejak ya like, vote dan komen🙏
__ADS_1