Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps.32


__ADS_3

Perasaan Elisa benar-benar hancur, dia masih hidup tapi seakan jiwanya sudah mati. Haruskah dia menikah dengan orang yang lebih pantas menjadi bapaknya.


"Ya Allah, kenapa hidupku seperti ini. Kenapa, apakah ini takdir yang harus aku jalani. Kenapa bisa laki-laki yang sudah tua itu ingin menjadikanku istri, dengan alasan hutang. Aku harus bagaimana yaRabb." Tangisan Elisa pecah saat berdoa.


"Huks huks!" Batuk Iwan semakin parah.


"Bapak, iya bapak ini alasan aku harus kuat. Bapak orang yang sangat menyayangiku. Aku tidak mau bapak kenapa-napa." Elisa mulai tegar.


"Mungkin ini ujian, untuk menguji keimananku." Ujar Elisa menghibur diri.


Tok tok tok


Nia membuka pintu.


"Eh Pak Ujang, silahkan masuk." Ujar Nia mempersilahkan.


"Ada apa Pak Ujang." Iwan menatap sayu.


"Ini pak, disuruh ngantar kebaya untuk akad nikah sama Juragan.Ada baju juga untuk bapak sama ibu."


Degggggg


Jantung Iwan terasa mau copot, ada rasa marah ingin sekali meluapkan kemarahannya pada Juragan yang tak tau diri itu. Tapi dia sadar, dia terlilit hutang padanya.


"Baiklah pak Ujang, kami terima. Sampaikan rasa terimakasih pada Juragan." Ujar Iwan menahan amarah.


"Baiklah pak Iwan, saya pamit dulu." Ujang meninggalkan Iwan yang sedang menahan amarah.


"Wah sudah datang ternyata, senang punya calon mantu kaya." Nia tampak senang dan membuka bungkusan besar.

__ADS_1


"Hati kamu dimana bu?" Hardik Iwan.


"Elisa itu anak kita, kamu hancurkan masa depannya. Orang tua macam apa kamu?" Iwan merasa kesal.


"Eh pak, bapak mau kita tinggal dijalanan?" Nia melotot pada suaminya.


"Bapak lebih baik tinggal dijalanan dari pada menghancurkan masa depan anak." Ujar Iwan sedih.


"Terserah bapak, Elisa harus menikah dengan Juragan." Bisik Nia dalam hati.


Elisa mendengar perkataan bapak dan ibunya, ingin rasanya Elisa menjerit. Bahkan mengakhiri hidupnya, tapi dia ingat itu semua dosa.


"Kak Siska, Elisa kangen bawa Elisa pergi kak. " Elisa menangis.


Entah mengapa perasaan Laras merasa tidak enak.


Gelas dimeja tiba-tiba jatuh dan pecah.


"Astagfirullah, ada apa ini?" Laras bengong merasakan akan ada sesuatu yang terjadi.


"Ada apa ma?" Bagas menghampiri istrinya.


"Perasaan mama tidak enak pa, seperti akan terjadi sesuatu." Laras duduk dikursi dan merasa lemas.


"Mama jangan berfikir seperti itu, ini biasa. Mungkin tadi gelasnya dipinggir jadi jatuh." Ujar Bagas menenangkan istrinya.


"Lindungi kami yaAllah, lindungi anak kami entah dimanapun dia berada." Bisik Bagas dalam hati.


Bagas memunguti pecahan gelas, hatinya pun merasa khawatir. Jika terjadi apa-apa dengan putri mereka yang lama hilang.

__ADS_1


"Elisa!" Nia memanggil dengan suara keras.


Elisa yang mendengar langsung menghapus air matanya dan keluar menemui ibunya.


"Elisa, lihat ini betapa mewahnya baju pengantinmu." Nia memperlihatkan kebaya mewah berwarna putih.


Elisa melihat tapi pandangannya kosong, hatinya sakit. Ini pernikahan yang tidak akan pernah diharapkan oleh wanita manapun.


Mata Elisa berkaca-kaca menahan tangis.


"Wah cocok, kamu cantik." Puji Nia sambil menempelkan kebaya ditubuh Elisa.


Iwan yang melihat tampak merasakan sesak didada, apakah Elisa akan menjadi korban keserakahan Juragan tua itu.


"Elisa, kamu mandi nak sudah sore." Iwan menyuruh Elisa pergi.


Elisa mengangguk lalu pergi.


"Hiks hiks hiks" Elisa meluapkan kesedihannya dikamar mandi. Hancur hatinya, mengapa ibunya sangat menginginkan dia menikah.


"Ibu, kenapa ibu membiarkan aku menikah dengan Juragan hanya karena harta." Bisik Elisa dalam hati.


"Apakah aku bukan anak kandung?" Elisa mulai berprasangka.


Selesai mandi, Elisa lebih memilih di kamar. Setelah shalat dia tidak keluar kamar, makan malampun tidak.


"Bu kapan ibu bisa menyayangi Elisa, apa dengan menikah dengan Juragan ibu bisa menyayangi Elisa." Bisik Elisa lirih.


~ Jangan lupa tinggalkan jejak, like dan komen. Jika berkenan kasih vote ya. Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2