Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Bab.15


__ADS_3

Hari ini, tidak ada pelajaran disekolah. Semua guru sedang rapat membuat soal semester akhir. Jadi, anak-anak bisa santai disekolah.


Tini tampak bingung mencari-cari Elisa, dari tadi dia tidak melihat dimana Elisa. Kesana kemari Tini mencari Elisa.


"Kemana itu anak, dimana ada dia selalu ada aku, gak biasanya." Mata Tini kesana kemari.


Tiba-tiba Tini melihat seorang siswi berjilbab yang tengah duduk sendiri dibawah pohon, tampak merenung seorang diri.


"Elisa, seperti dia."Tini berlari mendekati kearah siswi itu.


"Hey, astaga disini ternyata. Dari tadi aku mencarimu, eh duduk sendirian disini." Ujar Tini mengagetkan Elisa.


Elisa menoleh kearah Elisa, dia hanya diam menatap Tini.


"Ehhhkamu kenapa, jangan-jangan kesambet lagi?" Tini duduk disamping Elisa.


"Hm!" Elisa menarik napas panjang.


"Sobat, kamu ada masalah apa ceritalah, apalah gunanya sahabatmu ini kalau kamu hanya menyimpan kesedihanmu sendiri." Tini memegang pundak Elisa.


Elisa menatap wajah sahabat yang ada disampingnya dan tersenyum.


"Tini, untuk saat ini biarlah aku sendiri. Jika aku cerita, kamu tak akan mengerti." Elisa memangku tangannya didagunya.


"Elisa, ceritalah tak seperti biasa kamu seperti ini. Jika cerita siapa tau bisa lega."


"Terimakasih Tini, untuk saat ini belum siap. Tinggalkan aku sendiri, aku hanya ingin ketenangan." Elisa memegang bahu Tini.


Tini menatap sahabatnya dengan penuh rasa bingung.


"Baiklah sobat, jika kamu tidak kuat ceritalah sama aku. Aku akan siap kapanpun." Tini beranjak dari samping Elisa.


Elisa tersenyum pada Tini, dan tampak termenung lagi.

__ADS_1


Tini pergi menjauh dari Elisa. Dari kejauhan Tini menatap kearah Elisa, bingung tidak seperti biasanya sahabatnya tampak murung dan sedih.


"Ada apa?" seribu pertanyaan muncul dalam benak Tini.


"EhTinimelamun kamu?" Suara Farhan mengagetkan Tini.


"Eh, kak Farhan."


"Dari tadi aku tidak melihat Elisa, dimana ya?" Ujar Farhan ingin tau.


"Itu." Tini menunjuk kearah Elisa.


"Kenapa dia Tin, kenapa dia termenung sendiri?" Farhan tampak heran.


"Entahlah kak, sepertinya sedang ada masalah." Tini tampak sedih.


"Ya sudah, saya coba kesana dan menghibur dia."


Farhan berjalan menuju kearah Elisa, tapibelok kearah kantin dulu untuk membeli roti. Lalu beranjak ketempat Elisa.


"Eh Elisa, boleh aku duduk didekatmu?" Farhan tampak tersenyum pada Elisa.


Elisa menatap Farhan dan menganggukkan kepala.


"Elisa, ini kamu makan!" Farhan memberikan 1 roti pada Elisa.


Elisa menatap Farhan, dan mengambil rotinya. Tapi lagi-lagi Elisa hanya diam dan tidak memakan roti.


"Hey makanlah, ga baik lo makanan dianggurin."


"Malas kak!" jawab Elisa singkat.


"Elisa, kamu kenapa. Hari-harimu ceria, ada masalah apa sekarang?" Farhan tampak ingin tau.

__ADS_1


"Kak terimakasih kakak sudah baik. Tapi saat ini Elisa hanya ingin sendiri kak." Elisa meminta Farhan untuk meninggalkannya.


Farhan mengerti dan berdiri, dia ingin membiarkan pujaan hatinya tenang.


"Baiklah Elisa, jika kamu butuh aku. Aku siap kapanpun. Makan kuenya ya nanti sakit. Farhanpun pergi dari hadapan Elisa.


Elisa menatap kearah Farhan dan tersenyum.


Dari kejauhan Farhan menatap Elisa, pertanyaan muncul dalam benaknya. Gadis riang dan ceria seperti Elisa ternyata menyimpan kesedihan.


Elisa, tampak sangat sedih. Dia benar-benar tidak bisa melupakan kejadian saat dirumah Juragan. Dan berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya. "Mengapa ibu sangat membenciku?"


Haruskah pergi dari rumah, meninggalkan ibu yang tidak mengharapkannya. Tapi, haruskah meninggalkan bapak dan kakak yang sangat menyayanginya. Elisa gundah memikirkan semua yang terjadi.


Dan mengapa ada laki-laki jahat seperti Juragan, yang ingin merusak masa depannya. Yang pantas untuk dilindungi, dan pantas dianggap sebagai anak. Tak terasa bulir air mata keluar dipipinya.


"Elisa...ini!" Farhan memberikan tisu pada Elisa.


Elisa mengambil tisu dari Farhan lalu menyeka air matanya. Elisa tampak bingung dari kapan Farhan sudah didekatnya.


"Elisa, apapun masalah kamu. Kamu harus sabar, ini ujian." Ujar Farhan lembut.


Elisa hanya mengangguk-angguk.


Yuk pulang, bel sudah berbunyi. Farhan menarik tangan Elisa.


Merekapun pulang kerumah masing-masing. Disepanjang jalan Farhan tampak gelisah memikirkan Elisa. Begitupun Elisa, tampak sedih dengan kejadian yang menimpanya.


~ Jangan lupa like


Dan komennyanya.


Vote juga ya. Jangan lupa. Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2