
Hari ini seperti biasa Farhan bertugas di rumah sakit. Farhan hari ini tampak sibuk dengan pasiennya. Meski sibuk dia masih ingat dengan janjinya untuk bertemu orang tua Elisa.
Farhan tengah memeriksa pasiennya, perawat setia mendampingi Dr. Farhan dalam menangani pasien.
"Saya akan ke ruangan saya, jika ada apa-apa segera hubungi saya!" ucap Farhan pada perawatnya.
"Baik Dok!" jawab perawat lalu memasang impus pada pasien.
Farhan keluar dari ruangan pasien, kembali keruangannya. Badannya sangat letih tapi dia tetap semangat karena sudah menjadi tugasnya.
Farhan melihat jam di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan waktu pulang. Hari ini dia bertugas di RS hanya sampai pukul 15.00, selanjutnya ada Dokter lain yang bertugas.
Farhan keluar dari ruangannya, wajahnya terlihat berseri-seri. Karena sebentar lagi dia akan menemui orang tua Elisa untuk meminta restu. Masih berpakaian seorang Dokter, Farhan berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Banyak pasang mata melihat ke arahnya, mengagumi ketampanannya. Dokter muda yang sangat tampan dan bersahaja.
"Sore Dok," sapa seorang wanita mengejutkan langkahnya saat Farhan berjalan sambil melihat ponselnya.
"Sore Dokter Andin." Jawab Farhan dengan senyuman ramahnya membuat siapapun yang menyapanya merasa senang.
"Sudah mau balik Dok?" tanyanya lembut.
"Iya Dok, saya balik duluan. Selamat bertugas Dok!"
"Baik Dok, silahkan." Jawab Dokter Andin tersenyum.
Farhan berlalu dari hadapan Dokter Andin, Dokter Andin berdiri menatap ke arah Farhan yang berjalan menjauh darinya.
"Dokter, bagaimana aku mengatakan jika aku tertarik padamu." Batin Dokter Andin menatap sayu, Andin mengagumi kepribadian Farhan dan berharap Farhan memiliki perasaan yang sama dengannya.
Dokter Andin, wanita muda yang usianya sama dengan Farhan. Berperawakan tinggi semampai, rambut panjang sedikit keriting. Kulit putih bersih dengan lesung pipit di wajahnya. Banyak pria bahkan Dokter yang bertugas di rumah sakit sama dengannya menaruh hati padanya. Tetapi, hati Andin hanya terpaut pada seorang laki-laki yaitu Farhan.
Andin melanjutkan langkahnya dengan perasaan gelisah, berdebar-debar jantungnya setiap bertemu dengan rekan kerjanya itu. Tapi, selama dia mengenal Farhan, Farhan tidak pernah mengutarakan rasa tertarik padanya.
Farhan berjalan menuju parkir, menyalakan mobilnya. Farhan bersenandung kecil lalu melajukan mobilnya. Masih memakai baju seorang Dokter, Farhan menuju ke butik Elisa.
Sepanjang jalan wajah Farhan tampak berseri-seri. Mimpinya akan segera terwujud, bersanding dengan Elisa wanita yang sangat dia cintai. Awal dari mimpinya bertemu dengan kedua orang tua Elisa untuk meminta restu.
Sampailah Farhan di butik Elisa, terlihat di butik Elisa ada banyak pelanggan. Farhan turun dari mobil dan masuk ke butik. Rita yang melihat kedatangan Farhan tersenyum dan menghampiri Farhan.
__ADS_1
"Sore Dokter," sama Rita ramah.
"Sore Rit, sepertinya bu Elisa sedang sibuk ya?" tanya Farhan dengan senyum lembutnya sembari melihat ke arah Elisa yang tengah berbincang dengan pelanggannya di depan karyanya kebaya yang begitu mewah.
"Iya Dok, ada pelanggan lagi fitting baju pengantin. Biar Rita panggil bu Elisa Dok."
"Eh, jangan Rit. Biar saya menunggu di sini!" Ucap Farhan lalu duduk di sofa.
Rita tersenyum lalu meninggalkan Farhan yang tengah duduk di sofa. Rita menemui pelanggan yang lain, karena butik hari ini tampak rame.
Farhan menatap ke arah Elisa, senyum-senyum melihat ke arah wanita pujaannya itu. Wanita yang benar-benar kuat dan mandiri. Wanita yang sederhana meski memiliki segalanya. Farhan merasa beruntung bisa mengenalnya dan mencintai Elisa.
Tanpa sengaja Elisa melihat ke arah Farhan yang tengah memperhatikannya. Elisa terkejut karena tidak menyadari kedatangannya, namun Elisa tersenyum ke arah Farhan. Farhan membalas senyuman Elisa dengan lembut.
Rita menghampiri Elisa dan mengatakan jika Dokter Farhan sudah lama menunggunya. Elisa meminta Rita untuk menemani pelanggannya dan Elisa menemui Farhan.
"Kak, maaf sudah dari tadi kakak di sini?" tanya Elisa merasa tak enak.
Farhan tersenyum dengan tatapan meneduhkan. "Nggak kok, baru aja aku liat kamu sibuk jadi kakak nunggu di sini!"
"Emm, kakak mau minum apa?" tanya Elisa duduk di depan Farhan.
"Emm, sekarang kak?" tanya Elisa masih bingung.
"Hmm, kalau bisa sekarang kenapa harus nanti. Apa kamu masih sibuk?"
"Nggak kok kak, ada Rita yang mengurus semuanya." Jawab Elisa tersipu.
"Oke, ayo!" Ucap Farhan semangat dan beranjak dari duduknya.
"Rit, saya pergi sama kak Farhan dulu ya."
"Iya bu." Jawab Rita tersenyum senang.
Farhan dan Elisa pun keluar dari butik, Rita menatap ke arah mereka. Rita tersenyum matanya berkaca-kaca melihat bosnya bersama pria yang sangat mencintainya. Rita berharap bosnya bisa mendapatkan kebahagiaan.
Di dalam mobil, Farhan melepas jas putihnya lalu memakai jaket kain. Elisa tersenyum duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kita jemput Vino dulu Elisa?" tanya Farhan melihat ke arah Elisa.
"Iya kak."
Mereka pun menuju ke rumah Elisa untuk menjemput Vino sebelum ke rumah orang tua Elisa.
Sampailah mereka di rumah Elisa, Vino bersama baby sisternya. Elisa masuk ke dalam rumah bersama dengan Farhan.
"Assalamualikum,"
"Wa'alaikumussalam." Jawab Nana sambil menggendong Vino.
"Na...saya mau pulang ke rumah ibu bapak. Vino mau saya ajak."
"Oh iya bu, ayo Vino ikut bunda." Nana memberikan Vino pada Elisa, Farhan tersenyum melihat Vino di gendongan ibunya.
Mereka pun meninggalkan rumah Elisa menuju rumah kedua orang tuanya. Di jalan terdengar suara adzan, Farhan celingak-celinguk mencari masjid.
"Kak, sebaiknya kita shalat ashar dulu." Ucap Elisa lembut.
"Iya ayo!" Jawab Farhan tersenyum, mereka pun menuju masjid.
"Aku shalat dulu Elisa." Ucap Farhan lalu bergegas untuk mengambil air wudhu dan shalat. Elisa bingung bagaimana dia bisa melaksanakan shalat sedangkan Vino tidak mau lepas dari gendongannya.
Farhan pun selesai melaksanakan shalat lalu menghampiri Elisa. "Vino ayo ikut ayah, bunda shalat dulu ya nak!" Farhan mengulurkan tangannya kepada Vino, Elisa terkejut dengan ucapan Farhan. Detak jantungnya seketika berdetak sangat kencang, Elisa tersenyum dan memberikan Vino pada Farhan.
Elisa meninggalkan Vino pada Farhan tanpa sepatah kata pun karena bibirnya seakan sulit untuk berucap. Detak jantungnya semakin tak beraturan, Elisa berdiri menatap ke arah Farhan yang tengah memangku Vino di depan masjid. Farhan terlihat sedang mengajak Vino berbicara, terlihat Vino tertawa entah apa yang dilakukan Farhan pada Vino.
"Vino, apa kamu juga bahagia nak. Apa kamu merindukan seorang ayah?" batin Elisa batinnya terasa teriris meski dia pun merasakan kebahagiaan karna Farhan bisa menerima anaknya.
Mata Elisa tampak berkaca-kaca, dia pun mengambil air wudhu lalu shalat ashar. Selesai shalat, Elisa memanjatkan doa.
"Ya Allah jika kak Farhan jodoh hamba, seorang calon ayah yang tepat untuk Vino. Mudahkanlah urusan kami ya Robb." Batin Elisa dalam doanya.
Selesai shalat Elisa menghampiri Farhan, Vino tampak nyaman di pangkuan calon ayah sambungnya itu.
"Kak, sudah." Ucap Elisa mengejutkan Farhan.
__ADS_1
"Oh iya, ayo. Vino ikut bunda dulu ya nak, ayah bawa mobil. Nanti Vino ikut ayah lagi ya." Farhan mencium pipi Vino lalu tersenyum pada Elisa. Lagi-lagi detak jantung Elisa semakin berdetak kencang. Elisa meraih Vino dan menggendongnya, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke rumah orang tua Elisa.
🌿Jangan lupa like, komen dan vote. Makasih🙏