
Juragan benar-benar marah, atas perlakuan Elisa yang berani menolaknya. Gadis itu berani menolak Juragan yang kaya raya. Dia bisa membelinya dengan hartanya. Keangkuhan dan kesombongan Juragan membutakan mata hatinya.
Tok tok tok
Pintu diketuk sangat keras.
Tok tokk tok
Terdengar lagi ketukan pintu sangat keras, seakan pintu akan didobrak.
Nia yang berada didapur terkejut, dan sangat gemetar. Nia masih berdiri didapur, tidak berani melangkah kedepan.
"Itu pasti Juragan, bagaimana ini." Bisik Nia ketakutan.
Tok tok tok
"Buka, atau saya dobrak pintunya.!" Suara garang Juragan terdengar.
Nia berlari kearah pintu, dan membuka pintunya.
"Ma ... ma ... afff Juragan, tadi saya lagi masak." Ujar Nia ketakutan.
"Hah alasan saja kamu." Juragan tampak memukul meja.
Nia hanya tertunduk ketakutan.
"Hey Nia, anakmu itu sudah berani melawan saya. Kamu tau apa akibatnya. Hah!" Juragan menunjuk muka Nia.
"Hutang kalian terlalu banyak, saya bisa menyita rumah ini."
"Maaf Juragan jangan sita rumah ini." Nia mengatup kedua tangannya meminta maaf.
"Tidak ada kata maaf buat orang yang berani melawan." Ujar Juragan lantang.
__ADS_1
"Saya janji tuan, dia tidak akan melawan tuan lagi. Beri waktu pada kami Juragan." Ujar Nia memohon.
"Baiklah saya kasih waktu sampai dia tidak menolak lagi. Awas kalau kamu ingkar. Juragan mengancam dengan suara tinggi.
"Baik...Juragan."
Juragan lalu meninggalkan rumah Nia.
Nia masih gemetar karena ketakutan, Nia duduk lemas. Hatinya merasa jengkel dengan Elisa. Sudah berani dia melawan ibunya. Perasaan Nia, penuh kemarahan dan kebencian.
"Awas saja kamu sudah berani melawan, anak tidak tau diuntung." Gerutu Nia penuh kemarahan.
Elisa dengan malas melangkahkan kakinya pulang kerumah, ingin rasanya dia kabur. Tapi kemana Elisa sudah tidak punya semangat lagi.
Tapi bagaimanapun juga, Elisa tidak bisa pergi meninggalkan orang tua dan kakaknya.
"Assalamualaikum"
Nia tidak menjawab salam Elisa lalu menarik tangan Elisa.
"Aduh!" Elisa meringis kesakitan.
"Hey kamu pantas dihukum, anak tidak tau balas budi. Hihhhh...!" Nia mencubit lengan Elisa.
"Maaf bu, Elisa salah apa?"Elisa merasa ketakutan.
"Maaf, kamu bisa bilang maaf. Tapi kalau rumah ini sampai diambil Juragan kita mau tinggal dimana?" Ujar Nia dengan nada keras.
"Juragan?" Bisik Elisa dalam hati.
"Kenapa kamu berani menolak Juragan?" Nia mendorong Elisa sampai tersungkur kelantai.
"Ampun bu Elisa tidak bermaksud seperti itu." Elisa memeluk kedua kaki Nia.
__ADS_1
"Lepaskan!" Nia berusaha melepaskan tangan Elisa.
"Bu Elisa minta maaf." Elisa terus memohon.
"Maaf, maaf kamu bilang. Kamu suka jika rumah ini disita, hah?"
Elisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hiks hiks hiks!" Tangisan Elisa pecah.
"Jangan menangis, menangis tidak bisa membayar hutang dijuragan." Nia melotot.
"Elisa akan berusaha bu. Kakak juga kerja kami akan membayar sedikit-sedikit." Jawab Elisa dengan nada sedih.
"Hahahamembayar gaji kamu 3 tahun tidak akan bisa membayar hutang diJuragan. Kamu memang lebih suka ibu dan bapakmu hidup dijalanan."
"Tidak bu, hiks hiks hiks" Elisa tertunduk lesu.
"Ingat kamu Elisa, lain kali sampai kamu mengecewakan ibu. Kamu lebih baik pergi dari rumah ini."Ancam Nia sambil menunjuk Elisa.
"Hiks hiks hiks" Elisa hanya bisa menangis.
Nia meninggalkan Elisa yang sedang menangis sendiri.
"Bapak Elisa takut!"Bisik Elisa lirih.
Iwan masih dikebun, dia tidak tau apa yang menimpa Elisa.
Elisa berlari kekamar, wajahnya tampak sangat kusut karena air mata.
Dia sadar, dia harus shalat. Elisa mengambil air wudhu lalu shalat. Dengan shalat hati Elisa akan menjadi tenang.
Selesai shalat seperti biasa Elisa harus pergi berjualan kue. Seperti itulah Elisa, tidak pernah mengenal lelah membantu orang tuanya. Tapi Ibunya tak pernah melihat perjuangannya. Elisa tetap sabar dan tetap menyayangi ibunya.
__ADS_1
~ Jangan lupa like, vote dan komennya ya. Terimakasih🙏