Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps.34


__ADS_3

Elisa tidak bisa memejamkan mata, besok mulai pagi akan banyak tetangga yang datang dirumah. Membantu menyiapkan untuk acaran pernikahan.


"Ya Allah, tinggal satu hari lagi aku akan jadi istri laki-laki tua itu." Bisik Elisa gelisah.


Elisa mondar mandir didalam kamar perasaannya tak tenang. Tangisannya pecah, hatinya sakit. Dia tidak menyangka hidupnya akan berakhir seperti ini.


"Hiks hiks apakah aku harus jadi istri Juragan, apakah aku harus menderita seumur hidup." Elisa menyenderkan tubuhnya didinding.


Raga Elisa serasa remuk tak ada kekuatan lagi. Berdiripun rasanya tak mampu.


"Kenapa takdir ini begitu kejam ya Allah." Rintih Elisa dalam hati.


Tok tok tok


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu sangat pelan. Elisa menghapus air matanya lalu membuka pintu kamar.


"Bapak kok belum tidur?" Ucap Elisa terkejut.


"Bapak tidak bisa tidur nak, bapak kepikiran kamu." Iwan menatap sedih Elisa.


"Siap-siap, bawa bajumu beberapa saja. Bapak akan antar kamu kabur dari rumah." Bisik Iwan pelan.


"Tapi pak"


"Sudah tidak ada kata tapi, cepat ambil bajumu!"


Elisapun menuruti bapaknya, mereka keluar diam-diam dari pintu belakang. Iwan mengambil sepeda lalu membonceng Elisa.


Malam yang sunyi, mereka menyusuri gelapnya malam. Hati Elisa bahagia, namun ada rasa takut.


"Pak bagaimana besok Juragan marah dan mengusir bapak dari rumah?" Ujar Elisa sedih.


"Sudah ga usah kamu pikir, biarkan bapak tinggal dijalan. Bapak tidak peduli, asal kamu tidak jadi korban keserakahan ibumu dan Juragan." Ucap Iwan sambil terus mengayuh sepedanya.

__ADS_1


"Terimakasih pak, bapak adalah harta terbesar yang Elisa miliki." Bisik Elisa dalam hati.


"Kita mau kemana pak?" Elisa bingung.


"Sudah kamu akan tau, kemana nanti kamu sembunyi, disana pasti aman."


Jam menunjukkan pukul 24.00. Udara yang sangat dingin tidak Iwan hiraukan, padahal dia mempunyai penyakit paru-paru.


Elisa tampak khawatir dengan kesehatan bapaknya.


"Sudah pak kita pulang saja!" Ucap Elisa putus asa.


Iwan hanya diam dan terus mengayuh sepeda.


Tok tok tok


"Hmmm, siapa tengah malam gini, jangan-jangan penjahat?" Gumam Maya.


"Bu bu Maya, ini bapaknya Elisa." Ucap Iwan.


"Loh Elisa ada apa malam-malam begini?" Maya tampak terkejut.


"Bu, hiks hiks!" Elisa memeluk Guru SDnya dulu sambil menangis.


"Ayo masuk pak." Maya memepersilahkan masuk.


"Gini bu, Elisa saya ajak kabur. Dia mau dinikahi Juragan besok lusa bu." Ucap Iwan lesu.


"Astagfirullah pak." Maya terkejut.


"Saya titip Elisa bu, disini pasti aman." Iwan tampak memohon.


"Baiklah pak, Elisa biar sembunyi disini."

__ADS_1


"Terimakasih bu, saya pamit kalau begitu takut ketahuan istri." Ujar Iwan sopan.


"Baiklah pak."


"Pak hati-hati!" Elisa memeluk bapaknya.


Iwan mengelus rambut Elisa lalu tersenyum.Elisa menatap bapaknya yang sudah tua itu kembali mengayuh sepedanya. Rasanya ingin menjerit meluapkan kesedihannya.


"Elisa, kamu tidur ya. Ini sudah larut malam. Kamu tidur sama ibu saja. Suami ibu keluar kota." Maya merangkul Elisa menuju kamar.


Elisa tidak bisa memejamkan matanya, dia membayangkan apa yang akan terjadi besok jika Juragan tau dirinya kabur.


Rumah, apapun yang dimiliki orang tuanya akan diambil oleh Juragan. Dan mereka akan menjadi gelandangan.


"Pagi Elisa" Sapa Maya dengan lembut.


"Pagi bu" Elisa tersenyum terpaksa.


"Ibu perhatikan kamu tidak tidur semalaman?" Maya menatap wajah Elisa.


Elisa hanya mengangguk menahan tangis.


"Menangislah Elisa, jika kamu ingin menangis, tumpahkan semua kesedihanmu. Supaya hati kamu menjadi tenang."


"Hiks hiks bu ini salah, Elisa kabur. Tapi, nasib mereka bagaimana bu?"


"Ia benar Elisa, seharusnya kamu tidak boleh kabur, bagaimanapun kondisinya kamu harus hadapi dan mintalah pertolongan pada Allah." Maya tak kuasa menahan bulir air matanya.


"Bapak kamu sakit, jika Juragan mengambil rumah. Mereka akan tinggal dimana." Ucap Maya lesu.


Elisa hanya diam, keputusan untuk kabur sudah salah. Tapi menikah dengan Juragan itu tidak mungkin.


"Kasian kamu Elisa, dari kecil tidak pernah bahagia. Seandainya kamu tau mereka bukanlah ibu kandungmu, hatimupun akan semakin hancur." Maya diam menatap Elisa sedih.

__ADS_1


~ Jangan lupa like, komen dan vote ya. Terimakasih🙏


__ADS_2