Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps. 56


__ADS_3

Farhan bahagia sekali, hari ini untuk pertama kalinya setelah 5 tahun dia kembali ke tempat kelahirannya setelah sukses menjadi seorang dokter.


Farhan menuju bandara dengan menaiki taksi, Farhan tidak sabar lagi sampai di tempat kelahirannya. Tempat di mana begitu banyak kenangan indah, dan kenangan di mana dia pernah mengenal sosok Elisa.


"Alhamdulillah akhirnya aku bisa pulang juga setelah perjuangan cukup panjang." Ucap Farhan turun dari taksi lalu mempercepat langkahnya karena takut ketinggalan pesawat.


Farhan sudah berada di dalam pesawat, pikirannya melayang sosok bayangan 5 tahun yang selalu ada di pikirannya tiba-tiba bermain di pelupuk matanya.


Farhan senyum-senyum sendiri mengingat gadis cantik anggun yang membuatnya jatuh hati hingga sekarang tidak ada wanita manapun yang bisa mengganti posisinya di hati Farhan.


"Elisa, 5 tahun kita tidak pernah bertemu. Semoga perasaanmu masih sama dan masih setia menungguku kembali." Farhan terdiam menatap keluar jendela pesawat.


Sampailah Farhan di bandara tempat kelahirannya, tidak sabar Farhan keluar dari pesawat. Dia melangkah dengan semangat, Farhan yang dulu tak banyak perubahan tapi ada sedikit kemajuan lebih dewasa dan semakin tampan.


Terlihat mama papanya sudah menjemput. Kebanggaan orang tua melihat anaknya berhasil dan kembali setelah cita-citanya tercapai.


"Nak, sendiri kamu nggak bareng sama Putri?" Ucap Santy meraih tangan Farhan.


"Enggak" Ucap Farhan ketus, dia paling malas jika sudah membahas namanya Putri.


"Anak papa, papa bangga kamu benar-benar pulang setelah sukses. Anak kebanggaan orang tua." Ahmad memeluk Farhan sambil menepuk pundaknya.


"Iya pa, kan sesuai permintaan mama papa." Ucap Farhan tersenyum


Mereka pun berjalan menuju mobil, di dalam mobil Farhan menatap ke luar jendela. Sudah banyak perubahan banyak bangunan berubah dikotanya. Farhan melewati jalan di mana dulu Farhan pernah mengikuti Elisa diam-diam saat jualan.

__ADS_1


"Hm, Elisa dulu perjuanganmu begitu berat. Sekarang kamu sukses di kenal banyak orang. Terimakasih ya Allah." Bisik Farhan mengucap syukur.


"Putri katanya juga mau pulang lo nak, mamanya kemarin nelfon." Ucap Santy senang.


"Iya kok nggak sekalian bareng aja nak?" Ucap Ahmad heran.


"Ya kenapa harus bareng, lagian dia bisa pulang sendiri kan." Jawab Farhan sebal.


"Hm, kamu ini masih aja kayak gitu. Kamu sama Putri kan sebentar lagi tunangan." Ucap Santy tersenyum.


"Apa, tunangan?" Farhan terkejut mendengarnya dia menatap bingung.


"Iya, nanti kita bicarakan di rumah." Ucap Ahmad serius sambil nyetir.


"Maksud mama papa gimana sih, kok tunangan. Seharusnya papa sama mama konfir dulu ke aku nggak langsung ambil keputusan." Pandangan Farhan ke luar jendela hatinya terasa jengkel.


"Ya aku tau ma, tapi apa kita harus membalas dengan aku menikah dengan anak mereka. Kan nggak harus gitu juga ma."


Tak terasa sampailah mereka di rumah. Farhan tampak asing di rumahnya, 5 tahun bukan waktu singkat dia meninggalkan rumah dan semuanya.


Farhan turun dari mobil, dia terlihat lesu sudah tidak semangat lagi semenjak mengenal kata-kata orang tuanya. Dia kembali hanya untuk Elisa bukan untuk wanita lain.


"Kak Farhan, datang juga akhirnya. Mana oleh-oleh." Ucap Mita adik satu-satunya yang masih duduk di bangku kelas 3 SMA.


"Oleh-oleh, oleh-oleh capek iya." Ucap Farhan kesal lalu berlalu dan menuju kamarnya yang sudah lama dia tinggalkan.

__ADS_1


Mita heran kakaknya tidak pernah ketus dan cuek padanya. Mita berfikir apakah sifat kakaknya berubah setelah sukses dan menjadi dokter.


"Bi, buatkan Mas Farhan jus ya." Ucap Santy pada bibi.


"Iya bu, lo mas Farhan sudah datang bu?" Ucap bibi yang bingung karena dia habis menjemur pakaian.


"Sudah bi, mungkin dia capek jadi langsung istirahat di kamar.


Bibi lalu masuk ke dapur dan membuat jus untuk majikannya. Setelah membuat jus bibi meletakkan di meja.


"Pa, apa Farhan tidak suka sama Putri. Emang apa kurangnya dia?" Santy duduk di samping suaminya yang sedang membaca koran.


"Ya harus suka, Putri tidak menolak kan perjodohan mereka. Farhan juga harus bisa menerima Putri, mereka sudah sangat baik sama kita. Mereka yang menyelamatkan kita dari kebangkrutan."


"Iya pa, ya semoga saja Farhan bisa menerima." Ucap Santy khawatir.


"Ma, kakak keren tambah gagah sudah jadi dokter. Tapi, kok kayak cuek gitu ya ma." Ucap Mita duduk di samping mamanya.


"Mm cuek gimana, kakak kamu lagi capek saja. Kan selama ini dia juga tugas di kampung yang sepi jaringan saja susah. Mungkin juga jalanan di sana jelek, jadi melelahkan perjalanan."


"Mm, iya kali" Ucap Mita lalu beranjak dari tempat duduknya dan ke luar rumah.


"Secepatnya lah ma, kita lamar Putri." Ucap Ahmad semangat.


"Iya pa, kira-kira satu minggu lagi." Santy tampak bahagia.

__ADS_1


"Iya setuju."


**Jangan lupa like dan komen. Vote juga ya, terimakasih.


__ADS_2