
Elisa kini sudah beranjak remaja, dia sudah kelas 2 SMP. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik, putih bersih dan tinggi. Hidungnya mancung, wajahnya tampak cantik walaupun dia tak pernah mengenal make up.
Dia mempunyai hobby baru yaitu menggambar. Elisa siswa cukup cerdas, hasil gambarnya membuat teman dan gurunya kagum. Elisa sering mengikuti lomba antar sekolah, antar kecamatan, dan kabupaten selalu mendapat juara 1.
Sepulang sekolah dia membantu ibunya berjualan kue keliling. Tanpa malu dan tanpa lelah, Elisa terus menjajakan kuenya.
"Elisa, kamu antar pesanan kue di pak desa." Ibunya memberikan kue satu baskom ke Elisa.
"Iya bu! "Elisa pun bergegas pergi dengan membawa satu baskom berisi kue.
Jarak ke rumah pak Desa hanya 1 km. Elisa berjalan kaki dan meletakkan kue di atas kepalanya. Wajahnya selalu tampak ceria, dan tak pernah merasa lelah. Padahal dari pulang sekolah Elisa belum istirahat dan belum sempat makan.
"Elisa!" Tiba-tiba Elisa mendengar teriakan dari arah belakan.
Elisa menoleh kebelakang dan tersenyum. Dia melihat sahabatnya yang tengah menghampirinya.
"Eh nanda kamu, mau ke mana?"
"Aku lagi maen aja ke rumah paman, ga sengaja liat kamu. Yuk aku bonceng pakai sepeda." Nanda berhenti di samping Elisa.
"Berat Nan biar aku jalan aja nanti kue jatuh gimana. Hehehehe!" Elisa tertawa sambil terus berjalan.
"Oke lah aq ikuti kamu. Nanti pulangnya aku bonceng ya!" Nanda mengikuti Elisa di samping, sambil mendorong sepedanya.
Elisa hanya tersenyum menatap sahabatnya. Nanda pun tanpa lelah mengikuti sahabatnya itu. Mereka berjalan sambil ngobrol dan bercanda.
Tibalah Elisa di rumah pak Desa. Istri pak desa menerima kue dan membayarnya. Setelah memberikan kue pada bu desa. Elisa pun pergi dan berboncengan dengan sahabatnya.
"Elisa, kita mampir ke rumahku dulu yuk." Pinta Nanda.
__ADS_1
"Aku ga izin, entar ibu marah. Jawab Elisa merasa takut pada ibunya.
"Udah, kamu jarang main ke rumahku. Ibuku kangen kamu, ibuku masak enak lo." Nanda terus merayu sahabatnya itu.
Elisa tampak berfikir, dia pun merindukan masakan ibunya Nanda. Elisa bisa makan sepuasnya di rumah Nanda. Ibunya Nanda masakannya sangat enak, Elisa bisa makan enak hanya di rumah sahabatnya itu.
"Ya sudahlah!" Elisa pun menuruti sahabatnya.
Nanda mempercepat mengayuh sepedanya. Elisa memegang erat sahabatnya ituz sepanjang jalan mereka ngobrol dan bercanda.
Tibalah mereka di rumah Nanda. "Assalamualaikum," ucap mereka bersamaan.
"Waalaikumussalam!" jawb Ibunya Nanda yang sedang Asyik menyiram bunga di taman depan. Rumah Nanda begitu asri dengan banyak bunga-bunga di tamannya yang tertata rapi. Ayah Nanda seorang PNS sedangkan ibunya bisnis melayani catering.
"Ehhh anak cantikku datang, gimana kabar kamu nak?" Ibunya Nanda tersenyum menghampiri dan memeluk Elisa.
"Baik tante maaf Elisa ga pernah ke sini." Jawab Elisa lalu mencium tangannya.
"Ehhhmmm ada anak kesayangannya anak yg cantik ini dilupakan." Nanda pura-pura cemberut.
"Uhhhh kamu!" Cubitan di pipi membuat Nanda meringis. Ibu Nanda pun memeluk mereka berdua. Mereka tampak tertawa bahagia.
Di meja makan terhidang makanan kesukaan Elisa, Ayam lalapan dan es kelapa muda.
"Waaawww tante, banyak sekali?" Elisa tampak terkejut dengan hidangan di meja makan. Jarang sekali hampir tidak pernah Elisa menikmati makanan mewah dan seenak itu di rumahnya.
Nanda tersenyum bahagia, melihat sahabatnya bahagia. Dia tau sahabatnya tidak pernah menikmati makanan seenak itu di rumahnya. Nanda tau sahabatnya sangat menderita, harus ikut berjuang mencari nafkah.
Mereka pun menikmati dengan lahap. Akhirnya Nanda dan Elisa merasa kenyang. Habis makan mereka ngobrol di ruang tengah sambil nonton tv.
__ADS_1
"Elisa cepat kamu pulang, nanti ibu kamu nyariin!" Nanda pun mengingatkan Elisa, dia takut Elisa kena marah ibunya jika terlambat pulang. Karena tujuan Elisa sebelumnya adalah karena perintah ibunya untuk mengantar kue.
Setelah berpamitan, Elisa diantar Nanda menggunakan sepeda. Nanda tidak berani mengantar Elisa sampai depan rumah.
Elisa turun daru sepeda agak jauh dari rumahnya, lalu berjalan menuju rumah. Nanda kembali ke rumahnya dengan menaiki sepeda mini berwarna pink.
"Assalamualaikum," sapa Elisa ketika sampai di rumah. Begitulah Elisa selalu mengucapkan salam sebelum masuk ke rumah.
Tidak ada jawaban dari dalam, Rumah tampak sepi. Elisa tidak mendapati ibunya, Elisa mencari ibunya di dapur tapi tidak menemukannya.
"Ke mana semua ya, ibu juga kemana ya. Hmmm Elisa menggaruk-garuk kepalanya.
Elisa lalu merebahkan tubuhnya karena merasa kelelahan dan mengantuk. Rasa kenyang membuat matanya menjadi mengantuk.
Setelah beberapa jam mereka datang. Elisa mendengar ibunya datang, Elisa pun bangun dan menemui ibunya lalu menyerahkan uang dari pak Desa.
"Kak, dari mana kalian?" Elisa bertanya pada Siska.
"Itu bu Rudi sakit, jadi jenguk tadi. Jawab kakaknya tersenyum lalu masuk ke dapur untuk mengambil air minum.
Hari mulai malam, seperti biasa setelah shalat isya, Elisa selalu belajar. Setelah belajar dan mengerjakan PR. Elisa tidak langsung tidur, tetapi sibuk menggambar busana. Dia selalu tampak puas dengan hasilnyA dan terus belajar menggambar gaun. Elisa bercita-cita menjadi Desainer terkenal.
Elisa mengagumi Sosok Desainer yang selalu dia lihat di tv. Dalam hatinya semoga menjadi orang sukses bisa membahagiakan ibu bapak dan keluarganya. Elisa berharap bapaknya berhenti dari pekerjaan kasar. Dia pun tidak ingin berjualan keliling terus, karena hasilnya sedikit.
Elisa terus belajar membuat desain gaun pesta dan pengantin. Elisa ingin suatu saat bisa merancang gaun yang indah. Selesai mengerjakan PR Sekolah, Elisa selalu menyempatkan untuk menggambar. Elisa selalu merasa senang ketika melihat hasil gambarnya.
Karena merasa mengantuk, Elisa pun tertidur di atas hasil gambarnya. Siska terbangun, dan menatap adiknya yang tertidur. Siska merapikan gambar Elisa. Siska lalu menyelimutinya. Siska tersenyum menatap adiknya. Doa terbaik selalu Siska panjatkan buat adik tersayangnya itu.
"Semoga suatu saat cita-citamu tercapai adikku. Semoga bakat dan hobby mu ini bisa mengubah kehidupanmu nanti." Batin Siska menatap lembut adiknya yang tertidur.
__ADS_1
Siska sangat menyayangi Elisa, terkadang Siska tak tega melihat adiknya harus berjualan kue keliling. Hampir tak ada waktu untuk Elisa bermain dengan teman seusianya. Waktunya dia habiskan untuk membantu orang tuanya.
Beda dengan dia yang selalu mendapat kasih sayang dari ibunya. Siska ingin ibunya pun menyayangi adiknya tanpa membedakan. Siska berharap suatu saat ibunya bisa menyayangi adiknya. Siska tidak ingin melihat adiknya selalu menderita, dia pun berharap untuk kebahagiaan adik satu-satunya itu.