
Malam ini entah mengapa hati Farhan berbunga-bunga semenjak dia menemui Elisa. Farhan sudah mantap apa yang harus dia pilih, dia sudah yakin memilih satu dari dua pilihan. Farhan merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar. Bayangan Elisa muncul dibenaknya. Senyuman Elisa menari-nari di pelupuk matanya. Farhan membayangkan lagi kisah lama yang membuatnya selalu bahagia.
Farhan tidak perduli status Elisa sekarang, Farhan ingin bersama Elisa dan membahagiakannya. Farhan tidak ingin membiarkan Elisa menderita lagi, janji Farhan dari dulu ingin membahagiakan Elisa. Sekarang saatnya Farhan membebaskan Elisa dari penderitaannya. Farhan ingin menerima Elisa dan menyayangi Vino sebagai anaknya sendiri.
Setelah susah memejamkan mata, akhirnya Farhan terlelap. Keesokan Harinya Farhan terbangun ketika Adzan subuh, Farhan melaksanakan shalat shubuh bersama orang tua dan adiknya. Dalam keluarga Farhan sangat taat beribadah. Selesai shalat Farhan olahraga di depan rumah, sedangkan Mita kembali lagi tidur sebelum bersiap kesekolah.
Orang tua Farhan sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Santy merapikan kamarnya, sedangkan Ahmad di taman belakang menyiram bunga dan memberi makan ikan.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 mereka sudah tampak rapi dan bersiap untuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Sebelum berangkat mereka sarapan, Farhan tidak seperti biasanya wajahnya berseri-seri. Farhan tampak lahap menyantap nasi goreng. Mita heran melihat perubahan kakaknya.
"Kak Farhan kenapa ya?" Bisik Mita sambil menikmati nasi goreng.
"Apa kak Farhan tadi malam menemui kak Elisa?" Jiwa kepo Mita muncul di benaknya.
Selesai sarapan mereka pun bersiap untuk melakukan aktivitasnya. Farhan pamit pada mama dan papanya, Mita pun pamit berangkat kesekolah. Tinggal Santy yang di rumah.
"Kak ceria amat?" Ucap Mita kepo saat Farhan akan masuk ke dalam mobil.
"Kepo banget lo. Hahahaha" Farhan tertawa menggoda adiknya lalu masuk ke dalam mobil.
"Hiihhhh, resek." Ucap Mita kesal lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Hmmm semoga aja kakak balikan sama kak Elsia." Bisik Mita sambil nyetir, Mita berharap Kakaknya bisa bahagia dengan wanita yang dicintainya.
Farhan tampak semangat hari ini, kehidupannya seakan bergairah kembali. Semangatnya yang sempat hilang kini kembali lagi, semangat Farhan hanyalah Elisa. Hanya Elisa yang bisa mengembalikan senyum dan semangatnya.
Farhan tiba di rumah sakit, Farhan masuk ke dalam ruangannya dan bersiap melayani pasien. Hari ini seperti kehidupan baru bagi Farhan, putus asa dan kesedihan sudah hilang dalam kehidupannya. Bayangan Elisa selalu menghampiri pelupuk mata Farhan. Tapi, Farhan tetap fokus dengan pekerjaannya sebagai Dokter dan menangani pasien dengan baik.
Farhan menangani pasien dengan semangat, satu hari ini Farhan terlihat sangat semangat tidak terlihat kelelahan di wajahnya. Wajahnya terlihat berseri-seri Elisa sumber kekuatan baginya. Elisa mengembalikan semangat hidupnya, hanya Elisa yang membuat Farhan bahagia.
Hari ini Farhan berniat menemui Putri di tempat usahanya salon kecantikan. Pekerjaan Farhan sudah selesai, Farhan bergegas ke luar dari ruangannya. Farhan berfikir untuk mengajak Putri ke cafe membicarakan masalah mereka. Farhan menghubungi Putri, Putri tampak senang sekali karena diajak ke cafe.
"Hmm tumben dia ngajakin." Ucap Putri kegirangan sambil mengambil tasnya lalu bergegas keluar dari salon dan menaiki mobilnya.
Farhan bergegas ke cafe dan menunggu Putri di cafe. Farhan ingin menyelesaikan masalahnya dengan Putri. Meski Farhan menyadari jika tindakannya nanti akan menyakiti Putri. Tapi, ini yang terbaik mereka tidak bisa melangsungkan pernikahan jika salah satu ada yang tersiksa.
Farhan lebih dulu sampai di cafe, Farhan sudah memesan minuman untuk mereka berdua. Farhan memikirkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Putri agar Putri mengerti. Disaat Farhan sedang termenung memikirkan bagaimana menjelaskannya, Putri datang mengejutkan lamunannya.
"Sayang, sudah lama nunggunya?" Ucap Putri manja lalu duduk di depan Farhan.
__ADS_1
"Eh iya." Ucap Farhan gelagapan.
"Tumben ngajak ke cafe, oya sayang gaun pengantinnya udah jadi lo. Kamu coba deh fitting cocok nggak untuk kamu." Putri tampak bahagia.
"Mmm, Put." Ucap Farhan bingung.
"Iya sayang." Putri menatap manja.
"Mmm, aku mau bilang sama kamu kita tidak jadi menikah." Ucap Farhan lirih.
"Apa, maksudnya di tunda dulu karena kamu sibuk?" Ucap Putri bingung.
"Bukan Put, kamu tau kan aku tidak pernah mencintai kamu." Ucap Farhan sayu.
"Farhan, kalau kamu tidak mencintai aku kenapa kamu melamar aku. Persiapan pernikahn kita sudah 95 persen. Kamu nggak bisa batalin gitu aja, mau ditaruh dimana muka kita. Undangan sudah tersebar Farhan." Ucap Putri kesal.
"Ya bagaimana lagi pernikahan ini bukan kemauan aku, ini kemauan mama papa. Masalah malu itu lebih baik dari pada ketika kita paksakan berumah tangga nanti justru tidak bahagia dan berantakan." Ucap farhan berusaha menjelaskan agar Putri mengerti.
"Bagaimana dengan semua biaya yang sudah kita keluarkan." Ucap Putri matanya merah menahan marah.
"Itu biarlah aku kan yang nanggung semuanya. Aku nggak mempermasalahkan dengan kerugian materil."
"Putri tolong kamu ngerti, hubungan yang dipaksakan akhirnya nggak baik."
"Kenapa apa karena wanita itu, Elisa kamu berubah gini?"
"Bukan karena Elisa, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita karena aku tidak bisa mencintai kami Put. Aku harap kamu ngerti."
"Cinta, cinta bisa tumbuh saat kita sudah nikah." Ucap Putri memohon.
"Nggak bisa Put. Maaf ini sudah menjadi keputusan aku, aku minta maaf." Farhan beranjak dari kursinya lalu memegang pundak Putri kemudian berlalu dari hadapan Putri.
Putri masih syok air matanya mengalir deras dipipinya. Putri tidak menghiraukan orang lain yang melihatnya menangis.
"Hiks hiks kenapa kamu tega. Awas kamu Elisa." Ucap Putri kesal lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian keluar dari cafe. Didalam mobil Putri menghubungi Santy mamanya Farhan.
"Tante, Farhan membatalkan pernikahan kita.: Ucap Putri sesenggukan.
"Apa, kamu ngomong apa nak nggak mungkin?" Ucap Santy syok.
__ADS_1
"Hiks hiks iya tante." Ucap Putri sesenggukan lalu mematikan panggilan telepon kemudian melajukan mobilnya kembali ke rumah. Sedangkan Santu tampak emosi dengan keputusan Farhan.
"Ada apa dia, tiba-tiba membatalkan pernikahan." Ucap Santy lesu duduk di sofa menunggu Farhan pulang. Mita mendengar ucapan mamanya, Mita masih asyik nonton TV.
"Alhamdulillah akhirnya." Bisik Mita bahagia.
Tak lama kemudian Ahmad pulang dari kerjanya. Menghampiri istrinya yang duduk terlihat sangat lesu.
"Ada apa ma, nggak biasa papa pulang mama diem aja. Ada masalah apa?" Ucap Ahmad mengampiri istrinya.
"Itu pa Farhan, mau dia apa membatalin pernikahan yang sudah matang persiapannya." Ucap Santy kesal.
"Apa ma kok bisa, mana Farhan?" Ucap Farhan terkejut.
"Belum pulang." Ucap Santy kesal.
"Assalamualaikum." Tiba-tiba Farhan muncul di depan mereka.
"Heh duduk papa sama mama mau ngomong." Ucap Ahmad dengan nada keras.
Farhan pun duduk di sofa, Farhan sudah tau maksud orang tuanya. Tatapan mereka tajam ada gurat kekecewaan diwajah mereka.
"Kenapa kamu batalin pernikahan kamu dengan Putri?" Ucap Ahmad dengan nada keras.
"Aku tidak pernah cinta sama Putri pa." Ucap Farhan lirih.
"Cinta, cinta jadi kamu mencintai siapa?" Ucap Ahmad kesal.
"Elisa." Ucap Farhan lirih.
"Lalu kenapa kamu lamar Putri?"
"Karena Farhan tidak mau mengecewakan mama papa." Ucap Farhan lesu.
"Nggak mikir kamu ini undangan sudah di sebar, sekarang terserah kamu. Papa tidak mau tau lagi urusan kamu." Ucap Ahmad kesal lalu beranjak dari sofa menuju ke kamar, Santy mengikuti suaminya. Farhan duduk lesu Farhan sadar sudah mengecewakan kedua orang tuanya. Tapi, Farhan tidak punyanpilihan lain.
"Kak, sudah semangat jangan ragu lagi keputusan kakak sudah benar." Ucap Mita duduk di depan Farhan.
"Iya dek makasih." Ucap Farhan lalu beranjak dari sofa menuju ke kamarnya, Mita menatap ke arah kakaknya Mita berharap masalah cepat selesai dan mereka bisa hidup bahagia.
__ADS_1
**Jangan lupa like, komen dan vote. Terimaksih.