
Keesokan harinya, Putri sibuk mengatur undangan yang akan di sebar ke sahabat dan yang Putri kenal. Ada 1000 undangan, salah satunya Putri mengundang Elisa. Putri meminta bantuan sepupunya untuk memberikan undangan.
Sepupu Putri membawakan undangan ke butik Elisa sesuai alamat yang tertera di undangan.
"Permisi." Ucap sepupu perempuan Putri bersama sahabatnya.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rita lembut.
"Apa benar di sini butik bu Elisa?"
"Oh iya, ini butik bu Elisa. Sebentar saya panggil dulu ya, silahkan duduk." Ucap Rita lalu mempersilahkan mereka duduk kemudian memanggil Elisa di ruangannya.
"Bu, ada yang mencari ibu." Ucap Rita sopan.
"Oh iya Rit." Elisa pun keluar menemui orang yang mencarinya dan meninggalkan gambar rancangan yang ada di meja sementara dia selesaikan.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" Tanya Elisa lembut senyum manis terlihat dibibirnya.
"Mmm ini bu, kami ke sini ingin menyampaikan salam dari Putri dan calon suaminya. Ini undangan pernikahan dari mereka." Sepupu Putri memberikan undangan pada Elisa.
Elisa tersenyum walau sebenarnya dia pun merasakan sakit dalam hatinya. Walau bagaimana pun kenangan bersama Farhan tidak bisa Elisa lupakan.
"Oh iya mbak, terimakasih InsyaAllah nanti pesta pernikahan mereka saya hadir." Ucap Elisa tersenyum walau ada gurat kesedihan dalam wajahnya.
Setelah memberikan undangan kepada Elisa, sepupu Putri meninggalkan butik Elisa. Sementara Elisa berdiri dan melihat undangan di depan ada foto preweding Putri dan Farhan, entah mengapa hati Elisa serasa hancur Elisa duduk lemas di sofa.
Rita melihat dari dalam ke arah Elisa, Rita tau jika di dalam hati Elisa masih sangat mencintai Farhan. Tetapi Rita memahami jika bosnya itu merasa tak pantas karena pernah mempunya suami. Rita ikut sedih melihat bosnya lagi-lagi harus patah hati.
"Bu, undangan dari siapa?" Ucap Rita pura-pura tidak tahu.
"Mmm, ini dari teman SMA aku Rit." Ucap Elisa berusaha tersenyum.
"Pak Farhan?" Ucap Rita membuat Elisa terkejut bingung mau mengatakan apa karena hatinya sesak ketika tau Farhan akan menikah dengan wanita lain.
"Iya benar Rit, Alhamdulillah dia sekarang sudah menemukan pendampingnya. Ya ikut bahagia dengarnya." Ucap Elisa berusaha tersenyum tapi terlihat di matanya menyimpan kesedihan.
"Bu, maaf jika kata-kata saya lancang. Kenapa sih bu, ibu tidak mengatakan sejujurnya sama pak Farhan?" Ucap Rita bingung lalu duduk di samping Elisa.
"Mengatakan apa, nggak ada yang harus dijelaskan itu masa lalu Rit. Masa depan aku dan dia berbeda, aku sudah bahagia dengan Vino. Aku berharap kak Farhan juga bahagia bersama keluarganya nanti." Elisa tampak tersenyum tapi matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Hhhmm, ya sudah bu semoga ibu mendapatkan pria yang baik yang bisa menerima ibu dan Vino." Ucap Rita lirih.
"Aamiin." Ucap Elisa tersenyum.
"Rit, aku kembali selesein kerjaan ku ya." Ucap Elisa tersenyum lalu beranjak dari sofa.
Mereka pun kembali mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Elisa sibuk menyelesaikan desainnya, sedangkan Rita sibuk melayani pelanggan dengan karyawan yang lain.
Elisa tampak tak fokus menyelesaikan pekerjaannya, sesekali dia berhenti dan mengingat lagi kenangan lama. Dada Elisa terasa perih, dia dulu sudah berusaha menerima kenyataan dengan menikah bersama Faisal. Ternyata luka hati ini muncul kembali setelah Farhan datang dan memilih menikah dengan wanita lain.
Elisa merasa dia sudah tak pantas bersama Farhan, Elisa sudah menghianati cinta Farhan meski mereka tidak ada ikatan pacaran. Elisa merasa bersalah karena Farhan sangat setia dan menjaga cintanya. Kini Elisa berusaha kuat dan mengikhlaskan Farhan bersama wanita lain dan berhak bahagia dan melupakan dirinya.
Putri tiba-tiba datang di butik Elisa bersama ke dua sahabatnya. Putri turun dari mobil dengan gayanya yang wah. Rita melihat dari dalam butik tampak sebal kenapa dia harus datang di butik bosnya yang akan menambah sakit hati Elisa.
"Heh, tau nggak gaun pengantin aku tu cantik banget." Ucap Putri sombong saat memasuki butik.
"Kenapa nggak pesan di sini?" Ucap sahabatnya bingung.
"Nggak lah nggak level." Ucap Putri sinis.
"Apanya nggak level, ini kan butik langganan artis." Ucap sahabat Putri bingung.
Rita yang mendengar ucapan Putri hatinya kesal, dan ingin rasanya membalas perkataan Putri yang sombong itu. Tapi, Rita berusaha meredam amarahnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rita ketus.
"Mana bos kamu?" Ucap Putri jutek.
"Bu Elisa sedang sibuk, jadi kalau ada perlu sama saya saja." Ucap Rita tersenyum sinis.
"Wahhh, itu gaun siapa?" Tiba-tiba sahabat Putri menunjuk gaun berwarna merah marun.
"Oh itu, punya artis dangdut yang lagi hits itu untuk konser besarnya nanti." Ucap Rita bangga.
"Wah hebat ya bu Elisa, mau dong kalau aku nikahan nanti bu Elisa yang buat gaunnya. Tapi, pasti mahal ya?" Ucap sahabat Putri kagum.
"Enggak juga mbak, ada yang standar kok harganya." Ucap Rita tersenyum lembut.
"Apa-apaan sih kamu jelas-jelas itu nggak bagus norak lagi." Ucap Putri kesal pada sahabatnya. Putri lalu ke luar dari butik Elisa dan diikuti ke dua sahabatnya dan bergegas masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Dasar sombong, bu Elisa kenapa sih nggak sadar juga pak Farhan nggak pantas sama perempuan kayak itu." Bisik Rita kesal lalu kembali duduk di kursi tempat kerjanya.
"Semoga pak Farhan menyadari dan pernikahan mereka gagal. Pak Farhan dan bu Elisa bisa bersama lagi." Bisik Rita penuh harap.
Rita duduk termenung memikirkan Elisa, Rita sudah menganggap Elisa seperti kakaknya sendiri. Elisa sudah terlalu baik dan berjasa bagi kehidupannya. Rita juga tau bagaimana perjuangan Rita mulai dari nol, dari merintis usahanya. Rita sudah bersama Elisa dari Elisa belum dikenal sampai usaha Elisa berkembang pesat Elisa tetap rendah hati.
"Bu Elisa kapan ibu bisa merasakan kebahagiaan." Bisik Rita sedih.
Tiba-tiba Elisa muncul dan menghampiri Rita. Wajahnya terlihat lesu, tapi masih tersenyum.
"Rit, duduk ngelamun gitu mikirin siapa hayo. Jangan-jangan jatuh cintrong ya?" Ucap Elisa menggoda.
"Hehehehehehe ibu, nggak belum ada." Ucap Rita tersenyum.
"Ayo Rit udah sore kita bersiap pulang." Ucap Elisa lalu mereka membereskan pekerjaannya. Setelah beres mereka pun pulang, Elisa mengantar Rita ke kosnya.
"Rit, aku pulang ya. Kamu mau bermalam di rumah nggak?" Ucap Rita dari dalam mobil.
"Malam ini nggak bu, banyak tugas kuliah. Ibu nggak singgah dulu?"
"Nggak say, aku pulang ya dah nggak sabar ketemu Vino. Bay Rit, sampai ketemu besok." Ucap Elisa lalu berlalu dari hadapan Rita.
Elisa pun kembali ke rumahnya, sepanjang jalan masih tetap memikirkan Farhan. Dadanya terasa sesak, entah mengapa bayangan Farhan tidak hilang di pelupuk matanya.
"Assalamualaikum." Ucap Elisa lalu di sambut Vino dan baby sister.
"Wah anak ibu, tambah pinter nggak rewel mbak Nana?" Ucap Elisa lalu menggendong Vino.
"Tidak bu, Vino pintar banget." Ucap Nana senang.
"Bu saya pamit ya." Ucap Nana pamit karena Elisa sudah pulang.
"Oiya say, makasih ya."
Nana bekerja di rumah Elisa sampai sore, dia akan pulang ke rumah setelah Elisa pulang. Tapi, jika Nana kuliah Vino bersama Elisa di butik. Nana kuliah karena berkat Elisa yang membayar kuliahnya.
"Vino sayang, pintar ya nak." Elisa menciumi anak semata wayangnya, perasaanya lega dan tenang ketika sudah melihat dan bersama Vino. Vino adalah obat baginya, tidak ada yang paling penting dalam hidupnya selain Vino.
**Jangan lupa like, komen dan vote. Terimakasih.
__ADS_1