
Laras tampak sangat kusut, hari-harinya semakin tidak semangat menjalani hidup. Dandanpun sudah malas dia lakukan, wajah cantiknya tampak pucat. Semenjak pertemuannya dengan Elisa dilampu merah, pikiran Laras benar-benar kacau.
Bagas yang melihat istrinya hanya murung terus, malas makan. Bagas merasakan bagaimana sedihnya perasaan istrinya.
"Ma Jalan kemall yuk, Mama sudah tidak pernah shoping khan?" Bagas menghampiri Laras.
Laras hanya menatap sayu suaminya.
"Ma, sampai kapan mama begini, kalau sakit gimana?" Bagas duduk disamping Laras.
Air mata Laras menetes. Wajahnya tampak pucat. Kesedihan yang teramat dalam ia rasakan.
"Hiks hiks hiks!" Laras hanya bisa menangis.
"Sudah ma, jangan menangis. Papa jadi sedih, mama harus sabar." Ujar Bagas sambil memegang tangan Laras.
"Pa mama ingat gadis cantik yang dilampu merah, penjual kue itu pa." Tatap maya sayu.
"Ea kenapa dengan gadis penjual kue itu ma, kita tidak mengenalnya?" Bagas bingung dengan perkataan istrinya.
"Anak kita pa sudah seusia dia. Bagaimana jika nasib anak kita sama seperti gadis itu."
"Ma jangan berfikir yang tidak-tidak. Pasti Marni tidak akan memperlakukan anak kita seperti itu." Ujar Bagas memeluk Laras.
"Tapi pa Hiks hiks" Laras menangis dipelukan Bagas.
__ADS_1
"Bukannya mama sudah baik sama Marni, dan memberikan rumah. Marni pasti memperlakukan anak kita dengan baik." Bagas membelai rambut istrinya.
"Semoga Marni amanah ya pa, hiks hiks."
"Iya ma jika kita baik sama orang lain, dia akan baik sama kita. percaya sama Allah." Bagas melepas pelukan istrinya. Dan menghapus air mata Laras.
"Ini mungkin hukuman bagi kita ma, andai dulu kita berfikir sebelum berbuat dosa." Ujar Bagas lesu.
"Ya pa mama menyesal, kenapa dulu kita berbuat yang dilarang agama". Tatap Laras sayu.
"Iya sekarang semua jadikan pengalaman ma, kita taubat. Mohon ampun, semoga Allah mengampuni kita. Yang lalu biarlah berlalu." Bagas menatap istrinya.
"Ya pa jika hanya meratapi masa lalu, kita tidak akan bisa bangkit pa. Bukankah Allah maha pengampun." Laras sudah bisa tersenyum.
"Ah papa ini, bisa saja. Mama lagi sedih digodain. Coba dari dulu papa!"
"Tu tukandiungkit lagi. Bagas memotong pembicaraan istrinya sambil cemberut.
"Maaf papa suamiku sayang ga lagi! Xixixixi...!" Laras mengangkat dua jarinya sambil tersenyum.
Bagas nampak bahagia melihat istrinya mulai tersenyum lagi. Walau sebenarnya hati bagaspun perih merindukan seorang anak yang dari kandungan dia tidak ada disampingnya.
"Maafin papa ma. Bisik bagas dalam hati.
"Tidur yuk ma" Bagas menggandeng istrinya menuju kamar.
__ADS_1
Entah mengapa mata Elisa susah terpejam malam ini, dia mengingat kejadian dilampu merah bertemu dengan sepasang suami istri yang cantik dan baik hati. kaya dan tidak sombong, puji Elisa dalam hati.
"Kenapa ingin sekali bertemu ibu dan bapak itu lagi ya." Bisik Elisa dalam hati.
Elisa seakan sudah lama mengenal, ada perasaan rindu ingin bertemu.
"Perasaan apa ini ya Allah, kenapa Elisa pengen ketemu?" Elisa menatap langit-langit kamarnya.
"Ahhh..mungkin ini perasaan kagum, karena mereka kaya tapi tidak sombong. Alhamdulillah masih ada manusia seperti itu. Elisa tersenyum.
Sedangkan Farhan, malam ini sulit memejamkan mata. Sosok Elisa selalu muncul dipikirannya. Miring kanan miring kiri tetap saja mata tak bisa terpejam.
"Elisa, aku menyukaimu!" Bagas tersenyum sambil menatap langit-langit kamar.
"Kamu beda Elisa, kamu sederhana tapi sangat cantik." Puji Farhan dalam hati.
Foto Elisa sengaja dibingkai oleh Farhan dan disimpan dilaci meja belajar.
"Senyum yang indah, lembut." Bagas tersenyum memandangi foto Elisa.
Farhan jatuh cinta dengan Elisa dari pandangan pertama, ketika Elisa tak sengaja menabrak Farhan. Itu adalah kenangan yang tak bisa Farhan lupakan. Membuat Farhan suka tersenyum sendiri jika mengingatnya.
Tak terasa, Farhan terlelap tidur. Dan foto Elisa masih ada didekapannya.
~Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komennya. Terimakasih🙏
__ADS_1