
3 Bulan kemudian
Elisa sudah hamil, usia kandungannya sudah 2 bulan. Elisa sekarang bekerja dirumah, usaha online. Dia mendesain dan menjahit sendiri lalu dipasarkan lewat online. Pelanggannya sudah cukup banyak, apalagi gaun pengantin rancangannya sangat disukai. Elisa memiliki satu karyawan yang setia membantu pekerjaannya.
"Rita, aku mau check up kedokter dulu ya." Ucap Elisa pada karyawannya.
"Iya bu!" Jawab Rita sambil menyetrika pakaian habis selesai dijahit.
Dreggggg dregggggg 5x
Elisa menghubungi suaminya. Tapi tidak ada jawaban.
"Kemana bang Faisal, ditelfon nggak diangkat?" Elisa duduk dan terus memanggil nomor suaminya.
Setengah jam Elisa menunggu jawaban, tapi tidak ada. Elisa memutuskan untuk pergi sendiri ke RS dengan menaiki taksi.
"Kenapa, ya bang Faisal akhir-akhir ini sering sibuk?" Elisa diam pandangannya kosong menatap lewat jendela taksi.
Sampailah Elisa di RS, sebenarnya dia sangat sedih. Seharusnya suaminya mengantarkannya untuk chek up.
"Bagaimana kandungan saya dok?" Ucap Elisa khawatir.
"Sehat bu, tapi ibu jangan terlalu capek. Nanti berdampak pada kandungan." Jawab ibu dokter lembut.
Setelah memeriksa kandungan Elisa pergi ketoko kain untuk memberi beberapa bahan jahitannya.
Dreggggg dreggggg
"Assalamualaikum, pak." Elisa menjawab panggilan telfon dari bapaknya.
"Waalaikumsalam nak, bagaimana kabar kamu?" Ucap Iwan khawatir.
"Alhamdulillah baik pak. Elisa dari check up kedokter pak." Ucap Elisa senang.
__ADS_1
"Wah, cucu bapak cewek atau cowok?" Iwan tampak bahaga. Nia yang sudah mulai menerima dan menyayangi Elisa tersenyum disamping suaminya.
"Hehehehe, bapak. Ya belum kelihatan masih kecil." Elisa tertawa.
"Jaga kesehatan kamu ya nak." Ucap Nia bersuara disamping Iwan.
"Iya bu, bapak sama ibu juga jaga kesehatan ya." Elisa tampak sedih, rindu dengan orang tuanya. Sudah 3 bulan tidak pernah menjenguk mereka.
Iwan memutuskan panggilan telfon. Elisa melihat lagi layar hpnya, berharap suaminya menelfon. Tapi lagi-lagi Elisa merasa kecewa.
Setelah mendapatkan bahan-bahan yang Elisa cari. Elisa memutuskan pulang dengan menaiki taksi. Ditaksi dia tampak merenung, memikirkan perubahan suaminya. Apakah ada kesalahan dia, atau memang suaminya sekarang terlalu sibuk.
"Rita, tolong bantu ibu angkat barang-barang ya." Ucap Elisa ketika sampai dirumah.
Rita membantu Elisa, mereka berdua merapikan bahan-bahan jahitan didalam rumah.
"Rita, sudah sore. Kamu boleh pulang." Ucap Elisa tersenyum.
"Iya bu, saya pamit ya. Assalamualaikum!" Rita berlalu dari hadapan Elisa.
Adzan mahgrib berkumandang, Elisa shalat sendiri karena Faisal belum pulang. Dalam doa Elisa memanjatkan untuk kesehatan suaminya, calon bayinya dan kebahagiaan mereka. Elisa berusaha menerima dan mencintai Faisal walaupun sulit, karena dia tau jodoh sudah ada yang ngatur. Mungkin memang dia berjodoh dengan Faisal.
Elisa menghidangkan makanan dimeja makan, terdengar Adzan isya. Elisa lagi-lagi harus shalat sendiri. Faisal belum pulang dari kantornya, akhir-akhir ini Faisal sering pulang malam.
Selesai shalat Elisa melihat makanan yang sudah dingin. Ada rasa kecewa, suaminya tidak bisa menikmati makanan yang masih hangat. Dan ada perasaan khawatir kenapa sampai malam suaminya tidak pulang dan tidak memberi kabar.
Dregggg dreggggg 4x
Dirijek
"Kok dimatikan, ah mungkin sudah dijalan." Elisa berusaha berfikir positif.
Elisa melihat jam sudah jam 11, dia semakin khawatir. Takut jika terjadi apa-apa dengan suaminya.
__ADS_1
Dreggg dregggggg 10 x tidak ada jawaban.
"Kemana sih kamu bang?" Elisa mondar mandir diruang tamu perasaannya gelisah.
Elisa melihat jam dinding, jam menunjukkan pukul 12. Elisa semakin takut, jika terjadi hal buruk pada suaminya.
Krekkkkk
"Bang, dari mana?" Elisa memeluk suaminya.
"Ih apa-apaan sih, ya dari kerjalah!" Jawab Faisal ketus dan melepas pelukannya.
"Bang, Elisa khawatir kenapa sampai larut begini?" Elisa duduk disamping Faisal yang menyenderkan kepalanya.
"Aku pijit ya bang." Elisa memegang kepala Faisal.
"Nggak usah, aku gak perlu dipijit." Jawab Faisal ketus.
Elisa terdiam dan beranjak membuatkan teh hangat. Setelah selesai, Elisa menghidangkannya dimeja.
"Bagaimana hasilnya periksa tadi?" Ucap Faisal ketus.
"Sehat bang, Alhamdulillah." Ucap Elisa melepas sepatu suaminya.
"Bagus, jaga anak kita." Faisal beranjak lalu masuk kekamar merebahkan tubuhnya di ranjang.
Elisa mengikuti suaminya. " Abang nggak makan dulu?" Ucap Elisa lembut.
" Nggak, aku sudah makan direstauran." Ucap Faisal memejamkan matanya.
Degggg
Entah kenapa hati Elisa sakit, dia sudah sibuk menyiapkan makanan dan dirinya pun belum makan. Tapi suaminya lebih memilih makan ditempat mewah. Elisa duduk lemas disamping suaminya. Menahan air matanya untuk tidak keluar.
__ADS_1
~ Jangan lupa like, dan komennya. Jika berkenan kasih vote ya. Supaya penulis semakin semangat berkarya. Terimakasih🙏