Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps. 58


__ADS_3

Di dalam mobil Farhan benar-benar ingin berteriak setelah melihat dan tau kenyataan Elisa sudah berkeluarga. Hatinya perih, sakit, dan rasanya tidak punya semangat hidup. Wanita yang sangat dia cintai, bertahun-tahun dia setia menjaga hatinya. Tapi, justru cinta dan kesetiaannya dihianati.


"Aku laki-laki aku tidak boleh rapuh." Bisik Farhan sambil nyetir air matanya pun menetes.


"Aku laki-laki, aku menangis tidak seharusnya aku seperti ini. Banyak wanita yang lebih dari dia." Ucap Farhan menghapus air matanya, hatinya sangat kesal kenapa Elisa tega menghianati cinta mereka. Walaupun mereka tidak pacaran tapi mereka berjanji akan selalu setia menanti.


Farhan melajukan mobilnya dengan kencang, yang ada di pikirannya sekarang hanya sakit hati, kemarahan, kecewa dan merasa dihianati. Farhan sudah tidak mengingat lagi bagaimana besarnya cinta dia pada Elisa selama ini. Dia berusaha melupakannya dan mengikhlaskan Elisa bersama laki-laki lain.


"Semoga kamu bahagia Elisa mungkin kita bukan jodoh." Ucap Farhan mulai tenang dan berusaha mengikhlaskan semuanya.


Dia tidak bisa membohongi hatinya, bahwa dia benar-benar hancur. Dia sudah menjaga hati dan perasaannya hanya untuk Elisa. Dan ketika dia sukses sekarang dia ingin memperlihatkan pada gadis pujaannya dan membuatnya bangga, tapi yang dia dapat hanya sebuah kekecewaan.


"Ini salahku, aku tidak ada kabar selama 4 tahun dan tidak pernah datang menemuinya, mungkin dia menyangka aku melupakannya." Farhan menyalahkan dirinya sendiri.


Sampailah Farhan di rumahnya. Dia turun dari mobil dengan wajah yang lesu, dan tidak ada gairah lagi untuk hidup. Hancur dan hilang semangat. Farhan melangkahkan kakinya dengan lemas dia merebahkan tubuhnya di sofa.


"Nak, sudah jalan-jalannya. Kirain sampai sore." Ucap Santy mendekati anaknya.


"Nggak ma, ternyata teman-teman masih banyak yang belum kembali ke sini." Ucap Farhan berbohong.


"Oh iya ya." Ucap Santy tersenyum.


"Papa mana ma?"


"Papa ada di belakang."


"Papa nggak kerja ma?"


"Papa agak nggak enak badan jadi nggak kerja."


Mama Farhan lebih banyak tinggal di rumah karena mama Farhan mempunyai bisnis sendiri salon kecantikan dan hanya karyawannya yang setiap hari di salon. Sedangkan papanya mempunyai bisnis sendiri yang mengolah besi tua.


"Ma, Farhan mau ngomong. Panggil papa dulu." Ucap Farhan serius.

__ADS_1


Santy pun ke belakang memanggil Hendrik yang sedang duduk santai di taman belakang.


"Pa, anaknya mau bicara."


"Oh iya ma." Ahmad mengikuti istrinya.


Mereka bertiga pun sudah ngumpul. Santy menatap anaknya terlihat aneh diwajahnya tampak lesu dan tidak semangat.


"Mau ngomong apa Farhan?" Tanya Ahmad lembut.


"Pa ma, Farhan sudah siap tunangan dengan Putri." Ucap Farhan lirih.


"Apa, benar yang kami dengar nak?" Santy tampak bahagia mendengar kata-kata Farhan.


"Iya ma, setelah Farhan pikir-pikir lagi ternyata itu lebih baik. Lagian Farhan sudah lama kenal Putri." Ucap Farhan berusaha tenang.


"Wah, papa bangga sama kamu nak." Ucap Ahmad tersenyum.


Mita yang baru dari kamarnya mendengar dan terkejut, dia tidak menyukai Putri. Dan Mita pernah melihat buku diary kakaknya di kamar ada tertulis nama Elisa. Dan hanya Elisa yang kakaknya cintai.


"Lagi ngomongin apa serius amat?" Ucap Mita duduk di samping papanya.


"Kakak kamu sayang, sebentar lagi kamu punya kakak ipar. Jadi, kamu tidak lama lagi punya teman ngobrol, teman jalan." Ucap Santy bahagia.


Hendrik tersenyum dan senang karena Farhan menuruti kemauan mereka. Apalagi orang tua Putri sudah banyak berjasa bagi keluarga mereka.


"Benar kak kakak mau nikah?" Mita menatap ke arah Farhan.


Farhan tersenyum lalu beranjak dari tempat duduknya dan masuk kamar.


"Ada yang aneh?" Bisik Mita lalu beranjak dan nonton tv.


"Alhamdulillah ya pa, bahagia banget mama pa."

__ADS_1


"Iya ma. Alhamdulillah."


"Pa mama mau ke salon liat bagaimana di sana, apa yang harus di lengkapi." Ucap Santy lalu beranjak dari duduknya dan mengambil tas yang sudah di siapkan di meja.


Ahmad ke taman belakang membaca koran dan beristirahat karena dia kurang sehat.


Mita masih penasaran dengan keputusan kakaknya untuk menikah. Mita masuk ke dalam kamar Farhan ingin tahu kenapa kakaknya bisa menikah dengan Putri, sedangkan dia tau wanita yang dicintai adalah Elisa.


"Kak." Mita melihat kakaknya yang termenung duduk di ranjang.


"Iya dek." Jawab Farhan lesu.


"Kak, maaf kenapa kakak mau menikah sama kak Putri?"


Farhan menunduk lesu bingung mau menjawab apa.


"Kak, Mita tau siapa yang kakak cintai. Namanya Elisa."


Farhan terkejut mendengar ucapan adeknya lalu menoleh kearah Mita yang duduk di sampingnya.


"Dari mana kamu tau, jangan sok tau lah." Ucap Farhan ketus.


"Diary kakak." Ucap Mita tersenyum.


"Oh itu, ya kamu sudah besar kamu pasti tau bagaimana namanya jatuh cinta. Dia bukan jodoh kakak, dia sudah menikah dan punya anak satu." Ucap Farhan lesu.


"Oh jadi kak Elisa sudah nikah mangkanya kakak mau nikah sama kak Putri. Seharusnya kakak pikir-pikir lagi tentang pernikahan kakak. Jangan asal terima saja kemauan mama papa. Ini menyangkut hidup kakak selamanya." Ucap Mita sok dewasa.


"Sudahlah Mit, kakak sudah lupa apa namanya bahagia. Biar kakak coba terima dan berusaha melupakan Elisa." Ucap Farhan tersenyum.


Mita ikut sedih melihat kakaknya, Mita keluar meninggalkan kakaknya yang duduk lesu diranjang. Mita melihat ke arah Farhan dan Mita berharap untuk kebaikan kakaknya.


**Jangan lupa like dan komen. Vote juga ya, terimaksih.

__ADS_1


__ADS_2