
Pertunangan Farhan dan Putri dilaksanakan hari ini. Farhan sudah tidak punya pilihan lain selain menerima perjodohannya dengan Putri. Bagi Farhan sekarang tidak ada gunanya menolak lagi karena harapan satu-satunya sudah hancur. Farhan menganggap Elisa masih berstatus sebagai istri orang lain.
Hati Farhan benar-benar hancur ketika mengetahui Elisa sudah menikah dan telah memiliki seorang anak. Selama ini dia berharap dan tetap setia hanya pada Elisa, Farhan berharap ketika sukses dia bisa hidup bersama Elisa dan membahagiakannya. Tapi, kenyataannya tak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
"Aku harus bisa." Farhan menatap wajahnya yang lesu di depan cermin.
Farhan tau awal kehidupan barunya dimulai dari sekarang. Pertunangannya dengan Putri, Farhan akan berusaha melupakan Elisa dan menerima Putri sebagai pasangannya.
Mita adik satu-satu Farhan tau perasaan kakaknya. Mita tau kakaknya hatinya hancur dengan perjodohan ini. Mita berharap kakaknya membatalkan perjodohan. Mita berjalan ke kamar Farhan, perasaan Mita pun sedih memikirkan kakak yang dia sayangi harus menikah dengan wanita yang tidak sama sekali dia cintai.
"Kak, kakak sudah siap?" Ucap Mita saat masuk ke dalam kamarnya, Mita duduk di sofa menatap sayu kakaknya yang berdiri di depan cermin.
"Emmmm ya." Ucap Farhan menarik nafas panjang.
"Kak, kenapa sih kakak keras kepala. Kenapa kakak korbanin perasaan kakak, kakak bisa nolak perjodohan ini?" Ucap Mita sedih.
"Mit, kamu nggak ngerti apa-apa tentang perasaan orang dewasa." Ucap Farhan menoleh ke arah Mita lalu duduk di ranjang, wajahnya tampak lesu.
"Iya aku belum dewasa, tapi aku tau perasaan kakak. Aku tau kakak mau menikah karena kakak dihianati sama cewek. Nggak gitu juga kak, bukan gitu caranya. Kakak harus sembuhin luka hati kakak dulu baru boleh cari pengganti." Ucap Mita kesal.
"Huffffttttt, sudahlah Mit. Susah nyembuhinnya, mungkin selamanya tidak akan sembuh." Ucap Farhan lirih ke dua tangannya memegang kepalanya.
"Please kak, jangan hancurin hidup kakak." Mita menghampiri Farhan lalu memegang pundaknya.
"Mit, semoga kamu nggak pernah ngalamin seperti kakak. Jangan pernah kamu berharap pada manusia terlalu berlebihan, kakak benar-benar hancur Mit." Farhan menunduk menahan air matanya.
Mita bingung entah apa lagi yang harus dia katakan agar kakaknya mendengarkan kata-katanya. Mita tidak bisa melihat kakaknya hancur, hilang semangat. Mita mengenal sosok kakaknya adalah pria yang kuat, ceria dan mandiri. Tapi, kali ini Mita melihat sisi berbeda di dalam kakaknya. Kakaknya benar-benar rapuh, tak terasa bulir air mata Mita menetes dipipinya.
Ahmad dan Santy sudah siap dan menunggu Farhan di ruang tamu. Santy tak sabar kenapa Farhan tidak muncul juga.
"Farhan mana ya pa, nggak keluar-keluar." Ucap Santy gelisah sambil melihat jam tangan. Keluarga besar Farhan sudah ramai ingin turut mengantar Farhan lamaran.
"Iya ma, coba panggil anak kamu itu nggak enak sama keluarga yang sudah nunggu." Ucap Ahmad lalu bergabung dengan keluarga besarnya.
Santy pun menuju kamar Farhan. "Loh, ini adik kakak malah ngobrol sudah di tunggu tu di luar."
"Emmm, iya ma." Jawab Mita gugup, Farhan hanya terdiam.
"Ya sudah ayo cepat, itu perbaiki rambut kakak kamu tu kusut." Ucap Santy menggelengkan kepalanya lalu berlalu dari kamar Farhan.
__ADS_1
"Kak, ayo kabur aja." Ucap Mita memberi solusi.
"Ehhhh ada-ada aja kamu, aku bukan pengecut Mita." Ucap Farhan lalu berjalan ke arah cermin dan memperbaiki rambutnya.
"Kak jangan konyol, kabur aja nggak usah gengsi." Ucap Mita memohon.
"Sudahlah Mit, aku akan buktikan dengan wanita itu. Aku bisa bahagia tanpa dia, dia boleh sombong karena kesuksesannya hingga menjaga cintanya pun tak bisa. Aku pun harus bisa melupakan dan hidup bersama wanita lain." Ucap Farhan tersenyum sinis.
"Kakak salah berfikir seperti itu, ini bukan membuktikan kakak bisa bahagia. Ini justru menghancurkan hidup kakak."
"Udahlah ayo." Farhan tidak peduli dengan kata-kata adiknya lalu melangkah keluar kamar.
Keluarga besar sudah ramai di luar ingin mengantar Farhan lamaran. Mereka sangat bahagia dan bangga karena Farhan sudah sukses. Keluarga tidak akan melewatkan momen bahagia Farhan bertunangan.
"Wah itu anaknya." Ucap Ahmad senang.
"Wah ganteng bro." Ucap sepupu Farhan.
Farhan tersenyum ke arah mereka, mereka memeluk Farhan secara bergantian.
"Ayo kita berangkat." Ucap Santy tak sabar.
Mereka pun berangkat menuju rumah Putri. Ada 6 mobil mewah yang turut ikut mengantar lamaran Farhan.
"Iya Alhamdulillah." Ucap Ahmad sambil serius nyetir. Farhan yang duduk di samping papanya lebih memilih diam, Farhan berusaha melupakan Elisa tapi bayangan Elisa selalu bermain di pelupuk matanya. Sedangkan Mita yang duduk di samping mamanya menatap ke luar jendela dan tidak memperdulikan obrolan orang tuanya.
"Kamu Mit, harus kayak kakak kamu nikah kalau sudah sukses." Ucap Santy tersenyum.
"Mmm." Ucap Mita singkat pandangannya keluar.
Tak terasa mereka sampai di rumah Putri. Rumah Putri tampak rame dan keluarga Putri sudah menyambut di depan rumah.
Farhan berusaha kuat, dia turun dari mobil. Mita berjalan di samping kakaknya. Sedangkan papa mamanya lebih dulu berjalan di depan.
"Kak, ayo kabur." Ucap Mita lirih di samping kakaknya. Farhan hanya diam dan terus berjalan tanpa perduli ucapan adiknya.
"Kakak." Mita kesal dan mencubit pinggang Farhan.
"Apa sih Mit, cerewet kayak burung beo kamu ini." Ucap Farhan kesal.
__ADS_1
"Eh ini kakak adik masih aja berantem." Ucap Santy geli dan menoleh ke belakang menyangka anak mereka sedang ribut.
"Kesal aku sama kakak." Ucap Mita cemberut. Farhan yang sadar karena sudah menyakiti hati adiknya dengan ucapannya, Farhan merangkul bahu adiknya.
"Mit, percaya kakak baik-baik saja." Ucap Farhan lirih menuju rumah Putri.
"Selamat datang pak bu di kediaman kami." Ucap Rudi tersenyum.
Mereka pun bersalaman lalu masuk ke dalam rumah. Putri masih berada di kamarnya, acara lamaran sangat meriah dan mewah.
Putri keluar di dampingi mamanya. Putri mengenakan kebaya rancangan Elisa, Putri tersenyum ke arah Farhan. Farhan hanya diam dan tidak memperhatikan Putri.
"Huhhhh, cewek licik." Bisik Mita kesal menatap ke arah Putri.
Proses lamaran pun berlangsung, Farhan meminta izin pada ke dua orang tua Putri untuk meminang anaknya.
"Farhan cepat nak." Ucap Santy lirih di samping Farhan, dengan lesu Farhan berdiri di depan mereka.
"Pak bu, saya berniat ingin melamar putri bapak ibu." Ucap Farhan dengan wajah datar.
"Kami merestui nak, tapi keputusan ada pada anak kami." Jawab Rudi bahagia.
Putri pun di persilahkan untuk menjawab lamaran Farhan. Putri tampak tersenyum bahagia akhirnya cita-citanya menjadi kenyataan bisa memiliki Farhan
"Iya saya terima." Ucap Putri wajahnya berseri-seri.
"Alhamdulillah." Ucap mereka serentak.
Akhirnya proses memasangkan cincin di jari manis Putri. Farhan berdiri dengan terpaksa lalu memasangkan cincin di jari manis Putri. Putri tampak bahagia sekali, dan berniat ingin memeluk Farhan.
"Ehhh." Ucap Farhan refleks menolak pelukan Putri.
"Hahahahaha." Mereka yang hadir pun tertawa, wajah Putri memerah menahan malu.
"Rasain loe." Bisik Mita tersenyum puas.
Setelah proses lamaran berlangsung, Farhan dan keluarga pun pamit. Putri kesal karena Farhan membuatnya malu di depan keluarganya.
"Masih aja cuek gitu, tapi nggak papalah yang penting aku bisa memilikinya." Ucap Putri sambil mengganti pakaiannya.
__ADS_1
"Hhhm Elisa, akhirnya Farhan menjadi milikku." Putri tersenyum sinis penuh kemenangan. Putri merapikan rambutnya di depan cermin, Putri bahagia bisa menjadi pasangan Farhan. Putri melupakan jika sebenarnya dia memiliki kekasih, dan selama pacaran mereka sangat bebas.
Jangan lupa like, komen dan vote ya. Terimakasih🙏