
Dengan berat hati Elisa meninggalkan bapaknya. Tampak Elisa sangat sedih ketika akan berpamitan kepada bapaknya.
Faisal yang sudah datang menjemput Elisa, merasakan bagaimana perasaan Elisa.
"Nak, sudah kamu jangan sedih. Lagian gak jauh, cuman 1 jam perjalanan dari rumah. Kalau bapak ada waktu bapak tengok kamu nak." Ucap Iwan lirih.
"Bapak" Elisa memeluk bapaknya.
Iwan membelai kepala Elisa, tak terasa bulir-air matanya keluar.
"Hiks hiks!" Elisa sesenggukan dipelukan bapaknya.
"Jaga diri nak, bapak berdoa semoga kamu jadi anak yang sukses." Iwan menghapus air matanya.
Elisa melepas pelukannya. Lalu duduk dikursi.
"Bapak jaga kesehatan, jangan lupa minum obat. Elisa janji, Elisa pasti akan sering pulang lihat bapak dan ibu." Ucap Elisa serak.
"Jangan khawatirkan bapak dan ibumu nak, bapak pasti akan jaga kesehatan." Ucap Iwan tersenyum tapi wajahnya tampak sangat sedih.
ia hanya diam, duduk tanpa sepatah katapun. Hatinya sangat marah dan semakin benci kepada Elisa.
"Elisa ayo, nanti kamu juga akan ketemu bos kamu tempat dimana kamu bekerja." Ujar Faisal lembut.
"Iya kak." Jawab Elisa lirih.
Elisa mencium tangan bapaknya. Air matanya tumpah membasahi pipinya.
Elisa menghampiri Nia, Elisa mencium tangan ibunya. Tapi Nia hanya diam tanpa sepatah katapun.
__ADS_1
Berat kaki Elisa melangkah meninggalkan bapaknya yang sakit-sakitan.
"Elisa, jangan sedih. Ini awal kamu mengejar mimpi-mimpimu." Ucar Faisal mengagetkan Elisa yang hanya termenung disepanjang jalan.
Elisa tersenyum kearah Faisal, benar kata Faisal ini adalah awal mewujudkan mimpi-mimpinya.
Tibalah disebuah BTN, Elisa turun dengan hati yang entah bahagia atau sedih. Bahagia karena dia bisa melakukan aktivitas tanpa kekangan ibu. Sedihnya adalah berpisah dengan seorang bapak yang begitu menyayanginya.
"Kak Faisal, terimakasih kakak adalah pahlawan dalam hidup Elisa." Ujar Elisa tersenyum.
"Sudah menjadi tanggung jawab kita sesama manusia saling membantu Elisa." Faisal membalas senyuman.
Rumahnya sudah sangat bersih. Elisa tidak perlu sibuk-sibuk membereskannya.
"Kamu gak usah takut Elisa, rumahku tidak jauh dari sini. Hanya berjarak 5 rumah, jadi kalau ada apa-apa 5 menit saja sampai." Ucap Faisal lembut.
"Ok kita makan yuk, cari warung. Setelah itu kita pergi menemui calon bos kamu." Ujar Faisal sambil berjalan kearah mobil.
Elisa mengikuti Faisal. Mereka mencari warung.
"Mau makan apa Elisa?" Tanya Faisal lembut.
"Terserah kakak." Jawab Elisa sopan.
Merekapun memesan ayam geprek dan jus jeruk.
"Elisa, maafin kelakuan bapakku kekamu ya." Faisal menatap Elisa dengan rasa penyesalan.
"Tidak apa-apa kak, semua hal buruk pasti ada hikmahnya. Hikmahnya adalah Elisa dipertemukan dengan Kak Faisal." Elisa tersenyum.
__ADS_1
"Hehehehe benar juga ya. Ya sekarang lupakan masa lalu, bangkit dan kejar mimpi-mimpimu." Ujar Faisal sambil menikmati makanannya.
Setelah selesai makan mereka menuju ke perusahaan konveksi pakaian.
"Hey Faisal, bagaimana kabar kamu?" Sapa seorang gadis cantik yang sudah dewasa.
"Alhamdulillah baik, ini adikku. Yang aku ceritain kemarin."
"Oke aku terima kerja disini. Karena belum bisa menjahit, ya sambil kursus disini. Tentunya gajinya masih kecil." Ucap pemilik konveksi dengan ramah.
"Iya bu ga papa, suatu kehormatan ibu sudah menerima saya kerja disini." Jawab Elisa bahagia.
"Mulai besok jam 08.00 kamu kerja ya." Ucap bosnya.
"Siap bu." Elisa tampak sangat senang.
"Baiklah gaes, aku pulang dulu." Ucap Faisal.
Merekapun kembali kerumah dengan rasa sangat bahagia. Faisal senang karena bisa membantu Elisa dan melupakan masa lalu buruknya.
"Elisa aku pamit dulu ya. Ini kuncinya kalau ada apa-apa kamu telfon aku." Faisal memberikan kunci rumah.
"Iya kak, sekali lagi terimakasih." Jawab Elisa tersenyum.
"Hehehe iya, sudah berapa kali kamu ngucapin terimakasih." Faisal tertawa lalu meninggalkan Elisa.
"Beribu-ribu rasa terimakasihku padamu, tidak akan pernah membayar kebaikanmu padaku kak. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu." Bisik Elisa dalam hati.
~Jangan lupa, like dan komennya. Jika berkenan vote ya. Terimakasih🙏
__ADS_1