
"Elisa!" Guru kelas memanggil Elisa.
"I iya bu!" Jawab Elisa tampak kaget.
"Coba kamu maju kedepan dan kerjakan soal ini." Perintah Guru.
Elisa maju kedepan dan bersiap mengerjakan soal matematika yang barusan dicontohkan.
Elisa tampak bingung bagaimana mengerjakannya. Dia hanya berdiri sambil memegang spidol.
"Elisa, kerjakan ibu sudah kasih contoh tadi." Ujar bu guru dengan lantang.
"Dari tadi ibu awasi, kamu tidak fokus belajar. Kamu menghayal, kalau tidak mau belajar ga usah sekolah." Ucap bu guru.
"Ya sudah duduk."
Elisa duduk dengan wajah lesu, Tini melihat sahabatnya dan merasa heran. Elisa anak yang cerdas, kenapa lagi dia.
Teng teng
Jam istirahat pun tiba. Elisa masih duduk didalam kelas. Sedangkan teman yang lainnya sudah keluar.
"Eh say, kamu ada masalah apa?" Ucap Tini menatap Elisa.
"Ga papa Tin, lagi kurang enak badan aja." Jawab Elisa berbohong.
Tini tau jika sahabatnya sedang berbohong, hanya pura-pura tidak tau.
Tut tut tut
Hp Tini berdering, Tini segera mengambil hpnya ditas.
"Kak Farhan." Ucap Tini keras.
Elisa terkejut dan melihat kearah Tini.
"Hallo kak!" Ucap Tini semangat.
"Hallo, Tin maaf baru kasih kabar. Sibuk urus pendaftaran." Farhan tampak merasa bersalah.
"Hehehe ga papa kak, ini ada Elisa. Sapa tau dia merindukan kak Farhan. Xixixixi" Tini tertawa menggoda Farhan.
Elisa yang mendengar nampak cemberut, Tini melirik sahabatnya dan tersenyum.
"Tin berikan hpnya ke Elisa." Ucap Farhan
__ADS_1
Tini memberikan hpnya ke Elisa, Elisa tampak menolak. Tapi Tini terus memaksa.
"Assalamualaikum kak." Sapa Elisa lembut.
"Waalaikum salam Elisa." Farhan tampak sangat bahagia.
"Bagaimana kabarmu Elisa?"
"Baik kak, kak Farhan bagaimana kabarnya?" Ucap Elisa.
"Baik juga, tapi masih selalu kebayang kamu." Farhan menggoda Elisa.
"Hm belajar dan jaga diri baik-baik kak."
"Baik tuan Putri." Jawab Farhan semangat.
Elisapun mengembalikan hp keTini.
"Kak sudah dulu ya!" Ucap Tini.
"Oke Tin, makasih ya. Farhan lalu mematikan hpnya.
Farhan sangat bahagia sekali karena sudah mendengar suara Elisa.
"Cie cie, yang lagi bahagia!" Tini menggoda Elisa.
Pulang sekolah
Elisa bergegas kerumah Juragan masih memakai seragam sekolah. Didalam tasnya ada baju ganti. Dengan malas dia melangkahkan kakinya kerumah Juragan.
Tok tok tok
Juragan yang menunggu dari tadi tampak tidak sabar lalu berlari kearah Elisa.
"Wah kamu Elisa silahkan masuk!" Ucap Juragan berusaha melembutkan suaranya.
Elisapun masuk dengan ragu-ragu mengikuti Juragan dari belakang.
"Duduk Elisa, aku akan menjelaskan apa-apa kerjaan kamu." Ujar Juragan dengan senyuman seramah mungkin.
Elisa melihat senyuman itu adalah senyuman licik yang sengaja dibuat-buat. Dia harus waspada jika ada disamping dia.
"Elisa tugas kamu melayaniku!" Ucap Juragan tersenyum.
Elisa terkejut menatap Juragan dan terlihat diwajahnya ketakutan.
__ADS_1
Juragan yang melihat Elisa ketakutan dengan tenang menjalaskan tugas-tugas Elisa.
"Maksud Juragan, melayani seperti membuatkan kopi, menghidangkan makanan itu saja." Juragan menjelaskan sambil tersenyum.
Elisa yang mendengarnya agak sedikit lega.
"Sekarang ganti pakaianmu dikamar tamu!" Ucap Juragan lembut.
"Baik Juragan." Elisa lalu pergi kekamar tamu yang sudah ditunjukkan.
Elisa mengunci kamar takut jika Juragan tiba-tiba masuk kedalam kamar. Gemetar dan ketakutan yang dia rasakan.
Elisa berdoa sebelum keluar kamar, agar dilindungi dari terkaman singa.
"Wah sudah siap, ibu lagi pergi arisan. Jadi tolong buatkan aku kopi." Ujar Juragan sambil nonton tv.
Elisa menuju kedapur, Juragan melihat Elisa berjalan.
"Cantik, aku akan perlakukan dengan baik awalnya. Hehehehe..." Juragan tertawa sambil memegang dagunya.
"Juragan ini kopinya." Elisa meletakkan kopi dimeja.
Juragan kagum dengan kecantikan Elisa, menatap Elisa tak berkedip. Elisa yang tau diperhatikan merasa risih.
Elisapun pergi kedapur untuk menyiapkan makanan.
"Apakah disini tak ada pembantu." Bisik Elisa.
Juragan tampak berjalan kearah dapur.
"Elisa!" Ucap Juragan mengagetkan Elisa.
Elisa menoleh kearah suara, dan menunduk.
"Masak yang enak ya." Ujar Juragan tersenyum.
Elisa hanya terdiam, lalu Juragan pergi dari hadapan Elisa. Elisa merasa tenang.
Pekerjaan Elisa sudah selesai. Haripun sudah sore, Elisa pamit pulang. Dengan sopan Juragan mempersilahkan Elisa pulang.
"Hmm sepertinya Juragan beda. Kayaknya sudah berubah baik." Bisik Elisa.
"Tapi aku harus hati-hati."
Elisa sekarang merasa pekerjaannya agak ringan dibandingkan harus berjualan kue. Tapi, perasaan takut selalu menghantui.
__ADS_1
~ Jangan lupa tinggalkan jejak like, dan komennya. Jika berkenan kasih vote ya. Supaya penulis semangat berkarya. Terimakasih🙏