Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Bab.13


__ADS_3

Hari ini Nia tampak bingung, karena Juragan akan datang menagih. Resah dan takut yang Nia rasakan, dia tidak mempunyai cukup uang. Suaminya sudah tidak bekerja sedangkan uang hasil jualan dan hasil dari Siska nyuci, hanya cukup untuk makan dan keperluan sehari-hari.


Iwan sedang pergi kekebun, walaupun dia sakit dia tidak suka jika hanya berdiam diri dirumah. Iwan kekebun hanya ingin melihat tanaman yang sudah dia tanam sewaktu masih sehat.


Elisa masih bersekolah, dan Siska seperti biasa masih kerja. Siska kerja membantu menjahit yang ada dikampungnya, dan mencuci baju. Tinggallah Nia seorang diri, dengan penuh kegelisahan entah apa yang akan dia jawab jika Juragan datang menagih.


Tok tok tok


Tiba-tiba ketukan pintu sangat keras mengagetkan Nia. Jantung Nia berdetak sangat kencang. "Juragan apakah dia. Apa yang harus saya katakan." Nia masih berdiri ditempatnya.


Tok tok


Nia berlari kearah pintu, dan membuka pintu.


Nia tidak berani menatap wajah seseorang yang berada didepannya, dia menunduk. Tapi, Nia mengetahui dari sepatu Juragan. Nia gemetaran, tak terasa keringat dingin keluar.


"Hey Nia, kamu hanya diam distu. Kamu tidak mempersilahkan saya masuk?" Ujar juragan dengan sangat lantang.


"I i iya Juragan, silahkan masuk." Nia masih tampak gemeteran.


"Mana suamimu?"


"Dia pergi kekebun Juragan." Ujar Nia ketakutan.


"Jadi kamu sendiri?"


"Iya Juragan" Nia masih menunduk.


"Dimana anak cantik kamu itu?" Mata Juragan melihat kesana kemari.


Nia semakin takut, jika yang dia tanyakan adalah Siska.


"Ker kerja Juragan!" Nia semakin gemetaran, dia takut jika Siska akan dijadikan tebusan hutang oleh laki-laki tua yang sudah 4 Kali menikah itu.


"Elisa yang aku maksud!" Hardik Juragan pada Nia.


Entah tiba-tiba ada perasaan lega dalam hati nya. Dia tidak peduli jika menyangkut nama Elisa, apapun hal buruk yang terjadi pada Elisa Nia tidak perduli.

__ADS_1


"Sekolah Juragan" Jawab Nia lantang.


"Saya tau kamu tidak akan bisa membayar hutang pada saya, jadi saya minta pada kamu setelah Elisa pulang sekolah, suruh dia kerumah saya." Juragan berkacak pinggang dihadapan Nia.


"Baik Tuan, tapi rumah yang mana?" Nia tampak bingung.


Juragan menatap tajam wajah Nia.


"Dirumah istri pertama." Juragan lalu pergi dari rumah Nia.


"Huh aman!" Nia melangkah dengan hati senang.


"Ini semua gara-gara kamu Elisa, hutang karena menyekolahkan kamu. Jadi kamu yang harus bertanggung jawab." Bisik Nia dalam hati.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu Niapun pulang.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam." Nia menyambut Elisa.


"Ehhh Elisa, cepat ganti bajumu. Lalu makan, setelah itu antar kue keJuragan." Perintah Nia sambil berlalu.


Elisa hanya terdiam, dia membayangkan sangat tidak sopannya laki-laki tua itu. Dia malas bertemu orang itu. Hanya Elisa tak mampu melawan ibunya.


Tok tok tok


Juragan tampak tak sabar membuka pintu.


"Assalamualaikum Juragan." Elisa menyapa dengan ramah.


"Waalaikum salam anak cantik, ohh itu apa?"


Elisa dalam hati merasa sebal, jelas-jelas dia yang memesan kue.


"Astagfirullah" Elisa menarik nafas panjang.


"Masuk!" Juragan berlalu dari hadapan Elisa.

__ADS_1


Elisa mengikuti dari belakang.


"Duduk tuan putri." Juragan mempersilahkan Elisa duduk.


"Hih sabar sabar, jangan karena dia aku jadi berdosa." Bisik Elisa.


"Putri cantik aku menyukaimu?" Juragan mendekati Elisa.


Elisa terperanjat dari tempat duduk. Dan berdiri mematung, dia tampak gemetar.


"Hey kamu tambah cantik jika ketakutan." Juragan semakin dekat dan berdiri disamping Elisa.


"Juragan!" Elisa mendorong Juragan, ketika Juragan ingin berbuat tidak sopan padanya.


"Eh anak kecil, kamu harus tau diri. Orang tuamu mempunyai hutang yang sangat banyak padaku. Jadi kamu harus mau menjadi kekasihku!" Juragan menarik lengan Elisa.


Elisa, menangis "Ampun Juragan Istigfar." Elisa tampak memohon.


"Aku menyukaimu kamupun harus menyukaiku." Juragan merangkul pundak Elisa. Elisa mendorong dan berlari.


Tapi Juragan berhasil menarik Elisa. Elisa semakin ketakutan.


"Bapak apa-apaan ini." Tiba-tiba istri pertama Juragan muncul.


"Heh ku kira kamu kepasar." Juragan melepaskan Elisa.


Juragan lalu pergi dari hadapan istrinya dan Elisa.


"Nak, kamu tidak apa-apa?" Istri Pertama Juragan memeluk Elisa. Elisa menangis tersedu-sedu.


"Pulanglah nak, dan rahasiakan kejadian ini ya. Jangan ceritakan kepada siapa-siapa."


Elisa menghapus air matanya, Lalu pergi.


Sesampainya dirumah dia tidak mengucapkan salam dan tidak menghiraukan ibunya yang sedang nonton TV. Elisa berlari dikamar dan menangis. Nia hanya diam seolah tak terjadi apa-apa.


~ Jangan lupa like, dan komennya ya. Jika berkenan kasih vote ya. Supaya penulis semangat berkarya. Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2