
Setelah dari butik, Elisa pulang ke rumah dengan perasan gelisah. Mengapa laki-laki di masa lalunya yang pernah menggoreskan luka di hatinya. Kini hadir kembali mengatakan ingin bersamanya saat dia sudah bahagia.
Elisa masuk ke dalam rumah dengan lesu, duduk di sofa dan tampak termenung. Rita yang ada di rumahnya melihat Elisa terlihat termenung.
"Bu, maaf tadi aku ke kampus jadi pulang duluan." Ucap Rita duduk di sofa sambil membawa cemilan snack.
"Iya Rit, Vino mana?" Elisa menatap sayu.
"Vino sama Nana bu, jalan-jalan kompleks katanya bu." Jawab Rita sembari memakan snacknya, Elisa mengambil snack yang belum terbuka.
"Lima hari lagi ya bu," ucap Rita terlihat berseri-seri, Elisa hanya menjawab dengan senyuman. Sorot matanya terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ada apa bu, apa yang sedang ibu pikirkan?" tanya Rita, seperti itulah Rita selalu tahu dengan kondisi perasaan bos yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.
"Iya Rit, aku bingung kenapa dia muncul lagi disaat aku ingin menjalani hidup bahagia dengan pria lain." Wajah Elisa terlihat lesu.
"Maksudnya pak Faisal, laki-laki pengecut itu? mau apa sih dia." Rita terlihat emosi dan membenci mantan suami bosnya itu.
"Iya ayahnya Vino." Jawab Elisa lirih.
"Dia bukan ayahnya Vino, sebaiknya jangan pernah katakan dia ayahnya Vino ketika Vino sudah dewasa. Biar saja Vino menganggap dokter Farhan itu ayah kandungnya." Rita terlihat sangat membenci Faisal, karena Rita mengingat bagaimana dulu Faisal menghianati Elisa.
"Rit, walau bagaimanapun dia itu tetap ayahnya Vino. Ketika dewasa nanti, Vino harus tahu siapa ayah kandungnya."
Rita kesal mendengar ucapan Elisa. "Ayah, ayah yang tidak bertanggung jawab itu bu. Lalu ada apa pria itu menemui ibu?"
__ADS_1
"Dia, mengajak kita rujuk Rit." Elisa terlihat lesu.
"Ihhh, lucu laki-laki b*****, ke mana aja dia selama ini. Ketika bu Elisa sukses, kaya raya dia mau kembali. Dasar cowok nggak mau susah mau enaknya saja, nggak tau malu!" Rita mengumpat dengan kekesalan, Elisa terdiam dengan ucapan Rita.
"Bu, ingat dia sudah menghianati ibu. Dia tidak pantas mendapat maaf dari ibu. Melangkahlah ke depan bu, lupakan masa lalu. Masa depan ibu bersama dokter Farhan. Ibu dan Vino akan bahagia bersama laki-laki yang tepat." Rita menatap sayu matanya terlihat berkaca-kaca.
Elisa menarik napas panjang dan menghembuskan secara pelan. "Iya Rit, benar apa yang kamu katakan. Tapi, kenapa ya di saat aku ingim melanjutkan hidupku tiba-tiba dia muncul?"
"Mungkin ini ujian menjelang pernikahan bu, terus berdoa agar pernikahan ibu dilancarkan tidak ada halangan sedikit pun."
"Aamiin Rit, makasih ya." Elisa tersenyum menatap Rita, Rita membalas senyumannya dan memeluk bosnya itu.
"Oya Rit, aku mandi dulu kalau Vino nyariin bilang bunda mandi ya!" ucap Elisa beranjak dari sofa dan terlihat sudah mulai tenang dan wajahnya seketika berseri-seri. Elisa pun ke kamarnya dan mandi.
Setelah mandi Elisa keluar, Vino ternyata tertidur. Elisa mendekati Vino dan mencium keningnya dengan lembut. Nana berpamitan untuk pulang karena hari menjelang malam.
"Bu, nanti malam mau dimasakin apa?" tanya bi pada Elisa.
"Tidak usah masak ya bi, pesan aja. Nanti biar saya yang pesan." Jawab Elisa tersenyum sambil menggendong Vino naik ke atas menuju kamarnya.
Adzan maghrib berkumandang, Elisa pun melaksanakan shalat maghrib. Selepas shalat Elisa berdoa menumpahkan semua isi hatinya dan meminta diberi kelancaran menjelang pernikahannya.
Setelah shalat, Elisa memesan makan melalui pesan singkat. Elisa memesan untuk bibi dan orang yang bekerja di rumahnya. Tak lama pesanan pun datang.
Bibi mengambil pesanan yang diantar oleh kurir. Bibi menyiapkan makanan di meja makan lalu memanggil Elisa untuk makan malam.
__ADS_1
"Bi, ayo makan!" ucap Elisa ketika bibi ingin meninggalkan meja makan setelah menghidangkan untuknya.
"Bibi belum lapar bu, kebiasaan bibi makan nanti agak malaman. Bu Elisa makan duluan, apalagi bu Elisa seharian sibuk." Jawab bibi sembari menuangkan minum di gelas untuk Elisa.
"Ya udah aku makan dulu ya bi, bibi jangan ampe telat makan!" Ucap Elisa tersenyum, bibi tersenyum lalu meninggalkan Elisa yang tengah makan. Bibi duduk di ruang tengah sambil nonton sinetron kesuakaannya.
Saat makan, Elisa terlihat sedikit tak bernafsu meski makanan yang dia pesan sangat lezat. Entah mengapa pikirannya tiba-tiba mengingat siapa sebenarnya orang tua kandungnya. Dia ingin sekali menikah wali nikahnya adalah ayah kandungnya bukan wali hakim.
Meski Iwan sangat menyayanginya dan melebihi orang tua kandung. Tapi, hati kecil Elisa pun ingin mengetahui siapa sosok ayah dan mengapa memberikannya pada orang lain.
Elisa teringat saat ke Jogja mencari mereka dia harus kecewa dan hancur ketika tahu ibunya sudah meninggal. Kini ayah kandungnya pun ke mana tinggalnya, Elisa tidak tahu.
"Ya Allah, apa aku bisa bertemu dengan bapak. Apa ada keajaiban saat aku nikah, bapak sebagai wali nikah. Elisa ingin sekali saat nikah wali nikah itu bapak kandung." Batin Elisa sambil mengaduk-aduk makanannya yang terlihat tak selera.
Elisa ingin bertemu mereka setidaknya Elisa ingin juga berbakti pada orang tua kandungnya. Elisa tidak ingin dendam pada mereka, Elisa berharap bertemu bapaknya jika bapaknya hidup susah. Elisa bisa meringankan beban bapaknya dan saudaranya jika dia memiliki saudara.
Setelah makan Elisa naik ke atas ke kamarnya, Vino terlihat masih terlelap. Elisa mengecup kening Vino dengan lembut. Setelah shalat isya Elisa pun merebahkan tubuhnya di ranjang. Kebiasaan Vino tertidur sore hari dan akan bangun pada tengah malam, Elisa pun harus bangun menenangkan Vino jika Vino rewel.
Saat Elisa tiba-tiba memikirkan kedua orang tua kandung. Laras pun sedang memikirkan anaknya yang lama hilang. Laras terlihat merenung menatap langit-langit kamar, tubuhnya semakin kurus. Wajahnya terlihat tak secerah dulu. Terlihat banyak beban di matanya.
"Ma, kenapa mama tidak tidur?" Bagas menghampiri istrinya yang belum juga memejamkan matanya. Bagas pun sama dia terlihat gelisah sehingga duduk di sofa dan menyalakan tv sambil menikmati secangkir kopi.
"Pa, entah mengapa tiba-tiba hati mama sakit. Sesak sekali pa, mama tiba-tiba ingat anak kita. Bagaimana keadaannya apakah dia sudah nikah." Ucap Laras sendu, matanya terlihat sayu.
Bagas menghampiri istrinya lalu berbaring di dekatnya. Tangannya di atas kepala istrinya.
__ADS_1
"Ma, berdoa ya semoga segera dipertemukan. Semoga suaminya Marni segera menghubungi kita. Mama yakin pada papa, InsyaAllah jika kita sabar. Allah akan mengabulkan doa-doa kita." Ucap Bagas lembut sembari menghapus bulir-bulir air mata Laras.
Laras tersenyum mendengar ucapan suaminya. Dia pun memejamkan mata, Bagas memeluk istrinya dan mengecup keningnya.