
Hari pertama Elisa sekolah di SMA Tunas Mulya. Hatinya sangat gembira, tapi diapun sedih ketika harus berpisah dengan kedua sahabatnya. Karena sekolah ditempat yang berbeda.
Elisa tampak sangat cantik, memakai baju baru putih abu-abu. Gadis berjilbab ini memang sangat cantik, putih bersih, tinggi semampai dan hidung mancung.
"Hey Aq tini." Senyum manis seorang gadis berperawakan mungil menyapanya.
"Hey!" Elisa menyambut uluran tangannya.
"Kita sepertinya satu kelas ya."
"Hehehe iya, yuk kita masuk." Elisa berjalan menuju kelas.
Brukkkkk
"Ehhh maaf, saya tidak sengaja." Ujar Elisa merasa bersalah.
"Ehhh ga papa santai saja, saya yang salah. Senyum ramah seorang pria tampan." Membuat Elisa tak berkedip.
"Saya buru-buru, nenek saya sakit saya harus pulang cepat.
Elisa hanya diam mematung, menatap ketampanan pria itu. Diam-diam dia mengagumi wajah lembut pria yang tak sengaja dia tabrak.
"Hmmmm, baik banget tidak marah?" Elisa tampak tersenyum sendiri.
"Eh Elisa, kamu melamun?"
Elisa terkejut karena Tini menyadarkannya.
__ADS_1
"Astagfirullah, kenapa aku ini." Bisik Elisa dalam hati.
Hari ini Elisa sangat bahagia, dia bertemu dengan Tini yang baik. Dan akan selalu menjadi sahabatnya. Dan Elisa mengingat kejadian tadi disekolah, membuat dia senyum-senyum sendiri.
"Sungguh baru kali ini, aku melihat pria segagah dia. Xixixixixi..." Wajah Elisa tampak merah.
"Hey adikku, kenapa anda senyum-senyum sendiri jatuh cinta ya?" Goda Siska sambil mencubit pipi adiknya.
"Aduh kakak." Elisa cemberut pada kakaknya.
"Sekolah yang bener, janganlah cinta-cintaan dulu raihlah cita-cita adik."
"Apa kamu bilang baru saja sekolah sudah mikir cinta-cintaan, sudah nikah saja!" Nia tiba-tiba muncul dari dapur.
"Emmm bercanda bu." Siska berusaha menjelaskan.
Elisa terdiam, dia takut jika ibunya semakin marah.
Elisa tunduk takut jika ibunya semakin marah padanya.
Siska melihat mereka berdua dari kejauhan, tak terasa bulir-bulir bening menetes dimatanya.
"Bu, sampai kapan ibu perlakukan Elisa seperti itu." Siska diam dan tak kuasa menahan tangis.
Seperti biasa, tanpa istirahat Elisa harus pergi berjualan kue. Dari rumah kerumah tak memperdulikan panas matahari.
"Nak"
__ADS_1
Elisa dikagetkan dengan panggilan ibu-ibu dari salah satu rumah.
"Iya bu mau beli kue?" Elisa menghampiri ibu itu.
"Elisa, kamu sudah besar sangat cantik lagi. Kamu gak malu nak jualan kue seperti ini?" Ibu itu menatap iba pada Elisa.
"Kenapa harus malu bu, ini kan halal." Elisa tersenyum sambil membungkus kue.
"Semoga menjadi anak yang sukses ya nak." Ibu itu menyentuh kepala Elisa.
Elisa menatap ibu itu dengan senyuman menahan sedih.
"Terimakasih ibu"
Elisapun melanjutkan jualan, tanpa lelah dia terus menjajakan jualannya. Dibenaknya berfikir dia harus sukses, dia harus bisa membahagiakan orang tua dan kakaknya.
"Nak minta nak" Ucap Seorang pengemis tua.
Elisa melihat seorang pengemis yang tua renta. Elisapun berhenti dan menghampiri pengemis itu. Dan memberikan 1 lembar uang. Dan dua potong kue.
"Terimakasih nak, semoga Allah selalu melindungimu. Dan apa yang kamu inginkan tercapai."
"Aamiin terimakasih nek."
Langit tampak mendung, Elisa berteduh dibawah pohon. Dia membayangkan masa kecilnya dulu, terbesit dalam hatinya mengapa perlakuan ibunya berbeda. Apakah dia anak yang tak diinginkan. Apakah dulu sewaktu kecil dia pernah melukai ibunya. Mengapa seorang ibu sangat membenci anaknya.
Kini Elisa mulai berfikir apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Elisa tampak sedih, bingung sebenarnya apa yang terjadi.
__ADS_1
Langitpun semakin gelap, hujan akan segera turun. Elisapun bergegas pulang kerumah. Dia mempercepat langkahnya agar cepat sampai kerumah dan tidak kehujanan.
~ Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komennya. Jika berkenan vote ya. Terimakasih🙏