
Malam menyesakkan, malam yang seharusnya indah. Berubah menjadi menakutkan, malam pengantin indah jika dijalani oleh orang yang saling mencintai. Tapi bagai siksa untuk orang yang tak ada rasa cinta.
Kamar sudah dihias oleh Fisal, lampu remang-remang dan bunga bertebaran di ranjang. Baju tidur sangat terbuka sudah disiapkan oleh Faisal dan tergeletak diranjang. Elisa tampak sangat gelisah, ada perasaan menyesal telah mengambil keputusan secepat itu. Tapi dia sadar itulah jodoh adalah misteri. Elisa lalu duduk ditepi ranjang.
Krekkkkkk
Suara pintu terbuka dari luar.
Degg deggg
Jantung Elisa berdetak sangat kencang, Elisa duduk dikeremangan lampu. Tapi masih terlihat sangat jelas, hanya agak redup menimbulkan kesan romantis.
"Loh, sayang! Kok masih pakai baju gamis sama jilbab sih?" Ucap Faisal terkejut gaun tidurnya masih tergeletak di ranjang.
"Bang, aku nggak bisa pakai itu!" Ucap Elisa gemetar.
"Kenapa sayang kita sudah sah. Pakailah, please untuk suamimu ini dimalam spesial kita yang tak akan pernah kita lupakan." Faisal mendekati Elisa dan memberikan bajunya untuk ganti.
Elisa semakin gemetaran, Faisal tersenyum lalu meninggalkan Elisa dikamar sendiri untuk mengganti pakaiannya. Dia ingin ketika masuk dikamar ada kejutan.
Elisa bingung, bagaimana bisa dia berpakaian seperti itu. Walaupun Faisal sudah sah menjadi suaminya.
Dengan terpaksa Elisa memakai gaun tidurnya. Elisa tampak malu menatap tubuhnya, memakai baju yang cukup terbuka.
__ADS_1
Setelah 30 menit Faisal dengan perasaan tidak sabar. Masuk kedalam, hati Elisa berdegup sangat kencang.
"Dek, cantik." Faisal bengong menatap kecantikan istrinya. Elisa berusaha menutupi bagian depannya dengan menyilangkan kedua tangan. Rambutnya terurai hitam dan bergelombang, wajah ayunya membuat mata Faisal tak berkedip.
Faisal mendekat dan naik keatas ranjang, duduk tepat didepan istrinya. Menyikap rambut yang menutupi sebagian mukanya. Tangan Faisal membelai wajah Elisa, Elisa semakin gemetar. Faisal tersenyum menatap wajah pucat istrinya.
"Sentuhan hangat menyentuh bibirnya, Elisa hanya diam menerima sentuhan itu. Badannya gemetar, ingin meronta tapi suaminya.
Faisal menyentuh setiap inci tubuh Elisa, lalu merebahkannya. Wajah Elisa tampak sangat pucat, Faisal tambah bersemangat melakukan kewajibannya.
"Sayang, aku mencintaimu!" Bisik Faisal ditelinga Elisa.
Sentuhan demi sentuhan, Elisa berusaha menerimanya. Karena dia sadar sudah semestinya dia lakukan. Sangat lembut Faisal memperlakukan Elisa, Elisa memejamkan matanya. Tapi entah mengapa pikirannya teringat kesosok Farhan. Semakin berusaha melupakan, bayangan Farhan semakin jelas dipelupuk matanya Elisa membuka mata, seakan-akan suaminya adalah Farhan.
Faisal merebahkan tubuhnya disamping Elisa, rasanya badannya capek semua.
"Hmm, makasih ya sayang." Faisal mencium kening Elisa. Elisa kelelahan dan tertidur disamping Faisal. Faisalpun akhirnya tidur dan terlelap.
Keesokan harinya.
"Mmm...!" Elisa menggeliat, badannya terasa ngilu semua.
"Astagfirullah, apa yang terjadi. Ternyata aku sekarang sudah menikah, dan kenapa tadi malam sepertinya aku menikah dengan kak Farhan. Kenapa bisa?" Elisa tampak bingung dan rasanya dadanya sesak ingin menangis.
__ADS_1
"Tapi tadi malam aku juga menikmatinya. Maafin aku kak Faisal, aku sudah berdosa pikiranku keorang lain saat kamu menyentuhku." Elisa merasa bersalah. Dia memakai selimutnya dan memandangi Faisal.
"Mmm!" Faisal menggeliat dan melihat istrinya yang duduk masih menggunakan selimut.
"Sayang sudah bangun ya, hehehe aku kecapean jadi agak kesiangan." Ucap Faisal tersenyum.
Faisal mengambil piyama yang ada disamping tempat tidur lalu memakainya. Lalu mengahampiri istrinya dan menggendong Elisa.
"Aduh bang, mau ngapain?" Elisa berusaha meronta.
"Udah, kita mandi sama-sama." Faisal tersenyum menggoda.
Merekapun mandi bersama-sama. Setelah mandi shalat subuh berjamaah.
"Ya Allah, dia adalah jodohku. Semoga aku bisa mencintainya." Doa Elisa dalam hati.
Setelah shalat Faisal olah raga dan Elisa sibuk didapur untuk menyiapkan sarapan.
Matahari mulai tampak, Elisa masih sibuk memasak.
"Sayang, istriku rajin amat." Faisal memeluk melingkarkan tangannya dipinggang Elisa lalu meletakkan dagunya dibahu Elisa.
Elisa berusaha tenang, karena dia ingin menerima dengan sepenuh hati Faisal dan melupakan Farhan. Farhan hanyalah masa lalunya.
__ADS_1
~ Jangan lupa like, komen dan votenya ya. Jangan sampai lupa, supaya penulis semakin bersemangat berkarya. Terimakasih🙏