Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps. 73


__ADS_3

Farhan pun mengantar Elisa sampai ke rumahnya. Vino tampak tertidur di pangkuan bundanya. Meski capek karena sudah bertugas seharian di rumah sakit, Farhan terlihat begitu semangat karena Elisa dia menjadi semangat.


"Alhamdulillah dek sudah sampai." Ucap Farhan saat tiba di depan rumah Elisa. Detak jantung Elisa berdetak sangat kencang ketika sebutan dek terucap dari mulut Farhan.


Farhan tersenyum lalu membukakan pintu mobil untuk wanita pujaannya itu. Wajah Elisa terlihat tersipu dengan senyum tipis mengembang di bibir mungilnya.


"Terimakasih kak, kakak mari masuk dulu." Ucap Elisa lembut sambil menggendong Vino.


"Kakak langsung pulang ya, Vino ayah pulang ya nak." Farhan mengelus kepala Vino dengan lembut, lagi-lagi detak jantung Elisa berdegup sangat kencang.


Farhan tersenyum menatap Elisa, Elisa membalas senyuman Farhan dengan mata sendunya.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." Jawab Elisa tersenyum dan berdiri melihat ke arah Farhan yang masuk ke dalam mobil. Mobil Farhan melesat keluar pagar rumah Elisa, satpam pun menutup pagar .


Elisa mengucapkan salam dan di sambut oleh bibi. Bibi menggendong Vino dan menidurkan di box yang ada di ruang tengah.


"Bibi kira, ibu bermalam di rumah ibu dan bapak." Ucap bibi sambil menidurkan Vino.


"Nggak bi, bi aku bingung." Ucap Elisa duduk lesu, bibi yang sudah Elisa anggap seperti orang tua sendiri pun penasaran.


"Ada apa bu, sepertinya ada yang ibu sedang pikirkan? biar bibi buatin teh hangat dulu." Ucap wanita paruh baya itu beranjak ke dapur, meski hanya seorang pembantu tapi Elisa menganggapnya seperti orang tua sendiri dan selalu curhat dengannya.


Tak lama kemudian bibi menghidangkan teh hangat dan duduk di depan majikannya itu.


"Tehnya bu."


"Iya bi, Rita tidak bermalam di sini bi?"


"Tidak bu, katanya besok harus kuliah dan banyak tugas yang harus diselesaikan." Ucap bibi lembut.


Elisa menarik napas panjang dan terlihat melamun. Bibi menatap bingung, dia tau bagaimana kehidupan majikannya sebelum dia sukses. Bibi tau jalan cerita Elisa dari Rita dan bibi sangat kagum dengan Elisa. Meski sudah sukses dia tetap sederhana dan memperlakukan orang-orang yang bekerja padanya seperti keluarga sendiri.


"Bi...!" ucap Elisa terlihat lesu.

__ADS_1


"Iya bu." Ucap bibi menatap bingung dan iba melihat majikannya terlihat bingung.


Elisa menarik napas panjang lalu meraih teh hangat dan meneguknya. Elisa terlihat mencari kata-kata yang pas untuk menjelaskan kegundahannya pada bibi.


"Bibi tau kan dokter Farhan yang sering ke sini?" tanya Elisa dengan mata sendu.


"Iya bu, dokter ganteng itu?" jawab bibi terlihat sumringah.


Elisa mengangguk dan tersenyum terlihat gurat kegundahan dalam wajah Elisa. Bibi tersenyum menatap Elisa.


"Kenapa bu, jika dia memang laki-laki yang baik yang bisa menerima ibu dan Vino. Yang terpenting bisa menerima Vino, sudah apalagi bu. Apa yang ibu risaukan tentang dokter?" ucap bibi tau apa yang akan Elisa ceritakan.


Elisa menatap bingung, dia belum menceritakan tapi bibi sudah tau masalahnya. Elisa berpikir apakah Rita sudah menceritakan pada bibi. Tapi, seketika Elisa menyadari itu tidak mungkin karena Rita tidak suka menceritakan hal tentangnya tanpa izin padanya.


"Bu, bibi tau bagaimana perasaan dokter Farhan sama bu Elisa. Meskipun bu Elisa belum mengatakan pada bibi, apa bu Elisa lupa bibi sudah menggap bu Elisa seperti anak sendiri. Jadi, saat ada pria yang berusaha mendekati bu Elisa bibi orang pertama yang sangat bahagia." Ucap bibi bersahaja, meskipun Elisa sudah dia anggap seperti anak sendiri. Bibi tetap hormat pada Elisa. Meskipun Elisa sudah memintanya memanggil nama saja tanpa panggilan ibu.


"Makasih bi, tapi Elisa bingung bi." Ucap Elisa matanya berkaca-kaca.


"Nak, sudah saatnya kamu bahagia. Bibi sudah banyak melihat penderitaanmu nak. Singel parent berjuang sendiri membesarkan anak, kamu sangat sibuk dengan pekerjaan dan mengurus anak seorang diri. Bibi suka sedih, bibi suka berdoa untuk kebahagiaan kamu." Ucap bibi matanya berkaca-kaca, Elisa merasa tenang ketika bibi memanggilnya dengan sebutan nak.


"Nak, kata siapa emang kenapa kalau nak Elisa janda. Yang mengatakan tidak pantas siapa, nak Elisa sendiri kan? itu karena ketakutan nak Elisa sendiri. Sudah nak, jangan berpikir yang tidak-tidak. Bibi sebagai orang tua bibi melihat ketulusan nak Farhan. Sudah nak Elisa yakin dia pria terbaik."


"Bi, Elisa takut gagal lagi." Elisa menunduk dan memegang kepalanya. Bibi mendekati Elisa dan memegang bahunya dengan lembut.


"Nak, sampai kapan kamu berpikir seperti itu. Kalau kamu trauma kamu tidak akan pernah merasakan bahagia. Selama kami akan membiarkan anak kamu besar tanpa ayah. Vino butuh sosok ayah, sekarang pikirkan Vino. Dia butuh sosok ayah nak."


"Bi, andai ibu kandung Elisa masih hidup." Elisa memeluk bibi dan air matanya mengalir deras membasahi dada bibi. Bibi mengelus rambut Elisa dengan kasih sayang.


"Sudahlah nak ikhlaskan semoga ibu kandung nak Elisa tenang di sana. Maafkan masa lalu nak Elisa yang kelam, apalagi ibu Nia juga sudah berubah dan sudah menyayangi nak Elisa." Ucap bibi lembut.


"Huks...huks...andai ibu dulu seperti sekarang Elisa tidak akan pernah menikah dengan pria itu." Elisa sesenggukan di dada bibi.


"Nak, semua itu sudah takdir. Bersyukurlah meski pahit tapi kamu memiliki malaikat kecil Vino, percayalah dari semua ujian yang nak Elisa hadapi dari kecil. Sekarang nak Elisa memetik hasilnya, siapa sangka nak Elisa kecil penjual kue sekarang menjadi desainer terkenal yang diperhitungkan. Sangat membanggakan, itu adalah campur tangan Allah." Bibi mengelus kepala Elisa dengan lembut.


Elisa menghapus air matanya dan melepas pelukannya. "Makasih bi, bibi selalu ada buat Elisa ketika Elisa sedih. Iya bi, Vino adalah hadiah terindah buat Elisa. Meski ayahnya sudah membuat Elisa terpuruk, tapi sekarang Elisa sudah bangkit bi."

__ADS_1


"Syukurlah nak, shalat istikharah supaya yakin dengan pilihan nak Elisa." Ucap bibi tersenyum.


Elisa pun sudah lega dan pamit pada bibi untuk masuk ke kamarnya. Elisa menggendong Vino ke kamarnya. Bibi menatap Elisa tersenyum saat Elisa menaiki anak tangga dengan menggendong Vino.


"Kamu berhak bahagia nak!" batin bibi terharu.


Sementara di rumah Farhan, Farhan tengah menikmati makan malam bersama kedua orang tua dan adiknya. Farhan ingin mengatakan niatnya menikah dengan Elisa pada kedua orang tuanya.


"Ma, pa. Farhan ingin mengatakan sesuatu." Ucap Farhan saat mereka sudah selesai makan dan masih duduk di meja makan. Mita menatap kakaknya dan sudah menerka-nerka jika Farhan akan mengatakan hubungannya dengan Elisa.


"Iya katakan, apakah kamu berubah pikiran dan akan tetap melanjutkan pernikahan kamu dengan Putri Farhan?" Tanya Santy berseri-seri.


"Sudah dengarkan anak kamu dulu." Ucap Ahmad menenangkan istrinya.


"Bukan tentang Putri ma, tapi tentang calon istri Farhan." Ucap Farhan tersenyum.


"Siapa wanita kampungan itu?" tanya Santy kesal.


"Ma, dia bukan wanita kampungan ma. Paling tidak mama jangan melihat orang dari status sosialnya. Kita semua sama ma." Ucap Farhan kesal tapi dengan suara lirih.


Mita beranjak dan membiarkan kakaknya berbicara pada orang tuanya. Mita pun kesal dengan sifat mamanya, dia lebih memilih masuk ke kamar untuk mengerjakan tugas-tugasnya.


"Farhan ingin menikah dengan Elisa, dua hari kagi kita akan datang ke rumah orang tua Elisa untuk mengkhitbah."


Santy menatap kesal. "Farhan, sekarang kamu tidak butuh mama papa untuk kehidupan kamu. Kamu dengan seenaknya mengambil keputusan. Kamu kena pelet ya nak, apa hebatnya wanita itu!"


"Ma...sudahlah anak kita sudah dewasa. Dia berhak menentukan dengan siapa dia menjalani hidupnya." Ucap Ahmad berusaha menerima.


"Pa, kenapa papa ngebelain dia. Oke, mama ikhlas kamu tidak dengan Putri, setidaknya kamu cari yang selevel dengan kamu. Dokter cantik di tempat kamu bertugas kan ada, kenapa harus wanita kampungan dan janda itu!" ucap Santy terlihat amarah di matanya.


Farhan menarik napas panjang dan berusaha tetap sabar. "Maaf ma, pa dua hari lagi kita akan ke rumah orang tua Elisa. Semua yang akan dibawa ke sana biar Farhan yang siapkan. Farhan capek, Farhan mau tidur pa." Farhan dengan lesu berdiri dan meninggalkan mama papanya di meja makan.


Farhan masuk ke dalam kamar, merebahkan tubuhnya di ranjang. Menatap langit-langit kamar, hatinya sedih mengapa mamanya begitu menganggap hina wanita yang sangat dia cintai.


"Ya Allah, semoga kami bisa melewati ini semua. Semoga mama suatu saat nanti bisa menerima Elisa dan Vino." Batin Farhan sendu.

__ADS_1


🌿Like, komen dan vote. Terimakasih🙏


__ADS_2