Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps. 74


__ADS_3

Beberapa hari ini Farhan terlihat sibuk mempersiapkan keperluan untuk lamaran. Farhan sudah ke toko berlian untuk membeli cincin dan menyiapkan semua seserahan lamaran sendiri. Farhan tidak melibatkan kedua orang tuanya apalagi mamanya belum merestui hubungan dia dengan Elisa.


Saat Farhan sibuk mempersiapkan seserahan, Elisa pun sibuk mempersiapkan untuk menjamu mereka. Meskipun acaranya dilakukan sederhana, Elisa pun tampak sibuk di rumah orang tuanya. Elisa sudah mempersiapkan kebaya muslim untuk dia gunakan saat khitbah.


Nana dan Rita pun ikut bersama Elisa di rumah orang tuanya. Nana bertugas menjaga Vino, sedangkan Rita bertugas membantu keperluannya. Bibi tidak ikut karena menjaga rumah.


"Nak, apa sudah lengkap semua?" tanya Nia menghampiri Elisa yang tengah merapikan tempat untuk acara. Bersama Rita dia merapikan meja untuk menu.


"Iya bu, Alhamdulillah!" jawab Elisa berseri-seri meski dari semalam dia gelisah memikirkan acaranya nanti.


Acara khitbah akan dilaksanakan selepas pukul 14.00. Tinggal dua jam lagi acara dimulai, Elisa merapikan tempat acara dibantu Rita. Rita memasang ambal di lantai sedangkan Elisa merapikan meja tempat menu.


Akhirnya persiapan mereka selesai, rumah sudah terlihat rapi. Ada tempat untuk mereka mengabadikan momen bahagia nanti. Elisa menyewa wedding organizer untuk mengurus keperluan dekorasi dari lamaran sampai pernikahan.


Dekorasi sederhana di dalam rumah, Elisa ingin lamaran kali ini cukup berkesan. Dia ingin mengabadikan momen bahagia bersama Farhan.


Selepas shalat dzuhur, Elisa kembali melihat apakah sudah rapi dan siap menyambut calon suaminya beserta keluarganya. Setelah mengecek apakah tidak ada yang terlewat, Elisa pun mandi dan bersiap. Elisa lebih memilih merias wajahnya sendiri, Elisa merias wajahnya dengan natural.


Elisa tampak anggun dan cantik dengan kebaya muslim berwarna hijau mint. Ibu, Rita dan Nana memakai kebaya yang warnanya senada dengannya. Ayah Elisa memakai batik berwarna abu-abu.


Tetangga Elisa membantu mempersiapkan menu untuk dihidangkan saat lamaran. Nia hanya memanggil tetangga dekat dan tidak banyak. Karena mereka hanya mengadakan lamaran secara sederhana.


Farhan bersama kedua orang tua dan adiknya pun sudah menuju ke rumah Elisa. Tante dan om Farhan ikut bersama mereka. Saudara dari mama dan papanya. Jadi mereka ke rumah delapan orang. Mereka sengaja tidak membawa semua keluarga karena permintaan Farhan.


Orang tua Elisa sudah siap menunggu keluarga Farhan. Vino ada di gendongan Nana baby sisternya. Vino terlihat tenang karena di tangannya dia memegang mainan.


Elisa masih di kamar ditemani Rita. Elisa terlihat sangat cantik dengan make up natural. Elisa duduk ditepi ranjang, detak jantungnya berdetak sangat kencang. Sebentar lagi momen bahagia itu akan segera dilaksanakan. Tiba-tiba saat Elisa gelisah, Elisa menerima panggilan vc dari kakaknya.


Elisa dengan cepat mengangkat panggilan vc. "Assalamualaikum kak. Bagaimana kabar kakak?" tanya Elisa dengan wajah bahagia, tapi sekaligus sedih karena kakaknya tidak bisa hadir diacara khitbahnya.


"Adek, alhamdulillah kakak baik sehat sayang. Selamat ya sayang, sebentar lagi kamu akan tunangan." Ucap Siska matanya berkaca-kaca. Meski dia bahagia, tapi dia pun sedih tidak bisa hadir dalam acara bahagia adik kesayangannya itu. Bahkan sudah 6 tahun mereka tidak bertemu. Siska sudah memiliki dua anak laki-laki dan perempuan.


"Ini abang kamu dek." Ucap Siska mengarahkan kamera kepada suaminya. Kedua anaknya ada di depan suaminya, yang pertama anak Siska berumur 5 tahun dan yang kedua berumur 2 tahun.


"Bang Beni!" ucap Elisa bahagia.


"Adek selamat ya, maaf kami tidak bisa hadir. Bang sibuk di sini dek, nanti kalau pernikahanmu InsyaAllah kakak kamu ke situ." Ucap Beni dengan suara lembutnya.


"Iya bang nggak apa-apa. Doain acaranya lancar, ponakan aunty sehat terus ya." Ucap Elisa tersenyum meski terlihat gurat sedih di matanya.


"Iya aunty selamat ya, salam buat om Farhan sama dek Vino." Ucap Siska bahagia, hati Siska sedih karena dia harus tinggal jauh dengan adiknya. Dia dan suaminya tinggal di Medan, sudah enam tahun tidak pernah pulang ke rumah. Hanya melalui telepon mereka saling melepas rindu.

__ADS_1


Farhan dan keluarganya sudah tiba di rumah Elisa. Rita memberi tahu Elisa bahwa calon suaminya sudah tiba di rumahnya.


"Bu, pak dokter sudah datang." Ucap Rita lirih, Siska dan Beni tersenyum mendengarnya.


"Ya sudah dek, nanti disambung lagi. Peluk cium dari kakak untukmu sayang. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." Jawab Elisa, panggilan telepon pun terputus.


Farhan dan rombongan turun dari mobil. Mereka di sambut dengan ramah oleh kedua orang tua Elisa, Santy terlihat menampakkan wajah masamnya.


"Selamat datang pak, bu di rumah kami yang sangat sederhana ini." Ucap Iwan dengan ramah mengulurkan tangannya, Nia tersenyum di samping suaminya.


"Ihh bisa-bisanya calon besan aku kampungan kayak gini. Bagus sih rumahnya tapi, nggak selevel dengan kita." Batin Santy kesal matanya ke sana ke mari melihat ruangan rumah orang tua Elisa.


Mereka duduk di lantai beralaskan ambal. Elisa masih di kamar, dag dig dug detak jantung Elisa saat dia bersiap keluar kamar untuk menemui calon suami dan calon mertuanya.


"Ayo bu, sudah siap?" tanya Rita lembut, dia tau jika bosnya itu gelisah.


Elisa tersenyum dan mengangguk. Mereka pun keluar kamar, Rita berjalan di samping Elisa. Dag dig dug detak jantung Elisa, seketika mata Farhan tertuju pada Elisa yang berjalan ke arahnya.


"MasyaAllah Elisa, engkau terlihat begitu cantik." Batin Farhan menatap takjub Elisa.


"Yang mana Elisa nak?" tanya Ahmad penasaran ketika melihat Elisa dan Rita.


"Pintar kamu cari calon istri nak, anggun dan sederhana." Puji Ahmad lirih, Siska yang duduk di sampingnya merasa kesal dengan pujian suaminya.


"Wah cantik banget calon istri kamu Farhan." Bisik tante Farhan memuji.


Elisa tersenyum lalu duduk di samping kedua orang tuanya. Nana duduk di belakang Elisa dengan Vino yang ada di pangkuannya. Rita duduk di samping Nana.


"Bapak, ibu kedatangan kami ke sini ingin mengkhitbah anak bapak untuk menjadi calon istri Farhan anak saya." Ucap Ahmad lembut.


"Alhamdulillah pak, kami sebagai orang tua merestui. Tapi, semua tergantung dengan anak kami." Jawab Iwan sembari tersenyum, ada gurat kebahagiaan di matanya.


"Bagaimana nak, apakah kamu menerima khitbah Farhan?" tanya Ahmad lembut, hati Siska semakin kesal karena suaminya sudah menyukai Elisa.


Elisa terdiam dan tiba-tiba mengangguk sembari tersenyum." Iya pak saya terima."


"Alhamdulillah." Jawab mereka serentak, Farhan tersenyum bahagia.


Siska terlihat cemberut tapi tiba-tiba tersenyum kecut berusaha menyembunyikan jika dia tidak merestui Farhan dengan Elisa.

__ADS_1


"Ma pakaikan cincin dijemari calon menantu kita!" ucap Ahmad lembut.


Dengan malas Siska mengambil kotak cincin dan tersenyum kecut memasangkan cincin dijemari tangan Elisa. Elisa tersenyum dan refleks memeluk Siska, Siska dengan terpaksa memegang bahu calon menantunya itu.


"Alhamdulillah pak, bu sebaiknya acara pernikahan mereka diadakan secepatnya untuk menghindari fitnah." Ucap Ahmad lembut.


"Baik pak, bagaimana nak Farhan?" Iwan menatap lembut Farhan.


"Iya pak, Farhan setuju lebih cepat lebih baik." Jawab Farhan bahagia.


"Alhamdulillah, secepatnya. Bapak sudah mencari tanggal baik dan bertanya pada ustadz pernikahan kalian akan dilaksanakan 10 hari lagi." Ucap Iwan mantap.


"Alhamdulillah, kita akan mempersiapkan semuanya dengan cepat pak." Ucap Ahmad tersenyum bahagia.


Setelah membicarakan rencana pernikahan mereka pun menikmati hidangan. Setelah menikmati hidangan, mereka kembali membahas rencana pernikahan. Terlihat Vino tertidur di gendongan Nana. Ahmad menghampiri Nana yang tengah menggendong Vino.


"Ini cucu opa?" tanya Ahmad lembut sambil mengelus kepala Vino.


"Iya opa, ini Vino. Usianya sudah satu tahun." Jawab Elisa lembut.


"Alhamdulillah cucu opa, jadi anak sholeh ya sayang." Ahmad mengelus kepala Vino, Santy terlihat diam dan kesal. Iwan dan Nia tersenyum bahagia melihat pemandangan membahagiakan itu.


Farhan pun tersenyum lega karena papanya sudah bisa menerima Elisa dan anaknya.


"Calon ponakan aunty ganteng banget." Ucap Mita bahagia, dari pertama acara dia hanya diam saja karena memikirkan mamanya yang tidak setuju dengan hubungan kakaknya.


"Iya aunty, aunty juga cantik." Elisa merangkul bahu Mita sembari tersenyum.


"Makasih kak Elisa, kak Elisa cantik banget." Ucao Mita manja, Elisa tersenyum mendengarnya.


Farhan dan Elisa kemudian mengabadikan momen bahagia mereka. Fotografer mengabadikan momen bahagia mereka. Baru kali ini Elisa mengabadikan momen penting dalam hidupnya. Karena Vino tertidur, mereka foto tanpa Vino.


"Baiklah pak, kami harus pamit. Terimakasih sudah menyambut kami dengan meriah." Ucap Ahmad lembut.


"Sama-sama pak, kami mengucapkan terimakasih kepada bapak ibu semuanya." Jawab Iwan lembut.


Setelah berpamitan mereka pun meninggalkan rumah Elisa. Elisa dan keluarga mengantar mereka sampai di depan pintu, mereka melambaikan tangannya.


"Alhamdulillah bu lancar semuanya, selamat berbahagia calon nyonya dokter ganteng." Rita memeluk Elisa dengan bahagia.


"Terimakasih adikku sayang, ini karena kamu juga." Ucap Elisa bahagia.

__ADS_1


Nana datang menghampiri Elisa, "Selamat ibu, Nana bahagia sekali."


"Makasih sayang." Elisa tersenyum sembari memegang pipi Nana, mereka pun berpelukan. Vino sudah tidur di ranjang, mereka pun ngobrol sambil menikmati cemilan. Terlihat wajah bahagia Elisa. Rita dan Nana pun merasakan kebahagiaan bosnya itu.


__ADS_2