Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps. 63


__ADS_3

Malam ini Elisa tampak gelisah, dia duduk di ruang tengah sambil memangku Vino. Elisa benar-benar rapuh, dia sudah berusaha melupakan Farhan. Tapi, entah mengapa Farhan selalu bermain di pelupuk matanya. Bayangan masa lalu menghantuinya, masa-masa indah mengenal sosok Farhan semua muncul dipikirannya.


Tiba-tiba Vino rewel, Elisa berusaha menenangkan anaknya.


"Cup cup sayang, jangan nangis ya mau bobo ya." Elisa menggendong Vino lalu mengelus-ngelus kepala anaknya.


Vino tetap saja rewel, Elisa berdiri dan berjalan bolak balik diruangan untuk menenangkan Vino.


"Apa dia rindu sosok ayahnya ya." Bisik Elisa


Vino terus menangis, Elisa berusaha menenangkan Vino sambil mengusap-usap kepalanya.


"Sayang, kenapa nak. Ngantuk ya, ayo bobo ya udah malam sayang." Elisa membawa Vino ke kamar dan terus menenangkan Vino. Akhirnya setelah satu jam Vino rewel, Vino tertidur di gendongan ibunya. Elisa lalu menidurkan Vino di tempat tidur.


"Maafin ibu sayang, seharusnya kamu nggak ngalamin kayak gini. Seharusnya ada ayah di samping kamu." Elisa mencium kening Vino yang sudah terlelap.


"Ya Allah, semoga Vino tidak mengalami pahitnya kehidupan seperti aku dulu. Aku akan menjadi sosok ibu dan ayah untuk anakku. Semoga aku bisa membahagiakan dia." Bisik Elisa air matanya tak kuasa menetes dipipinya. Elisa tidur di samping Vino sesekali mencium kening Vino yang sudah terlelap.


Elisa pun sadar dia tidak seharusnya memikirkan Farhan. Cerita dia dan Farhan hanyalah masa lalu ketika Vino belum lahir. Elisa bertekat ingin fokus membesarkan Vino dan melupakan masa lalunya. Elisa berusaha memejamkan mata, tapi susah terpejam.


Setelah larut malam Elisa baru bisa terpejam. Adzan subuh Elisa terbangun untuk melaksanakan shalat subuh. Setelah shalat Elisa seperti biasa merapikan kamar, dan membuatkan bubur untuk Vino sarapan.


"Hmm, semoga Vino nggak rewel lagi. Nanti di tinggal di butik jadi nggak nyusahin Nana." Ucap Elisa senang sambil sibuk membuatkan bubur anaknya.


Setelah selesai membuat bubur, Elisa pun bersiap mandi sebelum Vino terbangun. Elisa sudah selesai mandi dan berpakaian tapi belum menggunakan hijab dan make up.


Tiba-tiba Vino terbangun dan rewel lagi. Elisa terkejut dan mendekati anaknya.


"Wah udah bangun anak ibu." Elisa berjalan mendekati Vino.


"Astagfirullah sayang, kenapa badan kamu panas gini." Elisa tampak panik, dia langsung menggunakan hijab tanpa menyisir rambut dan tanpa memakai make up. Elisa menggendong Vino dan turun dari kamarnya.


"Bu ada apa Vino?" Tanya bibi khawatir.


"Bi Vino badannya panas, demam ini bi pantas dari tadi malam rewel terus." Ucap Elisa khawatir.


"Ibu mau ke rumah sakit, biar saya panggilkan mamang." Ucap bibi bergegas memanggil supir ke belakang.


Elisa mondar mandir di ruang depan, tidak sabar menunggu supir untuk mengantarnya ke rumah sakit. Jam menunjukkan pukul 07. 30 Elisa sebenarnya sudah akan ke butik.


"Mari bu." Ucap Supir menghampiri Elisa.

__ADS_1


"Iya pak ayo." Elisa pun bergegas ke luar dan masuk ke dalam mobil, Elisa takut anaknya semakin parah.


"Mulai kapan Vino panas bu?" Ucap supir terlihat khawatir.


"Tadi pagi mang, tadi malam tu rewel terus." Ucap Elisa sedih.


"Ayo mang cepat mang." Ucap Elisa tak sabar, supir pun mempercepat kecepatannya.


Sampailah mereka di rumah sakit Elisa langsung ke luar dan buru-buru membawa anaknya ke dokter. Sedangkan supir menunggu di mobil.


Vino di rawat di Ruang VIP, perawat membawa Vino masuk keruangan. Elisa tampak ingin terus ada di samping anaknya.


"Maaf bu, ibu tunggu di luar ya." Ucap perawat itu lembut. Dengan berat hati Elisa terpaksa menunggu di luar ruangan di mana anaknya di rawat, Elisa melihat anaknya ditangani perawat dari kaca yang ada di pintu.


"Ya Allah, semoga kamu nggak apa-apa nak." Elisa terus melihat Vino dari luar air matanya mengalir deras dipipinya.


"Permisi." Suara lembut mengejutkan Elisa, Elisa mengenal betul siapa yang memiliki suara itu. Elisa menoleh ke belakang di mana seorang laki-laki berdiri di depannya.


"Loh." Ucap Farhan terkejut melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu adalah Elisa.


"Dok, tolong Vino sakit dok." Ucap Elisa memegang tangan Farhan. Entah mengapa hati Farhan terasa teriris melihat Elisa berurai air mata, dari dulu Farhan tidak pernah bisa melihat Elisa sedih.


"Jadi anak kamu yang sakit?" Ucap Farhan dan bergegas masuk tanpa mendengarkan jawaban dari Elisa. Farhan mendekati Vino lalu meriksanya, Farhan tidak tega melihat anak sekecil itu sudah di infus.


"Bu, bagaimana Vino?" Ucap Rita khawatir.


"Dia masih di periksa dan sudah mendapat perawatan." Ucap Elisa lesu.


Rita berdiri di depan pintu melihat ke dalam ruangan di mana Vino di rawat. Elisa melihat dokter yang merawat Vino adalah Farhan, Elisa terkejut dan terharu ketika Vino memegang kening Vino dan duduk di sampingnya. Vino tampak tertidur pulas, tapi Rita juga tidak tega melihat Vino terbaring lemas.


"Panas sekali kamu nak." Farhan memegang kening Vino.


"Suruh ibunya masuk." Ucap Farhan kepada perawatnya.


Perawat pun keluar lalu memanggil Elisa. Elisa pun tak sabar langsung masuk ke dalam.


"Dok, bagaimana anak saya?" Ucap Elisa khawatir.


Farhan menatap Elisa lembut, dan bingung di mana suaminya kenapa dia tidak ada ketika anaknya sakit. Elisa menghampiri Vino lalu duduk disampingnya lalu mengecup kening Vino. Farhan berdiri di belakang Elisa.


"Ya Allah pengen banget mereka bersatu, tapi bagaimana pak Farhan sebentar lagi nikah." Bisik Rita di balik pintu, air matanya menetes dipipinya.

__ADS_1


"Elisa jangan khawatir, anak kamu cuman demam. Setelah mendapatkan perawatan Vino akan baik-baik saja." Ucap Farhan lembut.


"Terimakasih dok." Ucap Elisa tersenyum lalu menghapus air matanya.


"Ayahnya ke mana Elisa?" Tanya Farhan lirih takut mengganggu Vino.


"Ayahnya lagi ke luar kota dok." Jawab Elisa berbohong.


"Kok ibu berbohong sih, jelas-jelas mereka sudah pisah." Bisik Rita kesal di luar pintu.


"Hhhm, mungkin ibu punya alasan lain kenapa ibu berbohong. Ibu mungkin tidak mau menghancurkan pernikahan dokter." Bisik Rita lalu duduk di kursi.


"Elisa, aku ke pasien yang lain ya. Jangan panik, kalau ada apa-apa cepat hubungi kami." Ucap Farhan menyentuh pundak Elisa dan tersenyum padanya.


"Terimakasih dok." Ucap Elisa tersenyum lembut.


Farhan ke luar dan melihat Rita yang duduk dan terlihat cemas. Farhan tersenyum pada Rita.


"Dek, silahkan temani bu Elisa di dalam." Ucap Farhan ramah.


"Terimakasih dok." Ucap Elisa senang lalu masuk ke dalam.


"Bu, bagaimana panasnya?" Ucap Rita khawatir.


"Sudah mulai menurun Rit Alhamdulillah. Kamu nggak ke butik?"


"Tadi ke sana bentar bu baru ke sini." Ucap Rita duduk di samping Elisa.


"Oh ya sudah, nanti kalau ada yang mencari, nanti bisa hubungi kita." Ucap Elisa lalu mencium kening anaknya.


"Pak Farhan, ganteng baik lagi ya bu?" Ucap Rita tersenyum.


"Iya baik banget Rit." Ucap Elisa tersenyum.


Rita tau jika bosnya itu masih menyimpan perasaan yang besar kepada Farhan. Begitu pun Rita tau jika Farhan masih mencintai Elisa.


"Semoga ada keajaiban kalian bisa bersatu lagi." Bisik Rita dalam hati.


Farhan diruangannya memikirkan Elisa, kemarahannya pada Elisa sudah hilang seketika setelah melihat perjuangan seorang ibu pada anaknya. Farhan mulai ikhlas jika Elisa bahagia bersama suaminya apalagi Elisa sudah memiliki seorang anak.


"Semoga kamu selalu bahagia Elisa." Bisik Farhan hatinya tak tega melihat Elisa sedih.

__ADS_1


**Jangan lupa like, komen dan vote. Terimakasih.


__ADS_2