Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps. 55


__ADS_3

Sudah genap satu tahun usia Vino. Elisa merayakan ultah anak nya hasil dari buah hatinya bersama Faisal dengan mengundang anak yatim piatu.


"Ibu Elisa, terimakasih sudah mengundang kami." Ucap Ustadzah Hany tersenyum.


"Sama-sama ustadzah terimakasih sudah sudi hadir di kediaman kami."


"Bu kami harus pamit, kami ucapkan banyak terimakasih sudah berbagi kebahagiaan kepada mereka. Dan selama ini ibu selalu menjadi donatur di panti asuhan kami." Ustadzah Hany mengulurkan tangan.


"Sama-sama ustadzah, Alhamdulillah kami di beri rezeky yang lebih jadi kami bisa berbagi. Sebagian dari harta kami ada hak untuk mereka." Ucap Elisa lembut dan membalas uluran tangan ustadzah.


Ustadzah bersama anak panti asuhan dan pengasuh lainnya meninggalkan rumah Elisa. Elisa bahagia dan tersenyum mengantar mereka sampai ke depan rumah di dampingi ibu dan bapaknya. Hati Elisa bahagia akhirnya dia sekarang bisa berbagi pada orang yang membutuhkan.


Mobil mereka sudah meninggalkan rumah Elisa. Elisa bersama ibu bapaknya masuk ke dalam rumah.


"Nak, ibu bangga sama kamu. Elisa dulu yang kecil suka jualan keliling sekarang jadi sukses, rumahnya besar punya mobil mewah." Nia tampak kagum dengan kesuksesan anak angkatnya.


"Hehehehe, ini berkat ibu bapak juga. Ibu yang ngajari Elisa jadi kuat, harus berjuang sekarang Alhamdulillah Elisa sukses bu."


"Ya, bapak dulu tidak pernah bisa bahagiain kamu nak. Sekarang kamu yang bahagiain bapak sama ibu." Ucap Iwan menatap sayu.


"Sudah tugas seorang anak membahagiakan orang tuanya pak bu."


"Vino ikut nenek sini" Nia mengambil Vino dari gendongan Rita.


"Kok nggak mau sih nak, nenek kan kangen ma cucu." Nia tampak tersenyum bingung cucunya nggak mau digendong.


"Hehehehehe, Vino memang susah nek. Maunya sama tante Rita terus. Vino itu lebih nangis di tinggal tante Ritanya dari pada di tinggal bundanya." Ucap Elisa geli.


"Sayang ya sama tantenya. Hehehhe" Nia bahagia karena Elisa tidak sendiri ada yang menemani seperti adik sendiri.


"Nak, sudah satu tahun kan kamu pisah sama suami kamu. Sudah sepantasnya kamu memikirkan kebahagiaan kamu sekarang." Ucap Iwan lembut.


"Elisa bahagia pak."

__ADS_1


"Bukan itu maksud bapak nak, sudah seharusnya kamu cari pengganti ayah Vino. Supaya ada yang menemani dan melindungi kalian."


"Iya nak, ibu pengen liat kamu bahagia lagi." Ucap Nia menatap sayu.


"Sekarang belum kepikiran ke situ bu. Elisa fokus dengan karir, jodoh di tangan Allah Elisa pasrah aja bu kapan dipertemukan dengan jodoh Elisa yang baik yang bisa menerima Vino."


"Iya benar nak, yang terpenting bisa menerima Vino dan menganggapnya anak sendiri." Ucap Nia tersenyum.


"Rumah kamu ini nak, MasyaAllah besar banget lo ini. Habis berapa kamu bangun ini sayang?" Mata Nia ke sana ke mari melihat ruangan rumah Elisa 2 lantai dan megah.


"Hehehehehe, jangan heran bu pasti habis banyak. Tapi, hasil rancangan bu Elisa satu saja udah puluhan juta bu. Xixixixixixi" Ucap Rita memuji bosnya.


Elisa hanya tersenyum mendengar kata-kata Rita yang memujinya.


"Wah, ibu senang dengarnya. Pantas sudah bisa bangunkan rumah bapak sama ibu." Ucap Nia kagum.


"Hehehehe, Alhamdulillah bu. Oya kakak mau pulang kan bu?"


"Elisa, pasti bapak kandung kamu bangga kalau tau anaknya sukses nak." Ucap Iwan sedih.


Wajah Elisa berubah murung, dia sudah lupa dan sudah tidak berniat mencari bapaknya yang sampai sekarang sudah melupakannya.


"Sudahlah pak, Elisa sudah bahagia punya bapak, ibu, kakak, Vino. Lupakan saja siapa orang tua kandung Elisa, ibu Elisa sudah meninggal. Tinggal bapak tapi kenapa tidak nyari Elisa."


"Ya mungkin bapak kamu kesusahan ekonomi nak." Ucap Iwan sayu.


"Entahlah pak, tapi Elisa kecewa pak. Hmm sudah lupain aja ya pak kita bahagia aja dengan kehidupan sekarang. Elisa punya kalian, Elisa sudah lupa siapa Elisa." Ucap Elisa tersenyum tapi matanya berkaca-kaca.


"Aku kok nggak di ingat?" Tiba-tiba Rita nyeletuk menggoda.


"Hahahahaha, iya ya adek aku satu ini sampai lupa. Ntar Vino marah lagi tantenya nggak diakui." Elisa merangkul Rita yang duduk di sampingnya.


Iwan dan Nia bahagia menatap mereka berdua yang sudah seperti kakak adik dan Rita yang setia mendampingi Elisa dari nol dari Elisa berjuang untuk bangkit.

__ADS_1


"Rita kamu lihat kamu contoh Elisa, dia sukses sekarang. Siapa yang nyangka dia seperti apa dulu, perjuangan dia penderitaan dia. Sekarang banyak yang kenal sosok Elisa sebagai Desainer terkenal padahal hanya lulus SMA." Ucap Nia matanya berkaca-kaca.


"Iya bu, bu Elisa sudah seperti kakak. Guru sahabat dan bos yang sangat baik. Rita tau bagaimana bu Elisa berjuang dari bawah, saat jatuh bu Elisa berusaha bangkit dan ingin lebih baik. Dan selalu memaafkan masa lalu yang buruk." Ucap Rita sedih.


"Hehehehehe, makasih ya Rit. Tugas kamu selesein kuliah buat bangga orang tua di kampung." Ucap Elisa lalu mencium Vino yang ada di pelukan Rita.


"Iya bu. Aamiin."


"Bapak sama ibu harus pulang nak, nggak enak ninggal rumah." Ucap Iwan lalu beranjak dari kursinya.


"Bapak sama ibu nggak nginap?" Wajah Elisa tampak sedih.


"Nggak nak, lain kali saja. Besok itu ada tukang yang bangun rumah, nggak enak kalau di tinggal." Ucap Nia tersenyum.


"Iya pak bu, hati-hati di jalan.


"Vino ikut nenek kakek aja. Sepi biar rame." Nia mencium Vino.


"Hehehehehe, udah gede aja ya nanti rewel terus Vino ya." Elisa bergelayut manja pada ibunya.


"Kamu hati-hati sayang." Nia mengecup kening Elisa.


Elisa mencium tangan ibu bapaknya. Iwan dan Nia pergi meninggalkan rumah Elisa, Elisa mengantar sampai ke depan dan memanggil taksi.


Nia dan Iwan melihat dari kaca jendela taksi, melihat anak yang dulu hidup menderita sekarang berdiri di depan rumah mewah miliknya. Nia menyesal dulu tidak pernah menyayangi Elisa tapi Elisa tidak pernah membalas dengan keburukan. Justru Elisa menghujani dengan kemewahan. Dan membalas dengan terus berbakti kepada orang tuanya. Tak terasa bulir air mata Nia menetes.


"Bu, kok nangis?" Iwan menatap sayu istrinya yang duduk di sampingnya.


"Terharu pak, nggak nyangka Elisa bisa sukses seperti sekarang." Nia menghapus air matanya.


"Alhamdulillah bu, anak yang dulu menderita sekarang jadi kebanggaan orang tua." Ucap Iwan tersenyum.


** Jangan lupa like dan komen. Vote juga ya, dukungan kalian membuat author semakin semangat berkarya. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2