Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 10


__ADS_3

Nara Aida. Gadis cantik, mandiri dan sangat modis dengan kefeminimannya. Rambutnya yang terurai panjang, bulu matanya yang lentik, membuat takjub kaum Adam yang melihatnya.


Nara Aida adalah adik kelas Husni Setiawan. Mereka berpacaran sudah cukup lama. Sejak mereka masih duduk di bangku SMP.


Nara dan Husni Harus berpisah, saat Nara memutuskan untuk melanjutkan studynya ke luar negri.


Namun bukan cuma pada waktu itu, Nara menjalani hubungan jarak jauh dengan Husni, merekapun sudah menjalani hubungan jarak jauh waktu Husni dalam pesantren. Karena setelah lulus SMP, Husni memilih untuk mendalami ilmu agama di pesantren.


Dan saat itulah cinta keduanya di uji. Mereka sering menemui banyak kesulitan saat berkomunikasi.


Namun setalah lima tahun berlalu, keduanya di pertemukan lagi.


Namun Nara sekarang, bukanlah Nara yang dulu. Kairo telah merubah segalanya. Sejak tinggal di Kairo, Nara bertemu dengan seorang gadis muslimah bernama Inayah.


Inayah yang mengajarkan segalanya. Sampai Nara bisa berhijrah menjadi Nara yang lebih baik dari Nara yang sebelumnya. Sekarang Nara sudah menutupi semua auratnya. Dia berhijab dengan gaun Syar'i yang selalu melekat di tubuhnya.


"Nara...Bener ini Nara ku?"


Nara tersenyum menampakan lesung pipinya.


"Iya Kak. Ini Nara."


"Kamu sangat berbeda sekarang sayang. Sekarang kamu sangat sempurna. Kamu sudah seperti bidadari."


"Iya Kak. Ini hidayah dari Allah. Aku juga mau berhijrah karena kamu Kak. Karna aku ingin menjadi yang terbaik untuk kamu."


Tes.


setetes air mata Husni terjatuh dari pelupuk matanya. Betapa terasa berharganya dia mendapatkan cinta sejati seperti Nara.


Rasa bahagianya saat ini tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Kesetiaanya selama ini tidak sia-sia. Doa di sepertiga malamnya akhirnya terkabul juga.


Husni dan Darma memang kakak beradik yang selalu hidup rukun. Jarang ada pertengkaran di antara mereka. Karena keduanya sama-sama orang yang baik.


Namun perbedaannya adalah, Husni besar di pesantren sehingga dia sangat tahu betul dalam ilmu agama dan batasan antara seorang mahram dan bukan mahram.


Namun tidak dengan Darma. Dia di besarkan di kalangan kaum awam, sehingga ilmu agamanya kurang bisa dia pahami. Namun Darma masih bisa bersikap santun pada siapa saja termasuk teman perempuannya.


"Ayo duduk Kak." Nara mempersilahkan Husni duduk.


Husni kemudian menyeret kursinya dan menghempaskan tubuhnua ke kursi.


"Kenapa Kak Husni nangis?"


"Terharu aja sayang."


"Makasih yah. Karena Kak Husni udah mau nunggu Nara."


"Iya sayang. Aku sangat mencintaimu. Aku berharap kaulah yang akan menjadi cinta pertama dan cinta terakhirku."


"Iya Kak. Aku juga pengin menjadikanmu imam untuk ku. Sampai maut memisahkan kita."


"Iya sayang. Aku akan selalu membimbingmu untuk menuju ridho Allah. Supaya kita bisa sama-sama menuju surga Nya.

__ADS_1


***


Di kamar rumah sakit, Ratih masih terbaring lemah. Matanya menerawang ke atas memandang langit-langit kamar rumah sakit.


Dia mengedarkan pandangannya ke samping. Di lihatnya wajah tampan Darma masih terlelap di sofa.


"Setia sekali dia. Dia sampai bela-belain nggak pulang gara-gara nungguin aku." Gumam Ratih lirih


Darma mulai menggeliat. Matanya mengerjap. Diliriknya Ratih yang sudah terbangun.


"Ah, ternyata udah pagi." Gumam Darma dengan suara seraknya khas bangun tidur, sembari mengucek matanya.


"Mas nggak pulang?" tanya Ratih.


Darma mengulas senyum.


"Kalau Mas pulang, siapa yang mau jagain kamu cantik."


"Ah Mas, sebel deh! pagi-pagi udah ngegombal." Rutuk Ratih.


"Siapa yang ngegombal sih? Emang kamu benar-benar cantik kok. Apalagi, kalau habis bangun tidur gini."


Darma bangkit dari tidurnya dan beranjak kearah jendela. Dia kemudian menyibak tirai jendela, agar sinar matahari bisa masuk ke kamar rumah sakit.


"Jam berapa sekarang Dek?"


"Jam tujuh Kak."


"Oh."


Dia duduk di sisi ranjang.


"Mas belum pulangkan dari kemarin? Mas pasti lelah yah nungguin aku. Maaf yah...udah merepotkan Mas."


Pandangan Ratih menunduk. Dia seakan tak enak hati.


Kedua tangan Darma menggenggam wajah Ratih. Dia mengangkat wajah Ratih.


"Sudahlah, nggak usah mikirin macam-macam. Adek udah sehat begini aja Mas udah seneng."


"Kapan aku udah boleh pulang Mas? tanya Ratih.


"Lah kan baru semalam kamu nginep di sini, pulangnya ya nanti.


Kalau keadaan kamu udah membaik. Lagian kalau kamu pulang sekarang, dokterpun nggak akan pernah ngizinin. Kan kamu baru tadi sore selesai operasi."


"Tapi aku pengin ketemu Yuli. Aku mengkhawatirkannya."


"Iya. Nanti kalau kita udah sampai di rumah, kita ketemu Yuli. Nggak usah mikirin macam-macam. Biaya rumah sakit udah Mas tanggung semuanya."


"Terus kaki aku?"


"Kaki kamu nggak apa-apa. Untuk sementara aja nggak bisa jalan. Nanti kalau tulangnya udah nyatu kembali, baru bisa jalan."

__ADS_1


"Makasih yah untuk semuanya.Terus kenapa sih Mas baik banget sama aku?" tanya Ratih.


"Ya kan karena kamu calon istri aku." Jawab Darma lantang.


"Apa...!"ucap Ratih matanya membulat.


Darma menyeringai.


"kenapa? kamu nggak mau yah jadi istri aku?"


"eh, emm...eh...emm..." Ratih jadi salah tingkah.


Darma menggenggam tangan Ratih.


Darma kemudian tersenyum geli melihat tingkah Ratih.


"Mama dan Papa nggak kesini?" Ratih mengalihkan pembicaraan.


"Mereka lagi sibuk Dek. Mereka lagi lembur beres-beres di kantor." bohong Darma.


"Oh..."


Maafkan Mas yah dek. Udah berbohong. Sebenarnya, orang tua kamu, lagi melayat di pemakaman Yuli ,


Yah, memang pagi ini Yuli akan di kebumikan. Seharusnya sudah dari kemarin sore. Tapi berhubung orang tua Yuli tinggalnya jauh di luar negri, Maka Yuli di makamkan besok paginya. Menunggu kedatangan orang tuanya.


***


Di pemakaman. Sudah kumpulah semua keluarga dan para kerabat Yuli. Bu Sandra, ibu Yuli tampak menangis pilu.


Dia tidak menyangka kalau anak semata wayangnya itu, begitu cepat meninggalkannya.


"Hiks hiks ....Kenapa Nak. Kenapa kamu pergi meninggalkan Mama secepat ini." Gumam Bu Sandra yang sesekali masih terisak.


Semua orang di tempat itu merasa prihatin termasuk guru dan teman-teman Yuli.


Bu Lisna melangkah menghampiri Bu Sandra.


"Bu saya ikut berduka cita yah..."


"Diam kamu...!" bentak Bu Sandra. Sontak membuat orang di tempat itu menatapnya heran.


"Anak kamu itu pembunuh...! Anak kamu telah membunuh anak saya." Cerca Bu sandra.


"Apa maksud ibu ngomong begitu sama saya! siapa yang pembunuh? Ini semua sudah takdir Bu." Kata Bu Lisna membela diri.


"Iya. Nyatanya anak kamu itu pembunuh. Coba kalau anak kamu tidak ngeboncengin Yuli. Pasti kecelakaan ini tidak akan terjadi. Anak kamu tidak bisa naik motor. Tapi sok sokan ngeboncengin Yuli. Dan lihat motor Yuli. Hancur!. Dan sekarang Yuli...


Lontaran makian dari mulut Bu Sandra semaki menghujam. Membuat orang yang mendengarnya tidak enak sendiri.


"Bu, saya segenap keluarga dari Ratih, mau minta maaf yang sebesar-besarnya." Ucap Oma Marwa.


"Apa...Maaf! Enak sekali kalian minta maaf. Segampang itukah? apakah dengan ucapan maaf, akan membuat anak saya kembali?" Bu Sandra semakin emosi.

__ADS_1


Dia meluapkan emosinya di tempat itu.


__ADS_2