
Darma bukannya menjauh malah semakin mendekat. Dia seperti seekor serigala yang akan melakukan aksinya untuk menerkam mangsanya.
Dia mencoba menerkam Ratih, namun keburu Ratih berlarian naik turun tempat tidur. Merekapun kejar-kejaran di kamar. Kayak anak kecil yang berebut mainan.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu itu, menghentikan aksi mereka.
Ratih langsung memaksa membuka pintu. Nafasnya tampak tersengal. Darmapun menyusulnya.
Ratih membuka pintu kamar. Dilihatnya Bu Arum yang sudah tampak mengenakan baju tidur.
"Kalian berdua. Apa yang sedang kalian lakukan di sini. Kalian habis ngapain?" Bu Arum terkejut dan tampak curiga. Dia melihat anak dan menantunya nafasnya terlihat tersengal. Seperti habis memainkan sesuatu.
Apa jangan-jangan mereka habis melakukan sesuatu.
Darma dan Ratih menggeleng bersamaan. Kali ini mereka tampak kompakan.
"Nggak Ma, Nggak. Kita nggak melakukan sesuatu." kata Ratih.
"Terus, kenapa kalian ngos-ngosan gitu. Kayak habis olah raga."
"Iya Ma. Darma mau buatin cucu untuk Mama."
"Apa...! Kalian udah melakukan itu?" teriak Bu Arum.
Ratih secepat kilat menginjak kaki Darma.
"Auh... Sakit adek!"
"Nggak Ma. Kita nggak melakukan apa-apa kok. Kita cuma habis kejar-kejaran aja. Soalnya tadi Mas ngeselin sih Ma. Terus aku mau pukul dia pakai bantal." Ratih mengutarakan alasannya.
Bu Arum menatap Darma tajam.
"Awas kamu kalau berani menyentuh Ratih! habis kau! " Ancam Bu Arum.
Darma merinding. Dia pasti akan selalu ingat Bagaimana ekspresi Mamanya saat mamanya marah. Dia seperti seorang singa kelaparan, yang tidak pernah berhenti mengaum sampai dia behasil memangsa mangsanya.
"Ada apa sih Ma? ganggu kita aja. Orang lagi asyik juga." Kata Darma datar.
"Asyik asyik gundul mu! itu, Mas Husni pulang."
"Apa, Mas Husni pulang? asyik...pasti dia bawa oleh-oleh deh." Kata Ratih antusias.
Ratih langsung berhambur turun kebawah.
"Kamu belum macam-macam kan sama Ratih. Awas kalau sampai dia hamil !" Ancam Bu Arum.
"Kenapa mesti khawatir gitu sih Ma, kalau hamil ya apa masalahnya sih. Kitakan suami istri. Darma juga nggak takut Ratih hamil. Mas Husni kan udah pulang, Jadi Darma bisa dong kejar-kejaran sama dia. Balapan bikin cucu buat Mama. Ha...ha..."
Darma tergelak meninggalkan Mamanya.
"Dasar anak setress...!" Bu arum cuma bisa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
***
Ratih langsung memeluk Mas Husni sejenak. Setelah itu dia langsung membuka barang-barang bawaan Husni.
Namun Ratih terlihat kecewa, karena Husni tidak membawakannya boneka.
"Kakak bawain aku apa?" tanya Ratih.
"Maaf Ratih, Mas Husni nggak membawakan boneka pesanan kamu." Kata Husni penuh sesal.
"Iya Ratih, ngapain sih minta boneka?
Kamu kan udah gede, udah jadi istri. Nggak perlu, boneka- bonekaan segala." kata Bu Arum menimpali.
"Ratih, Kak Husni memberikanmu barang mahal dari Korea. Lihat lah ini. Ada Tas brended, sepatu branded dan barang-barang mewah lainnya." Kata Kak Nara sembari membuka semua isi koper Husni.
"Kita di belikan semua Ratih." Nara begitu antusias.
"Wah, mana Kak Nara. Benarkah?" Ratih kepo.
Dia kemudian mendekat ke arah Nara.
Husni tersenyum-senyum melihat tingkah gokil istri dan adik iparnya itu.
***
Di ruang keluarga begitu tampak hening. Hanya ada suara tivi yang terdengar. Dan di sisi lain, ada suara Mbak sumiati sedang mencuci piring.
"Ma, mama nggak ingin apa punya cucu." Kata Darma memecah keheningan.
Mereka tampak bingung. Kenapa tiba-tiba Darma bicara begitu.
"Apa maksud kamu?" Tanya Bu Arum sinis.
"Ma, mau sampai kapan sih Mama nyiksa aku terus."
"Nyiksa gimana?" Bu Arum sama sekali tidak mengerti ucapan Darma.
Husni terkikik. Dia sebagai seorang lelaki tahu betul apa yang sedang di rasakan Darma saat ini. Punya istri tapi tak boleh di sentuh. Sekarang semua keluarga menatap ke arah Husni. Termasuk Bu Arum.
"Kenapa kamu ketawa Husni?" tanya Bu Arum.
Pak Arwan yang sedari tadi menonton televisi, hanya bisa menyimak perdebatan menantu, istri dan anak-anaknya itu.
Begitulah Pak Arwan. Dia itu lelaki pendiam tapi tegas pada anak dan istrinya. Dia akan ikut berbicara, kalau menyangkut masalah yang penting. Dan kedua anaknya tidak akan pernah bisa membantah keputusannya.
"Nggak Ma, nggak apa-apa." Kata Husni sembari menahan tawanya.
"Darma, sebenarnya kamu mau ngomong apa sih. To the poin aja napa." Sahut Kak Nara.
"Ma, tolong yah. Ijinkan aku tidur dengan istriku." pinta Darma memelas.
"Lah, bukannya setiap hari kamu tidur sama dia." kata Bu Arum.
__ADS_1
"Bukan tidur yang itu maksud Darma Ma."
Ratih melotot. Dia tahu betul apa yang sedang suaminya bicarakan. Lagi-lagi sebuah bantal melayang ke wajah tampan Darma.
"Ratih...!" Darma kesal.
"Mas itu kenapa sih. Bantuin aku ngerjain tugas nggak mau. Sekarang Mas mau minta yang aneh-aneh. Dari dulu Mas itu nggak berubah. Kalau sama aku, fikirannya selalu saja mesum." Omel Ratih.
"Apaan sih Ratih. Aku lagi ngomong sama Mama. Main nyambung aja kayak kabel." ketus Darma.
"Maksud kamu apa sih Darma? nggak usah bertele-tele." Bu Arum tampak kesal.
"Ma, Darma pengin buatin cucu untuk Mama."
"Tidak...!" Bu Arum dan Ratih berteriak bersamaan. Membuat sakit telinga semua orang.
"Mama, Ratih...! Ibu sama menantu sama saja. Ah, Papa malas kalau kumpul sama kalian. Papa ngantuk. Papa mau tidur." Kata Pak Arwan kesal. Dia kemudian pergi meninggalkan orang-orang yang sedang berdebat itu.
"Ma, tolonglah, Mama cuma takut Ratih hamilkan? Nggak masalah Ma, kan itu ada jalan keluarnya. Aku bisa kok menggunakan pengaman."
Bu Arum diam. Dia tak berkata apa-apa lagi. Setelah itu, Bu Arum melangkah pergi meninggalkan ruang keluarga menyusul Pak Arwan.
Husni berdiri. Dia mendekat dan duduk di samping Darma sembari menepuk-nepuk bahu adiknya.
"Sabar, orang sabar di sayang Tuhan."
Darma menatap Husni horor..
Bisa-bisanya dia meledek ku gitu. Mentang-mentang dia bisa bebas ngapa-ngapain dengan Kak Nara. Sementara aku apa. Punya Mama yang judes dan punya istri yang sadis. Nasib...nasib.
Darma menepuk-nepuk keningnya sendiri.
"Udahlah, menurut Mas, kalau kau udah nggak tahan, jangan tunda-tuda lagi. Kalian sudah sah secara agama dan hukum pemerintah. Tidak ada dosa untuk kalian bercinta. Soal Mama, nggak usah di khawatirin. Apa Mama selalu mengawasimu? tidak kan. Kan setiap hari Mama sibuk dengan urusannya sendiri." Bisik Husni lirih. Hanya dia dan Darma yang bisa mendengar.
Ratih yang sedari tadi mencoba menguping pun tak dengar.
"Kalian bisik-bisik apa sih?" tanya Ratih penasaran.
Darma cuma bisa tersenyum.
"Kepo," ucap Darma.
Ratih cemberut.
Husni berbisik lagi.
"Asal kau tahu batasan. Jangan sampai kau kecolongan, jangan sampai kau membuat Ratih hamil sebelum lulus SMA. Kau bisa mengerjakannya dengan hati-hatikan?"
Darma tersenyum lagi, membuat Ratih penasaran.
Lagi-lagi Ratih bertanya.
"Kalian bisik-bisik apa sih?"
__ADS_1
"Kepo" Ucap Husni menirukan gaya bicara adiknya.