Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
bab 34


__ADS_3

Cuaca di pagi ini begitu dingin. Di ruang tengah Asri masih terlihat sendiri. Asri tampak sedang bosan sekali dengan kegiatannya setiap hari.


Karena sejak menikah dengan Arman, Asri tidak boleh lagi bekerja di kantor. Arman menyuruhnya untuk menjadi ibu rumah tangga saja di rumah. Ngurus suami, orang tua, dan anak-anaknya nanti. Asri sedari tadi cuma bisa membolak-balik majalahnya tanpa dia baca.


Tok tok tok...


Suara ketukan dari pintu depan.


"Bibi... Tolong bukain pintu tuh. Tolong lihat siapa yang datang." Seru Ratih kepada asisten rumah tangganya.


"Iya Non..."


Bi Ijah kemudian berlari ke ruang tamu dan membuka pintu,


"Tuan besar." Bi Ijah menunduk.


"Mana Asri bik? Aku kangen sekali sama dia." tanya Arman.


"Nona ada di dalam Tuan." jawab bi Ijah.


"Bantuin saya yah Bik bawa barang-barang ini ke dalam."


Arman kemudian masuk ke dalam. Sementara bi ijah membawa semua barang-barang Tuan besarnya itu masuk.


Di ruang tengah, di lihatnya Asri istrinya sedang duduk sendiri. Istri seperti terlihat tak semangat.


Dengan langkah mengendap-endap Arman melangkah hingga sampai di belakang Asri.


Arman dengan sigap langsung memeluk Asri dari belakang dan menciumnya. Membuat Asri terlonjak bahagia.


Asri langsung memeluk tubuh suaminya.


"Mas, Aku kangen sekali sama kamu Mas. Kamu kemana aja sih?" tanya Asri dengan sorot mata yang betbinar.


Arman melepas pelukan istrinya. Dia kemudian mengecupi seluruh wajah istrinya hingga sampai ke leher.


Asri begitu sangat bahagia.


Benar-benar kejutan yang membahagiakan.


Arman tidak pernah memberi tahu sebelumnya kalau dia akan pulang hari ini.


Asri tampak bergelanyut manja di lengan suaminya. Sudah beberapa bulan ini Asri harus menahan hasratyan dan menahan rasa rindu di hatinya.


"Kamu bawa oleh-oleh apa sayang?"


"Oh iya, aku sampai lupa. Sebentar."


Arman kemudian merogoh kantong jasnya. Dan dia memberikan sebuah kotak pada Asri.


Asripun kemudian membuka kotaknya.


Di lihatnya sebuah kalung berlian yang sangat indah.


Asri menegak salivanya.


Namun entah kenapa dia merasa sedih. Pikirannya menerawang ke kejadian masalalunya sewaktu masih bersama Darma.


Flashback on


Di pesisir pantai yang indah. Matahari sudah hampir tenggelam. Di tepian pantai tampak masih ada dua sejoli yang sedang menikmati keindahan pantai ini.

__ADS_1


"As, kamu senang nggak hari ini?" tanya Darma yang masih menggenggam erat tangan kekasihnya.


"Aku senang banget Darma. Aku suka pantainya."


Asri memandang ke lautan luas. Dia merentangkan kedua tangannya dan menghirup nafasnya dalam-dalam. Darma memeluknya dari belakang.


Darma kemudian meletakan dagunya ke bahu kanan Asri.


"Pantai ini indah sekali sayang."


"Iya Darma."


"As, aku mau memberikan sesuatu buat kamu."


Ratih memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Darma.


"Kamu mau memberi kejutan apa sayang?" tanya Asri.


"Sekarang kamu pejamkan mata dulu."


Apakah dia akan memberikan ku sebuah ciuman. Baiklah aku akan bersiap Darma. Aku yakin kalau kau sekarang sedang punya hasrat.


"Kamu akan memberikan ku apa sayang?"


Darma menyibak rambut panjang Asri. Dia kemudian memasangkan sebuah kalung berbandul hati ke leher Asri.


Hati Asri berdesir. Darma memang pria yang sangat romntis, kata-katanya juga sikapnya semuanya romantis.


Namun sayang dia tidak pernah peka terhadap hasrat pasangnya.


Flashback off.


"As, kok malah bengong, ini ambil."


Ih ini orang kenapa beda banget ama Darma. Kenapa coba dia tidak memasangkan kalung itu di leherku ?


"Iya makasih ya. Bagus kok kalungnya."Kata Asri tanpa semangat.


***


Ratih terlihat sangat lelah. Setelah dia muter-muter keliling Mall. Sudah banyak sekali belanjaan yang di bawanya.


"Kak, aku capek nih...?"


"Aduh Ratih, Kak Nara juga capek. Lihatlah belanjaan kamu terlalu banyak Ratih. Dan kamu nggak mau bawa banyak-banyak. Masak barang-barang kamu kakak semua yang bawa. Kamu cuma bawa dua bungkus aja."


"Ih... Kak Nara cerewet."


"Ih Ratih. Untunglah kamu iparnya Kak Husni kalau nggak, "


"Kalau nggak apa?"


"Aku udah tinggalin kamu dari tadi."


"Ah... Kak Nara jadi nggak asyik. Kak Nara jadi galak."


"Darma mana sih, awas aja kalau ketemu. Masak aku sih yang di suruh momongin istrinya. Dia malah kabur entah kemana." Gumam Nara pelan.


Nara melihat ke belakang, ternyata Ratih sudah tidak ada di sana.


"Tuh kan bocah itu. Main kabur-kaburan mulu."

__ADS_1


Nara lagi-lagi di buat kesal oleh Ratih.


***


Di parkiran mall Darma bertemu Evelin.


"Hai evelin apa kabar? " sapa Darma pada Evelin teman semasa kuliahnya yang tidak sengaja bertemu di parkiran.


"Aku baik Dar. Kamu sendiri gimana, aku dengar sekarang kamu udah nikahan ya?"


"Iya."


"Tapi, katanya kamu nggak nikah sama Asri. Kamu nikah sama cewek lain ya."


"Terus mau gimana lagi. Orang Asri yang udah ninggalin aku duluan. Tadinya sih aku mau seriusan sama Asri . Tapi Asri udah duluan nikah."


Evelin manggut-manggut.


Di lain sisi Ratih menatap tajam Darma dengan Evelin. Hatinya berkobar penuh kemarahan. Api cemburu mulai merasuk dalam dirinya.


Bagaimana tidak cemburu, Ratih melihat suaminya berduaan dengan cewek lain.


Ratih langsung menghampiri Darma.


"Mas Darma jahat! jadi ini yang selama ini Mas Darma lakuin di belakang aku. Mas selingkuhkan?" Kata Ratih penuh amarah.


Darma dan Evelin begitu terkejut melihat kedatangan Ratih.


"Mas. Sebenarnya berapa banyak sih cewek selingkuhan Mas itu. Aku sampai bingung bingung untuk menghitungnya. Kenapa Mas tega sekali sama aku. Aku udah percaya banget sama Mas. Tapi Mas udah menghancurkan semua perasaanku. Aku sakit banget Mas."


"Ratih, kamu salah paham Dek. Aku nggak ada apa-apa sama Evelin. Dia itu cuma temanku."


"Bohong...Mas Darma bohong. Aku benci Mas Darma, aku benci!"


Ratih kemudian pergi meninggalkan Darma dan Evelin.


"Itu tadi siapa Darma?" tanya Evelin


"Dia istriku."


"Oh...istrimu."


Tanpa fikir panjang lagi Darma mengejar Ratih.


Ratih berlari. Di tengah pekatnya malam. Lagi-lagi dia merasakan sakit. Hatinya itu benar-benar seperti teriris melihat kesalah pahaman itu.


Yah, begitulah Ratih,yang selalu tidak mau mendengarkan penjelasan Darma.


Darma juga sudah sangat mengetahui luar dalam diri Ratih.


Ratih gadisnya yang mungil, yang lucu, yang selalu bisa menghiburnya dan Darma sangat mencintainya.


Ratih berlari menghindari kejaran Darma. Dan tak terasa tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke samping.


Dan dia terjatuh dia atas tubuh Darma. Ternyata sedari tadi Ratih melamun sehingga dia tidak menyadari kalau ada motor yang mau menabraknya.


Namun, dengan sigapnya Darma langsung menyelamatkan Ratih.


Sekarang Ratih masih ada di atas tubuh Darma. Dan mereka saling menatap sampai beberapa lama.


Debaran jantung mereka seakan sudah tidak terkendali. Pasangan suami istri itu, sama-sama merasakan detakan jantung pasangannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2