Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 8


__ADS_3

Husni baru saja terlelap. Tiba-tiba saja hapenya berdering. Di lihatnya nomer tak di kenal menelponnya. Lalu dia menggeser tombol hijau dengan tak bersemangat.


"Halo..."


"....."


"Nara. Apa benar ini kamu?" Husni langsung membelalakan matanya, karena terkejut dengan siapa yang sekarang sedang menelponnya.


"...."


"Oh ya...Kamu akan kembali?"


"...."


"Kapan sayang?"


"....."


"Iya aku tunggu. Aku rindu sama kamu. Lima tahun sayang, kau sungguh membuatku tersiksa."


Nara Aida. Yah itulah kekasih Husni yang sudah lima tahun berada di Kairo, melanjutkan kuliahnya di sana. Sekarang dia kembali untuk menemui kekasihnya.


Penantian Husni selama lima tahun tidaklah sis-sia. Nara kekasih yang dia nantikan, akhirnya kembali juga dengan membawa kesetiaannya.


Menjalani hubungan jarak jauh memanglah bukan perkara mudah. Keduanya harus memiliki hati yang kokoh untuk sama-sama bisa mempertahankan cinta mereka sampai mereka bisa bersama. Begitulah yang selama ini Husni lalui.


Husni Selalu menanti dengan kesendiriannya, tanpa hatinya berpaling pada wanita lain.


Husni dan Darma memang tak jauh berbeda. Mereka sama-sama memegang satu prinsip. Mencintai hanya satu wanita.


Sampai wanita itu memilih untuk meninggalkan cintanya. Seperti yang di alami Darma saat ini. Asri pergi meninggalkannya dan memilih laki-laki lain untuk menjadi suaminya.


***


Setelah selesai makan siang, Darma bergegas masuk menuju ruang kerjanya. Dia tidak sengaja melihat Bu Lisna penuh kepanikan.


Raut wajahnya, sangat terlihat jelas kalau sekarang dia sedang ada dalam masalah yang besar.


Darma yang penasaran, kemudian melangkah dan menghampirinya.


"Bu Lisna ada apa?" tanya Darma penasaran.


"Nak Darma. Ratih...Ra...Ratih Nak." Kata Bu Lisna terbata-bata.


Bu Lisna tak kuasa membendung air matanya. Tangisnyapun pecah. Membuat Darma ikutan panik.


"Ratih kenapa?" Tanya Darma penuh kecemasan.


Bu Lisna tidak bisa berucap. Lidahnya seakan kelu untuk bisa mengatakannya.


" Sekarang Ibu duduk dulu yah?" Darma mencoba menenangkan.

__ADS_1


Bu Lisna menghela nafasnya dalam. Mencoba mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk bercerita.


"Tadi Ibu dapat telpon dari Neneknya Ratih. Katanya Ratih kecelakaan!"


Deg


"Apa...!" Darma tampak terkejut. Hatinya seakan teriris mendengar kabar tersebut. Tampak dari raut wajahnya, kecemasan dan kepanikan yang menyelimuti wajah tampannya.


Gadisku.


"Kapan Bu kejadiannya?" tanya Darma cemas.


"Tadi, saat mau pulang sekolah. Dia berboncengan dengan Yuli. Tapi Ibu tidak tahu keadaan mereka bagaimana sekarang. Sekarang Neneknya Ratih ada di rumah sakit." Kata Bu Lisna menuturkan.


"Ya udah, sekarang kita kerumah sakit. Darma yang akan antarkan Ibu kesana." Kata Darma yang kedua tangannya masih menggenggam bahu Bu Lisna.


"Iya Nak Darma, terimakasih."


"Apa Pak Rudi sudah tahu juga?" tanya Darma yang tiba - tiba teringat dengan Pak Rudy.


"Belum. Udah, nggak usah kasih tahu dia. Dia bisa apa sih! " Bu Lisna mendengus kesal.


Memang benar, kalau selama ini, Pak Rudy tidak pernah mau tampil untuk menyelesaikan sebuah masalah dalam kehidupan di rumah tangganya. Dia tidak pernah bisa bersikap tegas pada istri dan anaknya.


Dia selalu melempar semua masalahnya pada istrinya. Dan berkali-kali, Bu Lisna sendiri yang menyelesaikan setiap masalahnya. Masalah yang mudah, ataupun yang pelik.


***


"Mbak, Dimana Ratih Anggraini di rawat?" tanya Darma pada resepsionis.


"Oh, kalian keluarga pasien tabrak lari barusan yah?" tanya seorang perempuan berhijab yang sedang berjaga di ruang resepsionis.


"Tabrak lari!" ucap Darma dengan sorot mata nanar.


"Iya Pak. Ratih Anggraini dan Yulia Paramita. Satu jam yang lalu, mereka kecelakaan. Dan salah satu pasien itu meninggal di tempat kejadian." Kata resepsionis yang tampak sudah tahu betul dengan berita kecelakaan tersebut.


"Apa...!" Kata Bu Lisna dan Darma bersamaan.


Mereka tampak sangat terkejut mendengar kejadian itu.


Bu Lisna tampak lunglai. Seluruh tubuhnya bergetar dan hampir terjatuh. Untunglah Darma dengan sigapnya langsung menangkap tubuh Bu Lisna.


"Anak ku..." Bu Lisna kembali menangis. Dia sangat shock mendengar semua ini.


"siapa yang meninggal Mbak?" tanya Darma


Gadisku. Pikiran Darma kian kacau.


Bu Ratih menenggelamkan kepalanya di dada bidang Darma dan menangis.


Darma dan Bu Lisna sama-sama shock. Mereka terdiam mematung dengan pikirannya masing-masing.

__ADS_1


Siapa yang tidak akan kaget mendengar sebuah tragedi tabrak lari sampai merenggut nyawa seseorang.


Gadisku, bagaimana ke adaan dia. Apakah dia...


"Pak, Bu, pasien yang bernama Ratih Anggraini, sekarang dia ada di UGD. Kondisinya saat ini sangat kritis. Sementara Saudari Yuli Paramita, sekarang jenazahnya akan di pulangkan di kediamannya." Kata resepsionis itu menjelaskan.


Darma dan Bu Lisna tampak tenang. Mereka kemudian melangkah pergi menuju UGD.


"Syukurlah Ratih masih selamat."ucap Bu Lisna kemudian.


Di ruang tunggu UGD, tampak Oma Marwa dengan kedua anak kecil Dian dan Raka sedang duduk berdampingan.


Darma dan Bu Lisna menghampiri mereka.


Oma Marwa bangkit dari duduknya. Bu Lisna dengan deraian air mata langsung memeluk ibunya erat.


Mereka berdua menangis sejadi-jadinya.


***


"Dokter, bagaimana kondisi anak saya saat ini?" tanya Bu Lisna yang tergopoh-gopoh menghampiri Dokter.


Dokter tersenyum ramah.


"Ratih masih belum sadarkan diri. Tapi kami sudah menanganinya dengan baik. Sekarang saya akan memberitahukan, kalau Ratih harus di operesi segera. Karena patah tulang di kakinya. Kami menyarankan untuk langsungkan operasi saat ini juga." Kata Dokter menuturkan.


"Iya Dok. Segera lakukan. Biar biaya saya yang akan tanggung semuanya." Kata Darma.


"Baiklah kalau begitu. Kami akan lakukan opersi sekarang. Karena jika tidak cepat di tangani, saya takut kalau luka di kaki Ratih, akan membusuk dan bisa menyebabkan kakinya di amputasi." Dokter menjelaskan panjang lebar.


"Iya Dok. Lakukan yang terbaik." Kata Darma berharap.


"Baiklah saya permisi dulu." Kata dokter sebelum berlalu meninggalkan keluarga Ratih.


***


Sepulang bekerja, pak Rudy tidak langsung pulang kerumahnya. Dia langsung menuju kerumah sakit tempat anaknya di rawat.


Dia berjalan tergesa-gesa menghampiri tempat Ratih di rawat. Setelah operasi selesai, Ratih langsung di pindahkan ke tempat perawatan. Ratih tampak belum sadarkan diri.


Darma yang sedari tadi menungguinya, dia tampak masih prihatin melihat gadisnya terkapar tak berdaya.


Ada rasa yang berbeda kali ini. Darma sedari tadi mengamati wajah imut Ratih. Dia mengulas senyum.


Gadisku...Sekarang aku sadar. Kalau aku sudah jatuh sayang padamu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Kaulah gadis kecilku. Yang akan ku jaga sampai maut memisahkan kita. Di saat seperti ini, aku juga ikut merasakan sakitmu. Bagaimana saat nanti kau terjaga, apakah kau akan bisa terima kalau kau tidak akan bisa berjalan untuk sementara. Namun jangan khawatir, aku akan selalu ada di sampingmu.


Aku akan menjadi kakimu.


Darma mengelus rambut Ratih. Dan tangannya menggenggam erat tangan Ratih. Berharap Ratih akan cepat tersadar.


"Dedek cantik, bangunlah. Mas kangen." Gumam Darma lirih namun masih bisa terdengar.

__ADS_1


"Nak Darma." Ujar Pak Rudy yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Darma.


__ADS_2