
"Mas Darma, aku pengin deh melihat ruanganya Mas Husni."
"Okelah, ayo Sayang kita kesana." Darma sangat bersemangat.
Darma dan Ratih kemudian pergi ke ruangan Husni. Namun sesampai di sana Darma di kejutkan oleh pemandangan yang sama sekali tidak mengenakan. Darma dan Ratih melihat dengan jelas kalau Husni dengan sekertarisnya berpelukan.
"Mas Husni...Apa yang kamu lakukan. Kurang ajar kamu Mas." Kata Darma yang sangat tidak begitu terima.
Bugh...bugh...
Darma langsung memukul Husni berkali-kali. Husnipun terhuyung ke belakang dan tubuhnya jatuh kelantai. Inayah dan Ratih sangat ketakutan.
Yah, pengkhiantan sesuatu yang paling Darma benci. Husni yang selalu banyak mrngajarkan arti kesetiaan namun dia pula yang menjadi salah satu lelaki yang berkhianat.
Ratih lekas panik. Dia bingung apa yang harus dia lakukan. Namun Inayah cuma bisa menunduk karena merasa malu. Iya, dia sangat malu. Bagai mana kalau berita ini akan menjadi perbincangan orang-orang sekantor.
"Aha..Aku ada ide."Gumam Ratih.
Yah, akhirnya Ratih mempunyai ide yang cemerlang. Kucing saja kalau di siram air pasti akan berhenti berantemnya. Mungkin juga dengan manusia. Ratih secepat kilat keluar dan mengmbil setengah ember air. Dan Ratih langsung menyiramkan air ke tubuh Darma dan Husni.
Husni dan Darma basah kuyup.
"Ratih...!!!"Seru Husni dan Darma bersamaan.
Ratih menutup mulutnya.
"Ups, maaf. Habisnya kalian berantem nggak bisa di pisahin. Kan kalau Ratih pisahin,Ratih takut kena pukul. Kucing Ratih aja kalau lagi berantem aku siram pakai air."
"Hei Ratih, kamu samakan aku dengan kucing mu. Aku ini suami mu bukan kucing...!"Darma sewot.
"Gimana ini, baju basah kuyup gini."Ucap Darma.
"Siapa suruh berantem. Aku nggak nyuruh kalian berantem kok." Ucap Ratih.
"Tapi baju mas basah Ratih. Baju Mas Husni juga. Masak kita mau kerja kayak orang hujan-huajnan."
"Tapi maksud Ratih baik. Kalau orang marah itu kan, karena di bisiki setan. Setan itu terbuat dari api,jadi kalau lagi marah, ya caranya harus pakai air. Biar amarahnya bisa di redam."
"Tapi bukan di guyur begini Adek. kalau lagi marah ya harus ambil air wudu. Bukan air seember begini."
Husni dan Inayah bingung. Kenapa suami istri itu malah yang berantem. Darma dan Ratih adu mulut dengan sengitnya. Mereka tidak ada yang mau mengalah.
__ADS_1
Dan akhirnya, Darma mulai menahan amarahnya dan lekas mengalah. Yah, selama ini memang Ratih selalu membuatnya jengkel. Tapi Darma sadar, kalau sekarang Ratih itu, lagi hamil muda.
Darma menghela nafasnya dalam. Dia menatap tajam Mas Husni.
"Apa yang kamu lakukan dengan sekertaris ini. Kenapa kalian berpelukan. Kalian itu bukan muhrim.Dan dalam ruangan ini kalian berani berbuat mesum." kata Darma dengan sorot matanya yang penuh intimidasi.
"Darma, aku bisa jelasin semua ini Darma. Ini tidak yang seperti kamu kira" kata Husni.
"Apa yang mau di jelasin Mas. Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kalau kalian itu berpelukan. Apa kalian masih mau mengelak."
"Mas, apa Mas lupa dengan ucapan Mas waktu dulu, Maskan yang mengajariku untuk setia. Mas yang mengajariku untuk memilih satu wanita dan hanya mencintai satu wanita."
Husni bingung mau menjelaskan apa lagi pada Darma. Jujur salah bohong pun salah.
"Darma, aku cuma mau menenangkannya saja. Aku nggak ada hubungan apa-apa."
"Bohong." Darma masih tidak percaya.
"Darma, Kamu juga sama kan sering meluk perempuan. Kamu juga tidak pernah tega kan,kalau ada wanita nangis. Mas sering lihat kok dulu. Mas juga gitu Darma,tidak tega sama Inayah."
"Ah,munafik. Mas Husni kan lulusan pesantren. Mestinya Mas Husni itu tahu tentang agama. Eh malah bermain serong dengan Inayah."
"Cukup Darma. Kau juga sering meluk cewek kan.?"
Ah sial kenapa mas Husni malah balik menyerangku.
"Mas, aku nggak ada hubungan apa-apa sama wanita-wanita itu."
"Aku juga sama Darma, aku ngga ada hubungan apa-apa dengan Inayah."
"Mas,tapi tetap saja. Itu mengkhianati Kak Nara. kalau Kak Nara tahu,dia juga akan marah kayak aku.Kalau aku kan pelukan sama cewek dulu, waktu masih bujang.Sekarang kan nggak lagi. Dan mas Husni kan lulusan pesantren, kalau aku kan bukan."
Ratih yang ada di belakang Darma menangis. Sepertinya dia cemburu. Waktu Mas Husni nyebutin kalau Darma pernah meluk cewe.
Benar apa kata Mbak Sumiati. Kalau ternyata Mas Darma hobi meluk cewek. Jadi aku cuma sisaannya cewek-cewek itu doang dong. Batih Ratih.
"Adek, kok kamu malah nangis?kenapa sayang?"
Ratih mengusap air matanya yang sedari tadi menjatuhi pipinya.
"Mas Darma jahat." Ucap Ratih setelah itu dia berlari pergi meninggalkan ruangan Husni.
__ADS_1
Darma langsung mengejar Ratih.
...****************...
Setelah kepergia Darma dan Ratih, Inayah dan Husni saling diam. Inayah jadi tidak enak hati.
"Maaf kan aku Mas, tak seharusnya aku tadi memeluk mu. Aku kangen Mas. Kamu tidak mau lagi berkunjung ke tempatku."
"Maafkan aku Inayah. Nara lagi hamil. Saat ini, Nara lagi sangat membutuhkan ku. Mengertilah Inayah."
Inayah bangun dari duduknya. Dia kemudian melangkah ke arau jendela. Dia kemudian menangis. Ya,dia menangisi ketidak adilan Husni.
"Kenapa kamu menikahu ku Mas, kenapa? Ini sangat tidak adil Mas. Aku ini istrimu juga. Tapi kenapa kamu menyiksaku.Di mana perasaanmu."
Husni mengacak rambutnya Frustasi. Tidak seharusnya dia menyakiti Nara, juga tidak seharusnya pula dia menyakiti Inayah.
"Inayah, aku janji. Setelah aku siap, aku pasti akan memberikan mu semuanya Inayah. Tapi kamu tunggu yah."
Husni kemudian memeluk Inayah.
Sementara di sisi lain, Darma dan Ratih berantem hebat.
"Benarkan Mas Darma itu hobi meluk cewek. Tadi Mas Husni bilang seperti itu. Mas Darma itu hobi meluk cewek."
"Adek, Mas nggak cinta sama cewek-cewek itu sayang."
"Aku nggak kuat Mas. Aku sakit hati. Sakitnya tuh di sini Mas."Kata Ratih sembari memegang dadanya.
"Aku tahu Ratih kamu cemburu. Tapi itukan masa lalu Dek."
"Pokoknya Ratih benci sama Mas. Ratih benci banget."
Ratih kemudian menyetop taksi. Dia kemudian pergi meninggalkan Darma.
"Ngambek lagi, ngambek lagi. Maunya apa sih tuh anak. Kalau masalah aku pelukan sama cewek pasti di besar-besarin. Yah, aku tahu siapa Ratih. Aku harus mengejarnya sebelum dia melakukan hal yang aneh-aneh."
Darma kemudian mengejar Ratih. Namun dia kehilangan jejak.
"Mau kemana Neng?"Tanya Pak sopir.
Hiks..hiks..
__ADS_1
Ratih masih menangis. Sangat deras sekali air matanya. Dia kemudian mengambil tissu, tak terasa tissu satu bungkus sampai habis untuk mengelap air matanyanya.