
bruugh...
Tubuh Ratih pun ambruk. Ratih nggak kuat melihat Mama Arum dan Suaminya kejar-kejaran kayak Tom And Jerry.
"Ratih...!" Teriak Mama dan Darma bersamaan.
Darma langsung mendekap ke arah istrinya.
"Mama, tuh kan apa Darma bilang, Ratih pingsan beneran kan." Kata Darma menggerutu. Dia benar-benar tampak menyalahkan Mamanya.
Darma menggendong Ratih ke kamarnya. Dia membaringkan tubuh mungil itu di ranjangnya.
"Adek, Kenapa jadi pingsan gini sih..."
****
Ting...
Sebuah notifikasi pesan masuk.
Mas Husni, tolong temanin aku Mas, aku takut. Aku takut teror itu datang lagi.
Inayah. Batin Husni yang tampak terkejut. Husni terlihat sedikit gugup.
Husni menggenggam tangan Nara.
"Nara, aku pergi dulu yah. Mendadak orang kantor telpon. Katanya ada berkas yang lupa aku tanda tangani."
"Malam-malam gini Kak?"
"Iya Nara. Aku harus pergi sekarang."
"Ya udah yah...hati-hati." kata Nara.
Husni akhirnyapun pergi dan menemui Inayah.
Sesampainya di rumah Inayah. Inayah langsung memeluknya erat.
"Inayah, lepasin Inayah..." ucap Husni mencoba melepaskan pelukan Inayah.
"Mas, aku takut. Tolong Mas, untuk malam ini aja kamu nginap disini." Ucap Inayah.
Husni melepas pelukan Inayah.
"Mas, kenapa?" Mata Inayah menatap lekat mata Husni.
"Apa yang kamu lakuin Inayah."
"Aku kan cuma meluk kamu Mas. Apa aku salah, kalau aku memeluk suamiku sendiri. Nggak kan. Kitakan udah sah jadi pasangan suami istri."
"Maaf Inayah. Aku belum siap untuk memberimu nafkah batin Inayah."
"Kalau begitu, kenapa kamu nikahi aku Mas."
"Aku menikahimu karena aku mau menjaga nama baik mu Inayah. Supaya kamu tidak di pandang rendah oleh orang-orang."
"Harusnya kamu nggak perlu melakukan itu Mas. Biarlah mereka menganggapku apa. Aku tidak perduli. Memang aku itu, seperti apa yang mereka katakan."
"Maksud kamu apa Inayah?"
"Iya. Memangkan aku itu janda udah empat kali. Tapi ini bukan keinginanku Mas. Ini udah takdirku. Mungkin jika kita bersamapun itu, sudah menjadi kehendak Nya kan."
__ADS_1
Husni menatap Inayah dalam. Dia benar-benar bingung dengan apa yang di lakukannya. Di sisi lain, dia tidak mau mengkhianati Nara. Di sisi lain pula, dia harus memberi Inayah nafkah batin. Dan kedua-duanya itu memang pilihan yang sangat sulit.
Husni terduduk frustasi.
Nara, Maafkan aku sayang . Batin Husni.
Inayah menangis.
"Maafkan aku Inayah. Aku belum siap kalau untuk memberikan mu nafkah batin. Aku harus pulang Inayah. Nara pasti lagi membutuhkannku." Kata Husni.
Setelah itu, Husni buru-buru pulang. Hatinya masih benar-benar kecewa dengan keputusan sepihaknya.
Seharusnya sebelum dia menikahi Inayah, dia minta izin dulu pada Nara istri pertamanya. Husni jadi merasa bersalah pada Nara. Terlebih sekarang Nara sedang hamil.
"Mas, kenapa kamu menikahiku, kalau kamu akan membuat batinku tersiksa Mas. Aku juga istrimu Mas. Aku juga pengin kamu adil denganku. Aku juga kepengin di perlakukan seperti Nara Mas. " Gumam Inayah pelan,
***
Darma sedari tadi mondar-mandir nggak jelas. Dia panik sendiri melihat kondisi istrinya.
"Ma, lihat Ma. Ini semua gara-gara Mama." Kata Darma yang tampak masih menyalahkan mamanya.
"Kok kamu malah nyalahin Mama sih."Kata Mama Arum seperti tidak terima.
Lagi-lagi Darma dan Mamanya berdebat sengit.
Ratih yang masih tampak berbaring, melirik ke arah Mama dan Darma.
Ih...aku kan udah pura-pura pingsan. Kenapa mereka masih berantem. Sabar yah Nak, kamu pasti berisik yah mendengar Papamu dan Oma mu berantem. Batin Ratih sembari mengelus perutnya.
Dari sisi luar, terdengar orang bercakap-cakap.
"Kenapa lagi dengan menantumu itu?" tanya Om Irawan dokter langanan keluarga Darma.
"Sebentar lagi, saya mau mempunyai dua cucu sekaligus."
"Oya? Hebat...luar biasa. Kalah aku Wan. Menantuku aja sampai sekarang belum hamil-hamil."
"Ha..ha.. belum waktunya."
"Tapi, bukannya Ratih masih sekolah."
"Ha...ha...kamu kayak nggak tahu aja. Mana ada lelaki tahan untuk menyentuh istrinya. Apa lagi Darma anak ku. Lagian sebentar lagi Ratih juga lulus kok."
Ratih pura-pura pingsan lagi, saat dia melihat sosok dua orang lelaki menghampirinya. Yah siapa lagi kalau bukan Papa Arwan dan Om Gunawan.
"Mama tuh yang salah." kata Darma ngotot.
"Kamu yang salah." ucap Mama Darma tidak mau kalah.
"Stoop. Darma, Mama. Kalian apa-apaan sih. Kenapa malah pada berantem. Ibu sama anak sama saja. Mama mestinya yang tua ngalah dong Ma."Ucap Papa Arwan.
Mama dan Darma diam saat melihat sosok Dokter Irawan.
"Eh Dokter maaf yah Dok."
Dokter Irawan tersenyum.
"Boleh saya memeriksa Ratih?" tanya dokter Irawan.
"Iya. Tentu saja Om."Ucap Darma.
__ADS_1
Papa Arwan dan Mama Arum pergi meninggalkan kamar Darma dan Ratih.
***
Mentari pagi bersinar cerah. Ratih Sudah siap berangkat ke sekolah. Putih abu-abu. Yah itulah seragam sekolahnya sekarang.
Ratih sudah tampak cantik dengan balutan hijabnya, wanita mungil ini, tampak sudah ceria lagi. Karena Mama Arum sudah memaafkannya.
ceklek...
Darma membuka pintu kamar mandi. Darma masih berbalutkan handuk kecil yang melingkar di tubuhnya.
Ratih nampaknya sudah dengan sigao berlatih untuk menjadi istri yang baik untuk Darma.
Sekarang Ratih sudah menyiapkan baju kerja Darma.
"Apa lagi yah...?" Ratih garuk-garuk kepala.
Dia seperti tampak bingung.
"Aish ah, kok malah ngelamun."Ucap Darma pada istrinya.
"Itu Mas. Kayak ada yang aku lupa."
"Apa? minta di peluk lagi yah."
Ratih mencubit perut Darma.yang sickpack itu.
"Auh...Ih...galak banget sih! sebentar lagi kamu jadi Ibu lho."
"Ini gara-gara Mas. Gara-gara Mas aku mau jadi Ibu."
Darma tersenyum.
"Iya. Itukan udah kodrat kamu Ratih sebagai wanita. Mas hebat kan...?"
"Hebat apa?"
"Hebat dong...!Mas kan tajam. Lihat Mas Husni kalah. Mas Husni sama Maskan nikahnya duluan Mas husni. Tapi kenapa hamilnya bisa bareng. Harusnya kan Kak Nara dulu yang hamil"
"Ah, Itu sih karena Mas olah raganya terlalu bersemangat. Masa oleh raga sampai aku nggak bisa jalan. Gara-gara tempur teruskan aku jadi sering kesiangan sekolah."
He...he...
"Mau, Mas terkam lagi. Mumpung Mas belum ganti baju lho."
Wajah Ratih merona merah. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Yah, dia benar-benar malu kalau membayangkan olah raga spesialnya di tempat tidur.
"Nggak. Aku nggak mau. Mas itu mesum terus..."
"Makanya,punya wajah tuh jangan cantik-cantik."
"Kenapa?"
"Kan Mas jadi ketagihan nerkam kamu sayang."
Ratih cemberut. Dia tampak kesal dengan suaminya sekarang. Gara-gara pertempuran satu bulan. Bisa langsung menghasilkan janin.
Oh Tuhan, Bagaimana kalau dedek bayinya udah lahir. Gimana caranya aku gendong dia? Aku kan belum bisa gendong bayi. batin Ratih.
__ADS_1
***