
Setelah itu Husni terlelap bersama istrinya. Sementara Inayah sendiri menangis. Menangisi kepergian suaminya. Rasanya ini memang tidak adil. Kenapa harus ada suami yang menikah hanya memberikan nafkah lahirnya saja.
...****************...
Pagi ini Nara masih di sibukan memasak. Rencananya dia akan berkunjung ke kantor Husni. Dia sudah membuatkan makanan favorit suaminya.
"Aku yakin. Kalau Kak Husni senang aku buat kejutan." Kata Nara.
Nara kemudian menyiapkan semua keperluan memasak. Dia pun kemudian memasak. Setelah selesai memasak, Nara buru-buru ke kantor Husni.
Dan sesampai di sana, Nara terkejut saat Husni sedang ngobrol dengan Inayah. Nara pas sekali melihat Husni menggenggam tangan Inayah dan mencium kening Inayah.
"Nggak mungkin. Ini aku pasti mimpi." Gumam Nara.
Nara kemudian membanting rantangnya dan pergi. Inayah dan Husni terkejut. Nara buru-buru keluar dari kantor Husni dan menangis. Dia tidak pernah menyangka sebelumnya kalau ternyata Husni berani mencium kening wanita lain.
Husni mencari Nara. Dia sekarang benar-benar merasa terancam. Husni takut Nara akan meninggalkannya.
Nara duduk di kantin kantor. Kakinya melemas, kepalanya sakit, semua rasa itu berkumpul menjadi satu dalam hatinya. Rasa kecewa, rasa cemburu, semua menjadi satu. Baru kali ini Nara merasakan sakit. Sakitnya seorang perempuan yang di khianati.
Hiks...hiks...
Nara menangis dalam kesendirian.
Husni sekarang sudah ada di samping Nara.
"Sayang,"
"Apa yang sudah kamu lakukan di belakang ku Kak. Kamu sudah berani menyentuh tangan wanita yang bukan muhrim mu. Dan kamu juga berani menyentuh wanita lain di belakang ku." Kata Nara menatap lekat wajah suaminya.
Husni tersenyum dan mencoba setenang mungkin untuk bisa memberi pengertian pada Nara.
"Nara, ini tidak seperti apa yang kamu lihat Nara." Kata Husni menjelasakan
Nara mencoba untuk meredam emosinya. Yah, Nara sekarang sudah dewasa, dia bukan anak kecil. Dia juga harus belajar tenang untuk menghadapi semua ujian hidupnya.
__ADS_1
"Kak. Tolong jelasin pada Nara. Apa yang terjadi selama ini? Kenapa kamu mencium wanita itu?"
Husni hanya bisa pasrah. Dia tertunduk dan terdiam. Dia bingung harus menjawab apa.
Sesaat kemudian, jatuhlah air mata Husni.
"Maafkan aku istriku, aku memang sudah mengkhianatimu. Tapi aku lakukan ini karena keterpaksaan."
"Apa maksud kamu Kak Husni?" tanya Nara ingin mendapatkan kejelasan.
Inayah ternyata sudah ada di belakang Husni dan Nara.
"Mas Husni tidak ada hubungan apa-apa dengan ku. Dia cuma mau menolongku saja." ucap Inayah.
Nara menoleh ke arah Inayah. Dan betapa terkejutnya Inayah dan Nara. Ternyata mereka adalah sahabat dekat waktu di Kairo.
"Astaghfirullahal adzim. Nara...jadi dia suami mu?" Inayah tidak menyangka.
Nara mengusap air matanya. Nara kemudian berdiri. Nara menggelengkan kepalanya.
"Inayah. Aku nggak nyangka. Kamu seorang wanita soleha, bisa merebut suami orang lain. Aku sudah salah menilai mu Inayah. Kamu telah merebut Kak Husni dari ku."
"Aku bersumpah Nara. Aku tidak tahu, kalau dia itu suami mu. Jika saja aku tahu, aku tidak mau di nikahinya."
Nara terkejut. Dia sangat terpukul dengan apa yang barusan Inayah katakan.
"Jadi, kalian sudah menikah? menikah tanpa sepengetahuanku? Kalian benar-benar jahat."
Nara pergi meninggalkan Husni dan Inayah. Husni masih terduduk kaku. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan menjelaskan apa. Dan sekarang Husni tahu, kalau selama ini Inayah dan Nara sudah bersahabat waktu di Kairo.
"Apa yang telah aku lakukan. Ini semua salahku. Aku yang membuat semua bencana ini. Kenapa Nara bisa tahu secepat ini."
Inayah mendekat ke arah suaminya. Dia terduduk sembari menangis. Semua orang kantor tampak menyaksikan sekaligus bingung dengan drama apa yang sedang terjadi anatara bos dan sekertarisnya itu.
"Bos Husni kenapa yah. Apa yang sebenanya terjadi di anatara mereka." Desas-desus para pegawai kantor.
__ADS_1
Darma yang ikut menyaksikan itupun menghampiri Husni dan Inayah.
"Lihat kalian berdua. Apa yang telah kalian lakukan pada Kak Nara. Di mana hati kalian, kenapa kalian setega itu pada Kak Nara." Darma begitu geram. Dia ingin sekali menghajar kakaknya itu. Namun dia urungkan niatnya karena suasananya sangat ramai. Para pegawai, ikut menyaksikan adegan tadi.
"Ah, awas kamu Mas," Kata Darma. Setelah itu dia meninggalkan Husni dan Inayah.
Para pegawai kantor yang telah mendengar percakapan Inayah dengan Narapun tampak bisak-bisik.
"Lihat itu, sekertaris baru itu. Ternyata dia pelakor. Dia pasti mau mempengaruhi bos Husni, dia itu pasti mau mengeruk hartanya si bos. Lihat, kasihan istrinya."
"Iya yah, kok bos Husni mau sih. Tega banget. Katanya lulusan pesantren. Tapi kelakuannya kok bejat gitu. Masih mending bos Darma. Dia itu lelaki yang setia dan romantis pula."
"Huh, dasar. Bos Husni, mau aja terpengaruh sama sekertarisnya itu."
Husni dengan fikiran yang berkecamuk itu, pergi meninggalkan Inayah. Tanpa fikir panjang lagi, dia pergi meninggalkan kantor dan mengejar Nara.
Inayah masih menangis. Yah, sekarang seluru karyawan Husni tengah menggosipinya. Dan Inayah harus menanggung konsekuensinya sendiri karena telah berani diam-diam menikah dengan lelaki yang sudah beristri.
...****************...
Di dalam kamarnya Nara menangis. Perih rasanya menjadia seorang wanita yang di khianati. Istri mana yang tidak akan terluka jika suaminya tanpa diam-diam menikah lagi tanpa izin.
"Kenapa, Kak. Kenapa kamu setega itu padaku. Apa salah ku Kak. Aku selama ini setia padamu. Aku tidak pernah berpaling pada lelaki manapun. Tapi inikah balasannya untuk ku. Kenapa Kak, kenapa kamu lakukan ini !"
Nara menangis dalam kesendiriannya. Dia kemudia mengunci pintu kamarnya.
"Inayah, oramg yang selama ini aku kagumi dan aku teladani dia telah merebut kebahagiaanku. Kenapa ya Allah, hati ini rasanya sakit sekali. Seumur hidup aku baru pernah merasakan rasanya di khianati."
Beberpa saat kemuduan Husni datang. Dia berlari kecil menghampiri kamarnya.
"Sayangku Nara, maaf kan Aku sayang, aku bisa jelasin semuanya. Aku tidak pernah mencintai perempuan manapun kecuali kamu sayang percayalah."
Nara yang sakit hati itu, masih menangis. Dia merasa hatinya saat ini, sudah tidak berbentuk karena sudah terpecah belah oleh pengkhianatan suami dan juga sahabatnya.
"Ya Allah...kenapa semua jadi begini." ucap Nara.
__ADS_1
Nara kemudian berbaring di ranjangnya dan memeluk bantalnya erat. Dia mencoba untuk menahan rasa sakit itu. Walau itu tidak mudah.
Husni terduduk dan bersandar di pintu kamarnya. Dia bingung dengan apa yang harus di katakannya. Saat ini Husni tahu Nara sangat terpukul. Namun Nara tidak pernah tahu, kalau Husni itu menikahi Inayah hanya untuk menjaga Inayah. Dan selama ini juga Husni selalu setia dan tidak pernah menyentuh Inayah sedikitpun.