Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
bab 72


__ADS_3

Sesampai di rumah Ratih, Ratih begitu sangat shock sekali. Bu Lisna, Raka, dan Dian, sedang menangisi Pak Rudy. Ternyata ayah Ratih itu sudah meninggal.


"Papa...Papa..." Ucap Dian dan Raka.


"Mama kenapa mama menangis?" tanya Darma pada Bu Lisna.


"Ratih, papamu Ratih. Dia sudah tidak bernyawa..."


"Apa?" Ratih terkejut. Dia pun mendekat ke arah ayahnya.


"Hiks...hiks...Papa...!"


Ratih menangis dan dia hampir pingsan. Dia memeluk suaminya.


"Mas Darma, papa Ratih..."


"Iya Ratih...Papa kamu sudah meninggal." Kata Darma.


"Ya udah, kalau begitu sekarang kita kabari saudara--saudaramu yang lain." Kata Darma.


Hati Ratih sangat hancur sekali saat ini. Dia menangis sejadi-jadinya. Betapa sedihnya di tinggal seorang ayah, yang begitu tulus mencintai dan menyayangi Ratih. Sekarang Pak Rudy sudah pergi untuk selama-lamanya.


"Ya Allah, Mas. Kenapa papa begitu cepat meninggalkan aku, kenapa?" kata Ratih sembari terisak.


"Iya sayang, ini sudah menjadi kehendaknya."


...****************...


Di pemakaman, Ratih masih sesenggukan menangis. Dia masih memeluk batu nisan ayahnya.


"Ya Allah, Papa...Kenapa papa ninggalin Ratih."


"Sayang, sudahlah, jangan menangis terus, yah. Nanti papa kamu itu tidak tenang di alam sana. Sekarang kamu berdoa saja untuk papa kamu. Doa anak soleh itu akan selalu di kabulkan."


Ratih mengangguk.


"Ayo Nak. Kita pulang, kita pulang yah..."Kata Bu Lisna.


"Aku nggak mau pulang. Ratih mesih pengin di sini menemani ayah. Ratih masih kangen."


"Ya udah Darma, mama pulang dulu yah, kamu jagain istri kamu." Kata Bu Lisna.


"Iya Ma, itu pasti."


"Papa dan mama juga pulang dulu yah Darma, Ratih." Kata Pak Arwan.


Ratih mengangguk.


"Ya udah. Sekarang kalian pulanglah, aku akan tetap menunggui Ratih di sini." Kata Darma.


...****************...

__ADS_1


Malam ini, bulan di atas sana tampak bulat sempurna. Di sekarang Ratih masih berdiri di dekat jendela. Ratih menerawang ke atas langit. Dia masih terbayang-bayang sosok ayahnya.


Darma menghampiri Ratih.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Aku masih teringat papa Mas, dia orang yang selama ini selalu belain aku Mas, di saat mama marahin aku, dia yang selalu menghiburku."


"Iya aku tahu Dek. Tapi tugas kamu sekarang itu harus tingkatkan ibadah kamu. Kamu harus belajar dewasa. Dan Mas, mau kamu berhijrah Dek."


"Maksud Mas,"


"Ratih, buang jauh-jauh pakaian pendek kamu. Nanti kita beli gamis untuk penggantinya. Mas mau kamu pakai, pakaian tertutup. Jangan pakai pakaian terbuka. Yah Ratih. Mau yah, kamu sayang kan sama Mas?"


Ratih menatap ke arah Darma.


"Iya. Aku mau. Mulai sekarang, aku akan pakai, pakaian tertutup. Dan aku mau jadi istri soleha untuk Mas Darma. Ratih janji, mulai sekarang, Ratih akan belajar menjadi wanita dewasa. Dan sebentar lagi Ratih kan mau punya anak. Ratih udah nggak mau jadi anak kecil lagi. Ratih juga mau meningkatkan ibadah Ratih. Biar calon anak kita jadi rajin solat."


"Iya. Makasih yah sayang. ams sayang banget sama kamu."


"Mulai sekarang, Ratih nggak akan buat Mas kesal lagi. Ratih akan jadi istri penurut dan akan menjadi istri yang dewasa."


"Iya sayang, sebentar lagi kamu kan udah mau jadi ibu. Jadi jangan seperti anak-anak lagi. Manjanya untuk gantian anaknya yah?"


"Hemm."


Darma mengecup puncak kepala Ratih, setelah itu, dia memeluk Ratih lagi dengan erat. Darma berharap kali ini Ratih mau menuruti semua keinginannya. Belajar menjadi istri dewasa.


...****************...


Sebelum Husni pulang kantor, dia ingin terlihat cantik. Dia ingin tampil sempurna di mata suaminya.


"Aku yakin. Mas Husni pasti sebentar lagi akan pulang. Dia akan memeluk ku dan akan mengatakan kamu cantik sekali." Kata Nara.


Nara tersenyum. Sekarang dia sudah tampak lega. Karena Inayah sudah pergi jauh dari kehidupannya dan suaminya.


"Mudah-mudahan Inayah sadar. Dan dia tidak kembali lagi di kehidupan aku dan Mas Husni."


Di halaman depan, tampak Husni sudah memarkirkan mobilnya. Dia kemudian turun dari mobilnya.


Sore ini Husni terlihat kusut sekali wajahnya. Tidak seperti buasanya.


Yah, dia habis mencari Inayah. Namun tidak Inayah belum di temukan.


Ah , seharusnya aku nggak membiarkan Inayah pergi. Aku kangen juga sama Inayah. Ah, seandainya waktu bisa terulang, aku pasti akan menikahi Inayah dengan izin Nara.


Husni kemudian masuk ke dalam rumahnya.


"Asamualaikum." Ucap Husni.


"Wa' alaikum salam." jawab Nara.

__ADS_1


Nara melebarkan senyumnya. Nara kemudian menyalim tangan Husni.


"Kak, aku udah siapin makanan di meja makan."


"Malam ini, aku mau ngajakin kamu dinner kamu mau kan?" tanya Husni.


"Mendadak sekali Kak."


"Yah, aku pengin ajak kamu keluar, biar kamu nggak suntuk di rumah."


"Oke deh kalau begitu aku akan gantu baju dan siap-siap."


Nara kemudian bergegas melangkah ke kamarnya. Dia bersiap-siap untuk berangkat makan malam bersama suaminya.


Husni duduk di ruang tengah. Dia masih memikirkan sosok Inayah. Entah kenapa sejak Inayah pergi, Husni selalu teringat Inayah.


Inayah, kenapa kamu pergi. Aku kangen Inaayah. Dulu aku memang tidak mencintai mu, entah kenapa sekarang, rasanya aku tersiksa hidup tanpamu. Kamu selalu membuatku khawatir Inayah.


Sesaat kemudian, Nara pun turun. Dua tersenyum pada Husni.


"Kak Husni."


Husni tersenyum. Betapa cantiknya Nara malam ini. Yah, saat ini hati Husni sudah terbagi dua. Satu sisi milik Nara, dan di sisi lain milik Inayah, istri yang belum di ceraikannya. Yah, Husni belum pernah mengatakan cerai ataupun talak pada Inayah. Dia masih mempertahankan Inayah.


"Wah, cantik sekali kamu... Kamu itu seperti bidadari...."


"Ah, Kak. Jangan terlalu begitu memujinya."


"Ya udah yuk, kita jalan."


"Iya Kak."


Husni dan Nara pun kemudian meluncur pergi dengan mobilnya.


Husni masih melihat ke arah luar mobil. Dia berharap akan bertemu Inayah di sana.


Sudah satu minggu aku nggak berhasil menemukan Inayah. Bagaimana sekarang, ke adaan istri siriku itu.


Nara menatap Husni.


"Kak Husni kenapa? sedari tadi ngelamun melulu? lagi mikirin apa?" tanya Nara.


"Oh, nggak sayang. Aku nggak lagi mikirin apa-apa kok." Bohong Husni.


Padahal sedari tadi dia sedang memikirkan Inayah istri sirinya itu.


"Kak, kakak besok mau nggak antarin Nara cek kandungan?"


"Iya Nara. Besok yah...oke aku akan selalu siapa menjadi suami siaga untuk mu." kata Husni.


Beberapa menit kemudian, Husni dan Narapun sampai ke cafe favorit mereka. Husnipun turun dari mobilnya. Dia kemudian membukakan pintu mobil Nara.

__ADS_1


"Ayo sayang. Kita turun...!"Kata Husni sembari meraih tangan Nara.


"Makasih Kak..."


__ADS_2