Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 26


__ADS_3

"Bukan racun yang itu Dek."


"Terus?"


"Apa kamu tahu, kalau Nino sudah menaruh obat perangsang di minumanmu?"


"Apa!" Ratih terkejut.


"Yah. Begitulah dia. Dia sangat licik. Aku sudah mengenalnya sejak lama. Entah sudah berapa perempuan yang sudah masuk perangkapnya. Dia itu seorang playboy."


"Jadi, begitu?" Ratih berusaha mencerna ucapan Darma barusan, sembari tangannya masih mengusap wajahnya yang basah penuh air mata.


"Terus. Mas Darma yang udah bawa aku kesini?"


"Iya Ratih, aku cinta sama kamu. Aku akan selalu menjagamu walau nyawalah taruhannya. Aku akan perjuangkan cinta ku Ratih. Selama nafasku masih berhembus, takan aku biarkan seseorang menyentuhmu, apa lagi menyakitimu."


Ratih memeluk Darma.


Deg.


Jantung Darma berdegup kencang.


Aish, oh juniorku yang di bawah sana, tetaplah kau dalam tidurmu. Jangan kau bangun seperti semalam. Aku cuma mau menenangkan gadisku, supaya dia berhenti menangis.


"Terus foto itu?" tanya Ratih.


Darma melepaskan pelukannya. Darma menatap Ratih.


Dia memundurkan dirinya sedikit untuk menjaga jarak.


" Itu foto Asri, Dia mantan Mas yang udah nikah."


Deg. Ratih merasa tertusuk. Dadanya tampak sesak.


"Tapi kamu tenang saja, aku nggak akan pernah tergoda oleh cewek manapun sayang, bagi Mas, selamanya cuma Adek yang ada di hati Mas."


Ratih tersenyum.


Auh Ratih manis banget, seandainya kita sudah halal. Pasti Mas sudah menerkam mu sekarang Dek.


"Terus hubungan kita yang semalam?"


Darma terkekeh.


"Ya, nanti kita lanjutin lagi ronde kedua. Kalau kamu mau lagi, sekarangpun Mas siap sayang." Darma menaik turunkan alisnya.


Ratih dengan sigapnya langsung memukul Darma dengan bantalnya berkali-kali.


buggh...


"Dasar laki-laki mesum! tega sekali Mas menghancurkan ku. Aku udah nggak gadis lagi." gumam Ratih yang belum puas dengan pukulannya.


Dia terus memukul tanpa ampun.


dan...


"huaa...." Tangisan Ratih pecah.


Dia menangis semakin menjadi-jadi. Suaranya seperti anak kecil yang menangis karena tidak di kasih uang jajan.


Darma menyeringai. Dasar gadis bodoh. Mau aja kamu aku kibulin. siapa juga yang udah menyentuhmu.

__ADS_1


Flashback on.


Darma mendapatkan ide. Dia kemudian pergi ke kamar Bu Arum. Di sana tampak sepi. Sepertinya Bu Arum dan Pak Arwan sudah pergi.


Sekarang Darma melakukan aksinya. Dia membuka lemari Mamanya, dan menemukan lingerie milik mamanya.


Darma kemudian memanggil Mbak Sumiati pembantunya.


"Ada apa Den."


"Tolong, Ratih belum ganti baju dari semalam. Pakaikan ini padanya!"


Mbak Sumi menatap baju itu geli.


"Apa Den, inikan punya nyonya!"


"Udah nurut aja! Nanti aku balikin kok."


"Aden mau melakukan yang aneh-aneh yah."


"Ssst berisik! Ayo buruan! "


"Baiklah Den."


Mbak Sumi akhirnya menuruti keinginan konyol anak majikannya itu.


Setelah selesai, Mbak Sumiati pergi keluar kamar Ratih.


"Aden ini udah nggak waras. Masa pagi-pagi gini, udah mau nglakuin yang nggak-nggak. Apa semalam belum puas?" gumam Mbak sumi ikutan berfikiran mesum.


Setelah masuk kamar, Darma melepas kaosnya dan celana panjangnya. Dan sekarang dia setengah telanjang hanya menggunakan boxer.


Dia mau menunggu Ratih sampai terbangun. Bagai mana reaksi Ratih saat bangun nanti.


***


Ratih duduk di balkon kamar. Dia menatap ke jalanan. Sulit sekali menerima kenyataan. Darma orang yang selama ini dia percaya, tega menghancurkan dirinya.


Bagaimana kalau kejadian semalam itu, akan membuat dirinya hamil. Dan, Ratih belum siap punya anak. Ratih masih pengin menuruti kata-kata Bu Arum untuk dia sekolah lagi, dan menjadi seorang wanita sukses seperti Kak Nara.


Lagi-lagi Ratih menangis. Tubuhnya terasa sangat lemas.


"Udah Dek, jangan nangis mulu. Nanti habis air matamu." Kata Darma sembari meletakan segelas susu dan nasi goreng di ata meja tempat Ratih duduk.


Darma duduk di samping Ratih.


"Makan dan minumlah dulu! nanti nangisnya lanjut lagi."


Ratih menggeleng.


"Kamu masih kepikiran dengan pertandingan kita?"


Ratih mencoba mengingat-ingat lagi. Apakah dia semalam benar-benar melakukan pertandingan.


Pertandingan... pertandingan...Apa iya aku menang? Apa iya aku lincah? Tapi aku nggak ingat apa-apa. Dan tubuhku juga nggak ngerasain hal-hal yang aneh.


Ratih melirik wajah Darma yang tampak senyam-senyum sendiri nggak jelas.


"Kenapa Mas senyam-senyum? nggak jelas banget." Ketus Ratih.


"Iya Adek, soal semalam maafin Mas yah. Itu semua, kamu yang minta Dek. Bukan Mas yang mau. Kamu yang memaksa Mas untuk melakukannya."

__ADS_1


"Mas, Aku nggak mau hamil...Aku takut..."


Ratih menangis lagi.


"Nggak usah takut Adek, Mas akan tanggung jawab kok."


Ratih berfikir lagi.


Pertandingan? Pertandingan apa yah? Aku nggak ingat apa pun. Aku harus ngecek lagi di kamar mandi apakah aku benar melakukan pertandingan atau nggak.


"Mau kemana sayang?" tanya Darma yang melihat Ratih buru-buru pergi.


"Mau mandi."


"Mandi lagi? Bukannya tadi udah mandi?" Darma bingung.


Di kamar mandi Ratih bercermin.


" Kata orang, malam pertama itu sakit. Dan kalau melakukan sesuatu, pasti akan ada bercak darah. Dan kita akan kesulitan berjalan. Tapi, kok aku nggak?"


Pikirannya masih sma


pertandingan....pertandingan...lincah?


"Dasar Mas Darma rese. Jadi tadi pagi dia udah ngerjain aku habis-habisan. Jadi tadi dia juga senyam-senyum sendiri, karena itu? kita nggak pernah tidur bareng. Dan aku nggak percaya kalau Mas Darma berani seperti itu." gumam Ratih yang sudah mulai menyadari kalau Darma memang lagi mengerjainya.


Ratih mengambil segayung air. Dia keluar kamar mandi dan menyiram Darma dengan air.


Darma tersentak.


"Kok Mas di siram sih sayang."


"Mas jahat. Mas udah bohongin aku. Kita semalam nggak melakukan pertandingan apa-apa!"


Oh, ternyata dia sudah nyadar? siapa suruh dia percaya.


Ratih mengambil raket nyamuk dan memukul Darma tanpa ampun.


Setelah puas


"Aku mau pulang. Ibu pasti udah mencemaskan ku."


"Iya. Nanti Mas antar. Tapi, kamu udah maafin Mas kan."


Ratih mengangguk. Dia sudah mulai tampak lega. Seharusnya dia berterima kasih pada Darma. Karena Darma telah menyelamatkannya dari jebakan playboy itu. Seandainya saja Darma tidak datang dengan segera, Mungkin Ratih tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu.


Mungkin dia akan menjadi orang yang paling bodoh dan terhina selamanya. Mungkin juga Darma akan kecewa dan meninggalkanya, jika Nino benar-benar telah menyentuhnya.


"Makasih ya Mas. Kamu udah nyelamatin aku dari pria sialan itu."


"Belajarlah menjadi dewasa. Jangan mudah terhasut orang, Dan jangan mudah percaya pada orang asing Dek."


"Iya. Aku percaya sama Mas."


"Iya, Mas harap kalau kamu udah dewasa nanti, kamu mau yah berubah seprti Kak Nara."


"Maksud Mas?"


"Dia itu teladan buat kamu Ratih, dia itu wanita soleha yang selalu menutup auratnya. Cintanya pada Mas Husni, juga terlalu besar. Kesetiaannya memang patut kamu contoh."


"Iya. aku akan belajar darinya. Insya Allah. Aku akan mencoba untuk kamu Mas. Nanti aku juga akan belajar berhijrah."

__ADS_1


Darma tersenyum. Setelah itu dia mencium tangan Ratih.


__ADS_2