
Darma Setiawan.
Ratih Angraini.
Nara Aida
Husni.
****
Malam ini Ratih benar-benar sangat marah, Emosinya sudah tidak bisa di kendalikan.
Dia menatap ke genangan air kolam renang. Tanpa pikir panjang lagi, dia menceburkan diri ke dalam kolam renang tersebut.
Itu bukan karena dia akan menuangkan amarahnya di sana, dan meredam amarahnya dengan berenang.
Tapi dia sengaja menenggelamkan dirinya sendiri. Karena Ratih memang tidak bisa berenang.
Biarkanlah aku mati, Seandainya aku terus hidup, akupun tak akan kuat melihat Mas Darma bermesra-mesraan dengan wanita-wanita itu, selamat tinggal Mas Darma.
Dia merasa hidupnya sudah tidak berarti. Hatinya hancur saat melihat suaminya di kelilingi perempuan-perempuan itu.
Di tambah lagi, Asri mengancam kehidupannya.
Ratih tenggelam. Asri yang melihat kejadian tersebut, bukan menolong, malah kabur dari tempat itu. Dia juga tidak ingin di salahkan.
"Perempuan itu benar-benar udah nggak waras. Bisa-bisanya dia menceburkan diri, sementara dia tahu dia tidak bisa berenang. Dasar perempuan sinting. Kalau tadi aku di sana terus, bisa-bisa aku lagi yang di sangka jeburin dia." Gumam Asri sembari pergi meninggalkan kolam renang tersebut.
***
Darma mulai tersadar, dia tak melihat Ratih lagi di sekelilingnya. Dia sedari tadi di sibukan oleh para tamunya.
Pikirannya tak enak, jantungnya berdebar-debar. Seperti merasa kalau telah terjadi sesuatu dengan Ratih.
Dia mulai sibuk mencari ke setiap sudut rumah. Namun hasilnya nihil. Dan ada satu tempat lagi. Yah di kolam renang.
Sesampai di sana Darma di kejutkan oleh tubuh Ratih yang sudah pingsan tak berdaya tenggelam di dasar kolam.
Darma berteriak.
"Ratih..." Dia langsung ikut menjeburkan dirinya ke kolam renang tersebut.
Orang-orang yang ada di dalam rumah, merasa penasaran dengan apa yang terjadi di halaman sebelah rumah.
Mereka sama-sama melihat, ternyata sepasang pengantin itu sedang terjebur di kolam renang.
Semua orang itu saling pandang. Dia tidak mengerti dengan kejadian tersebut.
__ADS_1
Pengantin wanita yang di gendong oleh pengantin pria itu, tampak pingsan. Tubuhnya membiru karena terlalu lama tenggelam.
Darma membaringkan gadisnya di sisi kolam renang.
" Sayang, bangun sayang, apa yang terjadi dengan mu? kenapa kamu bisa terjebur seperti ini?" Darma panik.
Anggota keluarga Darma dan keluarga Ratih mendekat. Mereka jadi ikut terkejut dan panik.
"Kenapa dengan cucu saya? Dia kan tidak bisa berenang? " Oma Marwa panik.
Jadi gadisku tidak bisa berenang? lantas kenapa dia bisa sampai tenggelam. Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa aku lengah menjaganya? astaga...!
Darma mulai frustasi.
Dengan segera, dia langsung memberi nafas buatan. Dia menekan-nekan perut istrinya berusaha untuk membuang air yang telah tertelannya.
Tak lama kemudian, Ratih menyemburkan air dari dalam mulutnya.
"Ratih...!!!"
Darma menepuk-nepuk pipi Ratih. Tubuh Ratih bergetar, dia tampak menggigil.
"Kenapa semua pada diam...panggil Dokter sekarang ! " Suara Darma menggelegar, yang membuat orang di sana kaget.
Mereka saling menatap. Timbul berjuta pertanyaan dalam benak orang-orang itu. Apa yang telah terjadi.
Husni dan Nara saling menatap.
"Ada apa Kak?" tanya Nara pada suaminya.
Bu Lisna menangis di pelukan suaminya.
Sementara Bu Arum masih terbengong-bengong.
Siapa yang nggak akan terkejut melihat gadis yang masih dengan gaun pengantin, tenggelam di kolam renang dan hampir mati karena begitu lamanya dia tenggelam.
Darma mengangkat tubuh Ratih, dia menggendongnya sampai ke kamarnya.
Darma mencopot gaun pengantin Ratih yang basah, setelah itu dia mengganti pakaian Ratih dengan pakaian yang kering. Darma tampak begitu cemas dan panik.
Dia masih menggosok-gosokan tangan Ratih. Mencoba menaruh kehangatan di tangan Ratih.
"Kenapa lagi kamu sayang? Kenapa kamu selalu bikin Mas cemas? "Darma masih belum mengerti.
Seharusnya ini adalah hari bahagia Ratih. Kenapa dengan hari bahaginya, sampai membuat Ratih hampir mati.
Beberapa lama kemudian, Dokter Irawan datang. Dia adalah sahabat Pak Arwan dokter langganan keluarga Darma.
"Om Awan, tolong istri saya Om."
" Iya kamu tenang yah, aku akan memeriksanya."
Doktrr Irawan kemudian memeriksa tubuh Ratih.
"Nggak apa-apa. Semua normal. Kamu tinggal tunggu dia siuman aja."
__ADS_1
"Iya Om" Ucap Darma.
" Iya, nanti saya akan tuliskan resep obatnya yah?"
Bu Arum dan Bu Lisna tampak berdiri di kamar Darma.
Bu Lisna dengan berlinang air mata menghampiri Darma.
"Nak Darma, kami segenap keluarga besar Ratih, mau menitipkan Ratih di rumah ini. Tolong jaga Ratih dengan baik. Kamu tahu kan sekarang, kejiwaan Ratih memang agak sedikit terganggu. Tapi Mama udah pernah jujurkan dulu sama kamu."
"Iya Ma, aku janji akan merewat Ratih dengan baik. Aku sangat mencintai dia. Biarkanlah dia tumbuh dewasa bersama ku. Akan aku pimpin dia agar menjadi seorang wanita dewasa."
Darma berdiri dan memeluk Bu Lisna.
Bu Arum merasa sangat terharu. Diapun menitikan air matanya.
"Iya Jeng, kami akan sangat menerima kehadiran Ratih di sini. Anak mu itu, sudah seperti penghibur buat kami. Dia anak yang periang."
Bu Arum dan Bu Lisna pun berpelukan.
***
Setelah pesta itu usai, para tamu undangan pun pulang begitu juga keluarga Ratih. Mereka pamit pulang.
Di kamar, Darma masih memandangi istri nya.
Dia masih belum menyangka kalau sekarang Ratih adalah istrinya.
Darma kemudian merebahkan tubuhnya di sisi istrinya dan mendekapnya.
Darma masih mengelus rambut Ratih dengan penuh sayang,
"Sayang...Apakah kamu tahu, betapa Mas sangat mencintaimu Dek, Kamu adalah separuh dari jiwaku, Jika kamu sakit, Maspun akan bisa merasakannya. Kau itu perempuan yang berbeda sayang."
Darma mengecup kening Ratih. Dia tampak sangat lelah. Setelah itu, Darma tenggelam ke dalam mimpinya. Dia tertidur bersama Ratih.
Waktu sudah menunjukan jam 10 malam. Di luar seperti terdengar rintikan-rintikan gerimis.
Ratih terbangun. tubuhnya terasa sangat berat. Dan di lihatnya tangan kekar melingkar di tubuhnya.
Ratih tersadar. Dia kemudian menatap ke sisinya. Dia terkejut karena Darma tampak terlelap sembari memeluknya.
Mas Darma, aku ...aku masih hidup? Bukankah tadi aku sudah mengucapkan selamat tinggal? Kenapa aku harus hidup kembali?
Ratih menangis. Dia masih merasa sangat dongkol dengan kejadian tadi sore.
Ratih melepas pelukan Darma dengan kasar. Dia menyingkirkan tangan Darma dengan paksa, membuat Darma terkejut.
"Alhamdulillah, sayang... kamu udah sadar Dek?" Darma tersenyum sembari duduk.
Bugh...
Tiba-tiba Ratih memukul bantal ke wajah tampan suaminya.
"Ngapain Mas peluk-peluk aku. Pasti Mas mau ngambil kesempatan dalam kesempitan yah? dasar Mas mesum!"
__ADS_1
Apa-apaan ini. Diakan istriku. Kok ngomongnya gitu. Bukannya kita udah halal. Jadi ngapa-ngapain aja udah boleh dong. Kok dia malah marah. Apa salahku?