
Darma panasaran dengan cewek yang di bawa Nino. Perlahan-lahan Darma membuka pintu kamar Nino.
Ceklek.
Darma tampak melihat sosok tubuh mungil yang sedang tertidur pulas. Seluruh tubuhnya tertutup selimut. Hanya bagian wajahnya saja yang masih bisa terlihat. Darma mengulas senyum.
Gadisku, syukurlah.
"Dia belum mau pulang. Biarkanlah dulu." Kata Nino menepuk bahu sahabatnya.
Darma terperanjak.
"Iya. Dia masih terlelap." Ucap Darma.
"Ayo. Kita ngopi-ngopi dulu. Udah lama kan lu nggak main ke sini. Gue kepo juga ama hubungan percintaan baru lu ini." Ajak Nino.
Darma kemudian melangkah bersama Nino keruang tengah. Sudah ada dua cangkir kopi tersuguh di atas meja.
"Lo hutang penjelasan ke gue Dar." Kata Nino sembari meletakan cangkir kopi setelah menyeruputnya.
"Oke akan gue jelasin."
Darmapun menjelaskan secara detil dari A-Z. Yah, sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus perlu di tutup-tutupi. Darma mencintai Ratih, dan tidak ingin meninggalkannya wala sekejap.
***
Ratih mengerjapkan matanya. Dia mendorong selimutnya. Setelah itu dia melangkah keluar kamar.
Masih mengenakan kemeja yang kelonggaran itu.
Samar-samar Ratih mendengar percakapan Nino dengan seseorang. Seseorang yang suaranya tak asing lagi di telinganya.
"Mas Darma. Apa itu suara Mas Darma? Apa aku nggak salah dengar? Tapi mana mungkin? Mas Darma kan nggak kenal Nino." gumam Ratih yang masih di selimuti rasa penasaran.
Ratih perlahan-lahan membuka pintu kamar, yang membuat dua orang pemuda itu menoleh bersamaan.
"Ratih..." Ucap Darma berbinar.
Ratih tampak tertegun.
Kenapa Mas Darma bisa menemukanku di sini. Atau sebenarnya dia itu seorang detektifkah, atau polisi, atau dia punya mata batin. Ah, aku bingung. Yah dia memang Darma Setiawan yang mau menjemputku pulang. Dan dari mana Mas Darma tahu, kalau aku di apartemen Nino. Apa Mas Darma mengenal Nino? kalau begitu, dunia sangat sempit sekali. Kenapa dia cepat sekali menemukan ku.sial !
Darma langsung berhambur melangkah dan memeluk Ratih. Tapi yang di peluk cuma bisa diam mematung.
"Sayang, kamu nggak kangen sama Mas?" Darma melepas pelukannya.
Ratih masih terdiam.
__ADS_1
"Sayang, apakah kamu tahu, Semalam Mas nggak tidur karena cemas memikirkanmu. Kenapa kamu selalu bikin Mas khawatir Adek. Mas cinta sama kamu. Mas nggak mau kehilangan kamu." kata Darma tulus.
Darma menangkup wajah Ratih dengan kedua tangannya.
"Sayang, Mama dan Papa mu mengkhawatirkanmu Adek. Sekarang kita pulang yah."
"Aku nggak mau ngomong sama Mas."
"Lah yang barusan itu apa? berarti kan kamu ngomong. he..." Darma terkekeh.
Kebiasaanya yang selalu membuat hati Ratih luluh.
"Mas Darma nyebelin. Kenapa Mas Darma bisa langsung tahu sih kalau aku ada di sini! " Ratih memukul-mukul dada bidang Darma.
he he...Darma terkekeh.
Sementara air mata Ratih menetes dengan derasnya. Dia memang sangat rindu pada Darma. Baru semalam tak bertemu, rasa rindu itu, udah seperti setahun.
Dan bagaimana bisa seorang insan yang saling mencintai akan cepat berpisah dan saling melupakan.
Itu tidak mungkin. Dan demi mempertahankan hubungannya dengan Ratih, mungkin Darma rela harus meninggalkan rumah dan menentang kedua orang tuanya
Adek, ini yang selalu Mas suka dari kamu. Ngegemesin. Bikin Mas tambah kangen. Pasti kalau kita udah nikah, hidup kita akan bahagia.
"Cukup sayang cukup..." Darma meraih tangan Ratih dan menggenggamnya erat.
Apa-apaan si Nino. Masak gadisku di suruh pakai kemeja kelonggaran kayak gini. Dan apa benar Nino nggak tergoda dengan gadisku. Lihatlah, dengan penampilan seperti ini aja, udah membuatku deg-degan nggak karuan begini.
"Ehm...ehm..." Nino berdehem.
"Kangen-kangenannya nanti aja kalau udah di rumah. Jangan bikin iri deh, pacarku lagi nggak ada." Cetus Nino tiba-tiba.
"Apaan sih lu." Desis Darma.
***
Setelah berhasil membujuk Ratih, Darmapun kemudian memulangkan Ratih ke rumah orang tuanya.
"Ya ampun Nak. Dari mana aja? Mama dan Papa udah cemas mikirin kamu." Kata Bu Lisna sembari mendekap dan mencium putrinya itu.
"Iya. Kakak kemana aja sih. Kan aku jadi nggak ada teman main." Kata Dian.
Ratih tersenyum
Ternyata mereka masih peduli sama aku. Kenapa aku mau bunuh diri. Ah itu konyol sekali. Gara-gara Tante Arum, aku mau bunuh diri. Kan cinta itu butuh perjuangan.Mas Darma juga cinta banget sama aku.Dia malah bela-belain sampai nggak tidur semalama**n nyariin aku.
"Maafin Kakak yah Dian. Kakak udah bikin kalian semua khawatir." Kata Ratih sembari melangkah masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Ratih...Dari mana aja kamu Nak? Kamu baik-baik ajakan?" tanya Pak Rudy sembari memeluk Ratih.
"Iya. Aku baik-baik aja." jawab Ratih.
Darma tersenyum. Dia merasa sangat lega. Karena sudah bisa mengembalikan Ratih kepada pemiliknya. Yah siapa lagi kalau bukan Bu Lisna dan Pak Rudy Orang tua yang sudah membesarkan Ratih selama ini.
***
Nino masih berdiri di dekat jendela kamarnya. Dia masih tampak mematung. Entah apa yang sedang di fikirkan.
"Ah...Kenapa denganku. Ratih...Kenapa aku jadi selau memikirkanmu." gumam Nino.
Nino masih saja terdiam.
Pikirannya masih tertuju pada Ratih. Gadis yang kemarin bermalam di rumahnya.
Setelah itu dia melangkah keluar apartmennya. Dan melesat menuju ke sebuah bar tempat berkumpul teman-temanya.
"Ah, sial ! Kenapa bayangan gadis itu, nggak hilang-hilang." Nino bergumam sembari sesekali dia menyeruput segelas wine.
"Hey bro, kenapa lagi lu? bukannya seharusnya lo bersenang-senang. Kenapa lu masih kelihatan stres. Apa salah satu cewek lu mencampakan lu?" tanya seorang lelaki sepantaran Nino, menepuk pundak Nino.
"Nggak tahu Bro. Sepertinya aku udah mulai jatuh cinta."
"Oya? jatuh cinta dengan siapa lagi?" tanya lelaki tadi.
"Pada sesorang. Gadis itu sangat cantik dan menggemaskan tapi sayang?"
"Sayang kenapa?"
"Tapi sayang, dia kekasih sahabat gue."
"Baru kekasihkan, belum jadi istri. Yah lo masih bisa lah untuk dekatin dia."
"Yah, akan aku coba. Terserah si Darma sialan itu. Aku harus memiliki Ratih...!
Nino. Yah siapa yang tidak kenal Nino. Nino adalah seorang play boy dan pemabuk. Wanita-wanitanya pun silih berganti. Setiap hari hampir dia mengencani tiga perempuan sekaligus. Dan membawanya ke dalam dekapannya.
Dan apartemenya lah yang menjadi saksi bisu akan kemesuman Nino.
Nino adalah sahabat Darma sewaktu kuliah. Memang karakter Nino sudah seperti itu. Terlalu mudah untuk jatuh cinta. Ketampananya yang di atas rata-rata itu, selalu bikin para gadis jadi kelimpungan jika di dekatnya.
Sudah banyak perempuan yang sudah di patahkan hatinya oleh Nino. Entah tak terhitung jumlahya.
Dan dari semua gadis itu, belum ada satupun yang berani menolaknya.
Dan sekarang dia jatuh cinta pada Ratih, yang baru di kenalnya. Dan yang terpenting gadis itu sekarang adalah kekasih Darma sahabatnya.
__ADS_1