
Hari ini adalah hari pertama Ratih masuk sekolah. Sudah beberapa bulan ini, Ratih tidak menginjakan kakinya lagi di sekolah. Semenjak kecelakaan itu, Ratih berhenti sekolah.
Kecelakaan yang membuat kakinya patah dan yang membuat Yuli tewas.
kelas 12 IPA. yah, di sinilah kelas Ratih sekarang. Dan ternyata, dia sekelas juga dengan kenalan barunya. Adista Maharani.
"Silahkan masuk Ratih! " pinta Bu Nana guru kelas Ratih.
"Baik Bu." Jawan Ratih singkat.
Ratih dengan tubuh gemetar, akhirnyapun masuk juga. Dia melangkahkan kakinya secara perlahan.
Ratih tersenyum pada teman-teman barunya.
Yah, Ratih tampak gugup. Bagaimana tidak akan gugup, kalau sudah beberapa bulan ini, dia tidak menginjakan kakinya lagi kesekolah.
Dan ini sekolah elit. Sekolah muslim lagi, yang sangat ketat ilmu agamanya. Ratih tidak bisa buka-bukaan dong.
Emang sengaja Darma memilihkan sekolah islam untuk Ratih. Karena Dia juga tidak mau aurat Ratih di lihat oleh para lelaki di luaran sana. Dia juga ingin sedikit demi sedikit, mengajari Ratih untuk berhijrah dan menjadi dewasa. Maklumlah sekarang Darma jadi sedikit posesiv.
Seluruh anak di kelas baru Ratih, memandangi Ratih. Di sekolah ini, murid laki-laki dan perempuan ini di pisah kelasnya.
Apa yang salah dengan penampilanku saat ini? apa aku nggak pantas pakai hijab? tapi kata Mas, aku cantik kok. Kok mereka memandangi ku kayak gitu. Mudah-mudahan mereka mau menerima ku sebagai teman barunya.
"Ayo Ratih, Kenalkan dirimu!" pinta Bu Nana.
"Baik Bu." Jawab Ratih.
"Hai, namaku Ratih Anggraini. Aku pindahan dari SMU Nusa Bangsa." Ratih akhirnya nemberanikan diri untuk berkenalan. Walau tampak dari wajahnya, hati Ratih sedikit ragu untuk memperkenalkan dirinya di depan kelas.
Sedari tadi Ratih hanya di bayang-bayangi rasa waw-was dan khawatir. Dia takut kalau dia tidak di terima oleh teman sekelasnya.
"Bu, Ratih duduk sama aku aja Bu." Celetuk Adista.
Bu Nana tersenyum tampak menyetujui.
"Ya udah Ratih, sekarang kamu duduk di samping Adista. Semoga kerasan yah sekolah di sini." Kata Bu Nana Membuat Adista terlonjak bahagia.
"Iya Bu. Aku senang kok, bisa sekolah di sini." Ucap Ratih sebelum duduk di samping Adista.
****
Jam istirahat Ratih mengelilingi sekolahnya. Dia di temani Adista melihat-lihat kantin, ruang guru, perpustakaan dan yang lainnya.
Pandangan Ratih tertuju pada lelaki sexi yang pernah di temuinya sejak pagi.
"Wah, dia jago juga main basketnya!" Ratih yang memandang dari jauh guru olah raganya itu, seketika terkagum-kagum dalam sejenak.
__ADS_1
tiba-tiba...
Bugh...
Satu hentakan keras mengenai kepala Ratih. Ratih pun akhirnya jatuh pingsan, saat bola basket Pak Rama mengenai kepalanya.
Adista terkejut. Dia panik.
"Pak Rama. Ratih pingsan tolongin dong!"
Pak Rama menghampiri Ratih dan Adista.
"Kenapa dia bisa pingsan?" tanya Pak Rama penuh kekhawatiran.
"Ah, Pak Rama ini. Jangan banyak tanya! apalagi kalau bukan kena bola basket bapak !" Adista ngomel.
"Oh ya ! Aduh aku benar-benar nggak sengaja tadi."
"Kok malah berdiri aja. Tolongin dia dong! bantuin angkat dia ke UKS!"
"Iya...iya...iya..."
Pak Rama pun akhirnya mengangkat tubuh Ratih untuk di bawa ke UKS.
Adistapun mengikutinya di belakang.
Seorang siswi tampak menggerutu.
"Ih, dasar cewek caper! kenapa sih, harus dia yang di gendong Pak Rama. Kenapa bukan aku aja yang kena bola, dan bisa di gendong Pak Rama."
Di sisi lain pula.
"Wah wah wah...hebat banget tuh anak baru. Bisa-bisanya dia mau caper ama gebetan aku." Kata seorang perempuan bernama Indira yang tak lain adalah teman sekelas Ratih. Usut demi usut si Indira itu, ternyata ponakan dari pemilik sekokah ini.
Indira sudah tergila-gila dengan Pak rama, sejak pertama kali Pak Rama mengajar di sekolah ini.
"Wah, anak baru itu cakep banget, imut, mungil, kayak boneka barbie" Celetuk Tania sahabat dari Indira.
"Hey Tania. Teman kamu siapa sih? kita, ama anak baru yang sok imut itu." Kata Rumi sahabat Indira lagi.
Indira mempunyai dua sahabat. Tania dan Rumi. Indira di sekolahnya ini, juga sangat populer. Banyak anak cowok yang naksir dia. Tapi Indira selalu nolak. Karena dia tidak suka dengan anak sepantarannya. Dia lebih suka pacaran dengan lelaki dewasa, macam Darma gitu.
Makanya sejak kehadiran Pak Rama di sekolah itu, Indira jadi ngefans banget. Seakan-akan dia sudah benar-benar jatuh cinta pada Pak Rama.
Bel masukpun berbunyi. Adista yang masih menemani Ratih di UKS itu, bingung. Dia mau masuk ke kelas atau tidak. Karena Ratih tidak kujung siuman.
"Kamu nggak masuk kelas?" tanya Pak Rama pada Adista.
__ADS_1
"Gimana mau masuk kelas Pak. Teman aku aja nggak sadar-sadar gini. Ini semua gara-gara Bapak sih, tanggung jawab dong!"
"Ya udah sana, masuk kelas aja. Biar aku yang tungguin temanmu."
"Benaran Pak. Ya udah aku pergi dulu. Tapi awas yah, jangan macam-macam!" ancam Adista sebelum pergi meninggalkan UKS
"Iya nggak. Siapa yang mau macam-macam sih!" dengus Pak Rama.
Adistapun pergi meninggalkan UKS dan melangkah untuk pergi ke kelasnya.
****
"Aduh...Mas Darma...kepalaku." Ucap Ratih yang masih memegang kepalanya
"Dek, adek nggak apa-apa?" tanya Pak Rama.
Lagi-lagi Ratih di kejutkan oleh pemandangan indah di dekatnya.
Harum wangi minyak maskulin, menyentuh penciuman hidungnya. Aroma Pak Rama sungguh wangi. Seperti aromanya Darma saat mau berangkat ke kantor.
Apa, dia panggil aku adek? why? dia itu Pak Rama , bukan Suamiku. Kenapa manggil aku ikut-ikutan kayak Mas sih.
"Pak Rama." Ucap Ratih setelah dia benar-benar tersadar.
"Dek, aku mau minta maaf yah soal kejadian tadi." Kata Pak Rama penuh sesal.
Ratih mengangguk. Kemudian dia beringsut duduk.
Aduh, jangan panggil aku adek dong Pak. Panggilan adek itu, khususon panggilan sayangnya suami ku untuk ku. Masak Bapak mau ikut-ikutan sih. Jangan buat aku jatuh cinta sama Bapak dong Pak.
"Iya. Nggak apa-apa kok Pak. Ini cuma kesalahan kecil. Nggak jadi masalah buat aku." kata Ratih sembari masih mengulas senyum.
Pak Rama kemudian mengambilkan Ratih minum.
Pak Rama membantu Ratih minum. Dia ikut memegangi gelas Ratih.
Ratih menyingkirkan tangan kekar itu.
"Aku bisa minum sendiri kok Pak."
"Iya Dek syukurlah."
Ih...Jangan perhatian gitu napa? Aku kan jadi deg degan gini. Nanti aku bisa jatuh cinta ama kamu. Suamiku gimana? nanti dia bisa mewek beneran.
"Jangan panggil Aku adek Pak! panggil aja aku Ratih."
"Oh iya Ratih. Kalau kamu udah baikan, Bapak antar kamu ke kelas."
__ADS_1
Aish ah, perhatian juga makhluk yang satu ini. Dia mengingatkan ku dengan sosok Nino. Apa kabar Nino yah?"