Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 3.


__ADS_3

"Udah Kak. Alhamdulilah, udah mendingan. Obat dari dokter juga udah habis."


"Ya syukurlah."


"Sekarang, Kak Husni istirahat saja yah. Nggak usah fikirin macam-macam. Nara ke Revan dulu." Kata Nara.


"Iya sayang. Makasih yah."Kata Husni.


Nara mengangguk. Setelah itu dia pergi meninggalkan Husni.


Husni masih berbaring di atas ranjangnya. Tiba-tiba saja, ponselnya berdering.


Inayah calling. Husni tersenyum.


"Ah, istri ku.Pasti dia lagi mengkhawatirkan aku juga." Gumam Husni.


Husni kemudian mengangkat telpon dari Inayah.


"Halo sayang...kenapa nelpon? apa kamu masih kangen?"


"Mas, aku cuma khawatir. Apa kamu sudah sampai di rumah dengan selamat?"


"Iya Inayah. Aku sekarang lagi di kamar."


"Apa Nara di situ juga?"


"Nggak sayang. Kalau Nara di sini, mana aku berani ngangkat telpon dari kamu."


"Iya. Aku cuma khawatir aja. Takut kamu kenapa-napa Mas Husni."


"Aku nggak apa-apa sayang. Aku udah minum obat kok."


"Nara perhatian banget sih sama kamu Mas."


"Iya dong. Dia kan memang istri terbaik untuk aku. Dia itukan ibu yang baik untuk anak-anak ku."


Inayah diam. Yah, sepertinya dia cemburu jika Husni selalu memuji Nara. Bagaimanapun juga, Inayah cuma manusia biasa. Dia juga pengin menjadi istri satu-satunya dari orang yang di cintai nya. Namun apalah daya, dia cuma istri siri dan istri simpanan. Mana mungkin dia akan di kenalkan kepada teman-teman Husni yang lain. Tapi Inayah sadar diri. Siapalah dia.


"Inayah, kenapa kamu diam? kamu kenapa Inayah?"


"Oh, nggak. Aku nggak apa-apa kok."


"Oh,"


"Ya udah Mas Husni istirahat saja yah, biar cepat sembuh. assalamu'alaikum."


"Wa alaikum salam."


Tut. Husni memutuskan telponnya.


Ceklek...


Pintu kamar terbuka. Husni buru-buru menyembunyikan hapenya. Yah, dia tetap tidak mau Nara curiga. Jika saja Nara tahu dia masih berhubungan dengan Inayah, mungkin saja, Nara akan meminta cerai atau akan menggugat cerai Husni.


Husni sangat mencintai Nara. Tapi Husni juga tidak bisa melepaskan Inayah. Itulah sesuatu yang tersulit untuk hati Husni saat ini. Karena hati Husni saat ini, sudah di tempati dua orang wanita yang sangat dia puja-puja di setiap waktu.


"Ayah, gimana? udah mendingan kan?" tanya Nara sembari menggendong Revan.

__ADS_1


Yah, sekarang Nara dan Husni sudah mengubah nama panggilan mereka dengan sebutan ayah dan Bunda.


Husni beringsut duduk. Dia kemudian menyodorkan tangannya.


"Ayo Revan, ikut papa."


"Jangan...! kamu lagi sakit ayah, jadi jangan gendong Revan dulu untuk sementara. Biarkanlah Revan bersama Bunda." Kata Nara


"Yah, aku kangen sama Revan bunda."


"Udah deh, nanti sakit ayah nular ke Revan. Revan baru sembuh sekarang ayah yang sakit. Kalau ayah gendong Revan, bunda takut Revan nanti tertular lagi."


"Ya udah deh nggak."


Nara kemudian membaringkan Revan ke boks bayi. Setelah itu dia melangkah ke arah suaminya.


"Sayang...sini temani ayah di sini. Ayah lagi sakit lho. Ayah lagi butuh perhatian kamu."


"Iya ayah."


Nara kemudian duduk di samping suaminya. Dia ikut berbaring di sana.


"Ayah, aku tahu kenapa ayah bisa sakit begitu. Karena ayah pulang malam terus. Ayah nggak pernah pulang sore. Padahal Kan Aku pengin ayah pulang sore. Biar kita bisa bermain bersama Revan ayah."


"Aku juga penginnya gitu sayang. Tapi aku banyak sekali kerjaannya. Coba tanya aja sama Darma."


"Aku tahu kok ayah. Aku akan selalu dukung ayah."


"Makasih Nara."


Maafkan aku Nara. Aku sudah selalu membohongimu. Semoga suatu saat kamu mengerti. Kalau perasaanku pada Inayah, seperti perasaan ku pada kamu Nara. Aku cinta kalian berdua. Dan aku tidak mau kehilangan kalian. Aku akan berusaha adil Nara. Aku juga tidak mau kalau kamu sampai tahu hubunganku sama Inayah. Aku nggak mau melukai hatimu Nara." Batin Husni sembari memeluk istrinya.


...****************...


Di luar rumah tampak Ratih sedang kerepotan membawa ke dua anaknya. Dia bersama suster Eny pengasuh anaknya. Yah sekarang Ratih itu harus punya baby sitter untuk merawat ke dua anaknya. Apalagi anaknya sekarang kembar.


"Adu Sus. Repot banget sih..."


"Iya makanya saya kan mau bantu non Ratih."


Ratih dan suster Eny, membawa anaknya Ayana dan Ayara ke rumah Husni.


Sesampai di depan pintu rumah Husni, Ratih mengetuk pintu.


"assalamu'alaikum" Ucap Ratih.


"wa'alaikumsalam." Terdengar suara dari dalam rumah.


Mbak Muti tampak tergopoh-gopoh membukakan pintu untuk Ratih.


Ceklek...


Pintu itu terbuka lebar.


Mbak Sumi tersenyum.


"Non Ratih? "

__ADS_1


"Iya Mbak Muti. Ratih mau main ke sini. Kak Nara dan Revannya ada?" tanya Ratih.


"Ada ayo masuk!" ajak Mbak Sumi.


Ratih dan suster Eny kemudian masuk ke dalam. Sejak mempunyai anak, memang Ratih suka sekali main ke rumah kakaknya Darma. Karena sekarang kan Ratih sudah lulus sekolah dan belum melanjutkan sekolah lagi. Dia akan bersekolah lagi kalauke dua bayinya itu sudah agak gedean.


Ratihmasuk ke dalam. Namun di lihatnya rumah Nara tampak sepi.


"Kak Naranya ke mana mbak?"


"Ada di kamar. Nanti Mba panggilin."


Mbak Sumi kemudian naik ke atas untuk memanggil Nara. Sesampai di depan pintu, Mbak Sumi kemudian mengetuk pintu kamar Nara.


"Kak,aku lihat ke luar dulu yah." Kata Nara pada suaminya.


"Iya."


Nara kemudian turun dari tempat tidurnya dan menghampiri Mbak Sumi.


"Ada apa Mbak?"


"Itu Non Ratih datang."


"Iya. Saya sebentar lagi turun yah."


"Iya Non."


Setelah itu Narapun turun ke bawah untuk menemui Ratih.


"Ratih..."


Nara mendekat ke arah Ratih.


"Ya ampun kamu bawa si kembar juga yah."


"Iya Kak Nara. Mana Revan Kak?"


"Revannya masih tidur."


"Ya udah yuk duduk. Udah satu Minggu kalian tidak main ke sini."


"Ratih di rumah jenuh Kak Nara. Mama sekarang pergi-pergi melulu. Jadi malas."


"Ya nggak apa-apa kamu main ke sini."


Ratih tersenyum. Dia kemudian memandang bayinya.


"Wah, Ratih,pasti kamu capek banget yah harus ngurus bayi kembar. Aku aja yang punya satu anak, repotnya minta ampun. "


"Awal-awal gitu. Tapi sekarang Ratih menikmati kok. Ternyata punya anak itu mengasyikan. Kita jadi punya teman, dan rumah juga terasa ramai dengan ke hadiran anak-anak."


"Iya Ratih. Kak Nara juga gitu. Awalnya rumah ini sepi bak kuburan. Tapi sejak ke hadiran Revan, rumah ini jadi ramai lagi."


"Iya benar banget tuh Kak."


"Kak Husni berangkat ke kantor yah?" tanya Ratih.

__ADS_1


"Nggak, Kak Husni lagi sakit."


"Oh, sakit? sakit apa?" tanya Ratih.


__ADS_2