Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 53


__ADS_3

Di mobil Ratih tampak diam. Fikirannya menerawang keluar mobil. Dia sepertinya sedih. Karena gara-gara sakit kemarin, dia tidak jadi berkunjung ke rumah orang tuanya.


"Kenapa adek?" tanya Darma.


"Nggak kenapa-kenapa. Aku cuma kangen aja sama Mama. Mama kayaknya udah benar-benar lupain aku." gerutu Ratih.


"Nggak lah, dia pasti lagi sibuk ama cateringnya. Kalau kamu kangen, kamu ikut Mas aja ke kantor. kan sekarang mama Lisna bekerja di kantor Mas."


"Yah, tapikan aku sekolah."


"Ya sepulang sekolah lah."


"Baiklah."


***


Sepulang sekolah, Ratih mendatangi kantor Darma. Dia ingin membuat kejutan untuk Darma. Setelah turun dari motornya abang gojek, Dia melangkahkan kakinya ke arah kantor Darma.


"Tunggu Nona. Mau kemana.?" tanya Pak satpam yang tampak belum mengenal Ratih.


"Aku mau ketemu sama suami ku." Ucap Ratih.


"Suami anda yang mana Nona?"Tanya pak satpam yang sepertinya masih bingung. Dia tampak tak mengenali nona mudanya.


"Ih.. security rese. Aku kan mau ketemu suamiku...Nanti aku laporin baru tahu rasa kamu Pak Security yang terhormat." ucap Ratih dengan suara imutnya.


Pak security Diam.


"Ratih..." Ucap Arfan yang tiba-tiba menghampiri.


"Kamu kesini naik apa?" tanya Arfan.


"Aku naik gojek online Kak." jawab Ratih


"Oh, ya udah. kamu mau ketemu suamimu kan?" tanya Arfan lagi.


Ratih mengangguk.


"Yuk aku antarin keruangan Darma."


Oh, apa nona tadi istrinya si bos? kok pakai seragam sekolah yah. Batin Pak security.


Ratih Kemudian mengikuti arah Kak Arfan melangkah. Ratih sedari tadi mengikuti Arfan. Dia berjalan menunduk sehingga dia menabrak punggung Arfan.


Bruuk.


"Auh, Kak Arfan. Apaan sih! Kenapa berhenti mendadak. Emang nggak punya rem yah kakinya. Ish, sebel deh ah." Gerutu Ratih.


"Ye...apaan sih Nyonya Darma setiawan. Makanya kalau jalan tuh lihat kanan kiri depan. Jangan ngelihat ke bawah mulu."


He...he... Ratih terkekeh.


"Lagi ngitung langkah Kak Arfan." ucap Ratih.


"Langkah kok di itung-itung. Kayak hutang saja. Ya udah yuk masuk." Ajak Kak Arfan.


"Kak. mama dan papa ada yah?" tanya Ratih.


"Ada tuh di dapur." Jawab Arfan.


"Aku kangen."


Ratih kemudian berjalan ke arah kantor menuju ke dapur. Di sana Bu Lisna masih berkutat memasak.

__ADS_1


"Mama... Surprice..." seru Ratih saat melihat mamanya.


"Halo Sayang..."


Mama Lisna mencium Ratih dan memeluknya.


"Lama Banget kita tidak ketemu sayang, Mama kangen, banget sama kamu Ratih. Tapi, mama nggak pernah main yah ke rumah mu. soalnya mama itukan sibuk banget."


"Sama Ma. Ratih juga sibuk sekolah."


"Oh, iya yah. Kamu sekarang sekolah."


"Papa Mana Ma?"


"Papa kamu lagi ke tukang foto copy. Mau foto copy berkas berkas penting."


"Ish,Mas Darma tega deh. Masak mertuanya tidak di naikan pangkatnya. Masih aja jadi cleaning service." gerutu Ratih tampak kesal.


"Hush, ah,Jangan ngomong gitu. Giman sekolahnya?"


"Ya nggak gimana-gimana Ma. Bentar lagi Ratih lulus."


"Ya udah,kamu mau ketemu suami mu kan?"


"Iya."


"Ya udah Mama antar. Kamu kan belum pernah main ke kantor ini."


Setelah itu,Bu Lisna mengantar Ratih untuk menemui Darma.


"Mas...Ratih datang..."


Ratih tanpa aba-aba langsung menubruk Darma membuat minuman Darma tumpah dan mengenai berkas-berkasnya


"Ups...Maaf..Ratih nggak sengaja." Kata Ratih penuh sesal.


Darma hanya geleng-geleng kepala. Yah dia itukan sosok suami yang penyabar. Jadi mana mungkin dia marah.


"Oke sini sayang."


Ratih mendekat. Kemuduan dia duduk di pangkuan suaminya.


"Gimana adek bayinya? Sehat-sehat saja kan? " tanya Darma sembari mengelus perut Ratih.


"Iya. tapi dia lagi ngidam Mas." Ratih menuturka.


"Ngidam apa sayang, nanti pasti mas belikan."


"ish, bukan makanan."


"Dedek bayinya seperti ingin jitak kepala botak guru kiler yang ada di sekolah Ratih Mas."


"Apa?"Darma terkejut.


Ha...ha...


Ratih malah tertawa.


"Sssttt Kenapa ketawa. Mau mas terkam lagi di sini. Mumpung sepi nih."


Ratih langsung berdiri.


"Nggak mau. Mas mesum aja deh. Main terkam-terkam. Aku nggak mau...! Emang nggak bosen Mas. Kan sudah satu bulan kita ngelembur sampai menghasilkan dedek bayi ini." Ucap Ratih.

__ADS_1


****


Di kantin kantor, Darma masih suap-suapan dengan istrinya. Membuat karyawan-karyawan Darma geleng-geleng kepala.


"Romantis banget yah Pak Darma sama istrinya. Jadi ngiri. " Desas desus para pegawai Darma.


"Aaaa..."Ratih membuka mulutnya. Darma malah menyuapkan nasinya di mulutnya.


"Ish, Mas Darma gitu deh." Ratuh tampak cemberut.


Cup.


Darma mengecup pipi Ratih.


Blush.. Ratih tersipu. Wajahnya pipinya merona merah serah buah tomat. Darma berani melakukan hal mesum di tempat umum seperti di kantin kantor.


"Ih,Mas...Sebel deh. Kenapa sih, Mas mesum banget. Kalau mau cium nggak lihat tempat."


"He..he.. Nggak apa-apa. Siapa suruh kamu jadi cewk cantik. Makanya Mas nggak bosen ngegarap kamu."


"Ish, tuh kan mulai lagi."


"Sayang, kamu kan udah terlanjur hamil, jadi Mas boleh yah, minta yang ehem ehem. Nanti malam yah siap-siap aku akan hajar kamu."


"Ish, nggak boleh. Kan aku lagi hamil muda. Kata orang kalau orang hamil itu, nggak boleh melakukan hubungan suami isrti sampai melahirkan. Nanti bayinya bisa kepelet."


"Oh iya juga yah. Tapi kita harus cari cara lain untuk misi kita nanti malam sayang."


"Misi?"


"Iya. Nanti malam kamu dandan yang cantik yah dan pakai lingeri baru yang kemarin Mas belikan itu. Nanti siap-siap yah."


Lagi-lagi Ratih di buat malu.


Buuuk... Ratih menginjak kaki Darma.


"Auh...sakit Dek. Kenapa Ratih nginjak kaki Mas."


"Ssssttt. Jangan keras-keras. Nanti kedengaran orang. Inikan tempat umum."


"Iya. Mas tahu.Tapi kan kamu istriku."


"Ih, dosa lho, kalau kita ngobrolin aib sendiri."


"Emang apa yang kita obrolin."


"Ish, Ratih sebel. Mas, begitu banget deh. Kerjaannya mesum mulu."


"Nggak apa-apa. Kamu kan istri Mas. Istri yang paling Mas cintai."


Ratih tersenyum. Rona kebahagiaan menyelimuti wajahnya.


Setelah makan siang, Ratih dan Darma beranjak pergi meninggalkan kantin. Mereka tampak bergandengan mesra, Seperti orang pacaran.


Sembari merangkul Ratih sesekali Darma menarik hidung Ratih yang imut.


"Ih...Mas Darma rese."


"Ha.. ha..siapa suruh kamu cantik."


Lagi-lagi Ratih tersipu.


Ah suamiku itu, memang pandai sekali merayu. Beruntung banget aku bisa dapatkan dia, Dia selalu memberikan aku kepuasan. Kepuasan lahir dan batin. Sekarang aku seperti merasa, kalau aku sudah menjadi orang yang paling bahagia di hidup ini.Mudah-mudahan akan seperti ini selamanya. batin Ratih.

__ADS_1


__ADS_2