Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 71


__ADS_3

Darma masih menatap wajah Leon.


"Fan, anak lo udah pintar merangkak yah."


"Iy Dar. Dia sudah bisa duduk juga."


"Hebat yah lo Fan sudah punya anak. Udah jadi ayah."


" Ha...ha... Apaan sih lo Darma. Lo juga bakal jadi seorang ayah."


"Jangan lupa Fan,"


"Lupa apa?"


"Rencana gue?"


Arfan mengernyitkan alisnya tanda tidak tahu.


" Rencana yang mana?"


"Rencana perjodohan."


"Perjodohannya siapa?"


"Anak kita?"


"Ha...ha... Darma...Darma... Ada-ada aja kamu. Kamu masih membahas perjodohan?"


"Iya. Emang kenapa?"


"Huh, Anak kamu aja belum tahu apa jenis kelaminnya. Sudah mau di jodoh-jodohkan."


"Pokoknya Fan, salah sayltu anak kita harus ada yang di jodohkan."


Ratih Dan Alma mendekat dan ikut berbaur bersama Darma dan Arfan.


"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Ratih penasaran.


"Itu Ratih, Darma. Dia lagi merencanakan perjodohan anaknya dengan anak ku."


"Apa!" Ratih terkejut.


Begitu juga dengan Alma.


"He..he.. Darma. Ada-ada saja sih kamu. Kalau nanti anakmu laki-laki gimana?"


"Ya Arfan suruh buat lagi anak perempuan."


Alma terdiam. Dia seperti malu mendengar ucapan Darma.


Arfan menebok bahu Darma.


"Jangan asal ngoming lo...! Buat lagi. Emang wanita melahirkan itu gampang apa."


Darma tampak berfikir.


"Yah, katanya sih melahirkan sakit." Kata Darma.


"Tapi buatnya yang enak." Kata Darma lagi.


plaaak...


Ratih memukul bahu Darma juga. Dua pukulan mendarat di bahu Darma. Pukulan Ratih dan pukulan Arfan.


"Heh, Mas Darma. Jangan asal kalau bicara. Buat...buat... Buat apaan. Otak itu, nggak pernah beres. Mesti di rukiyah kamu Mas. Biar otaknya normal lagi."


"Hei, kenapa bahas soal anak sih. Lihat tuh makannanya kasihan. Masak di diamin saja sedari tadi." Kata Alma.


"Iya Al. Maaf yah..." Ucap Darma.


Alma kemudian mencentongkan nasi kepiring ke tiga orang itu.


"Bang, lebih baik abang makan dulu. Biar Alma yanh gendong Leon."


"Iya Al. Ini Leonnya. Aku mau makan dulu."


"Ya udah Darma, Ratih, aku pamit dulu ke kamar yah. Mau menidurkan Leon. Kalian pada makan duluan aja yah."

__ADS_1


"Iya Mpok. Makasih ya Mpok..."


Alma kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Sementara Darma, Arfan dan Ratih makan di ruang tengah.


"Gimana makannanya enak?" tanya Arfan.


"The best banget masakannya Mpok Alma. Ratih jadi doyan makan lagi nih..." Kata Ratih yang saat ini sudah tidak merasakan mual dan pusing lagi.


"Em, Aku dengar, Ratih lagi hamil beneran yah?" tanya Arfa..


"Hemm." Kata Ratih.


"Ya udah, mumpung di sini, kamu ngobrong-ngobrol aja ama Alma. Dia kan sudah pengalaman hamil dan melahirkan, siapa tahu kamu bisa Ratih belajar dengan istriku."


"Iya Kak. Terimakasih. Aku pasti akan belajar." Kata Ratih penuh kesungguhan.


Makan malam kali ini memang sedikit berbeda. Tidak seperti di rumah Darma yang serba pembantu karena mamanya Darma samapai tua dia nggak balikn apa-apa.


"Ya udah, kalau gitu, habisin makananya." ucap.arfan.


Setelah selesai makan. Arfan. mengajak Darma ngobrol di ruang tamu. Sementara Ratih membantu Alma mencuci piring.


"Makasih yah Ratih...kamu udah mau bantuin aku."


"Iya Mpok, sudah kewajiban kita untuk saling membantu dan saling menyanyangi." Kata Ratih.


"Kamu memang imut dan baik. Nggak salah lagi kalau Darma sangat mencintaimu."


"Ha...ha.. jelas dong, kalau Mas Darma itu akan selalu mencintaiku."Kata Ratih.


Ratih dan Alma tampak sedang asyik membereskan bekas makan di ruang tengah. Sementara Darma masih berbincang di ruang tamu.


"Fan,"


"Hem,"


"Gini, gue mau bilang. Kalau gue mau berikan ini buat lo." Kata Darma sembari merogoh sesuatu yang ada di kantongnya.


"Apa ini Dar?"


"Itu kunci rumah buat lo."


" Wah, terimakasih banyak yah. Lo serius mau membetikan gue rumah?"


"Ya seriuaslah, sejak kapan gue main-main sama lo."


Arfan memeluk Darma.


"Tanks ya sob. Dari dulu lu itu memang sahabat terbaik gue."


"Iya. Sama-sama."


Setelah Ratih dan Alma membereskan semuanya, Darma kemudian mengajak Ratih untuk pulang.


"Udah malam Dek, kita pulang yuk!"


"Ya udah kita pulang."


Ratih dan Darma kemudian pamit untuk pulang.


...****************...


"Aduh Mas, Ratih capek banget tahu nggak... Udah seharian kita di pantai. Sampai kulit aku jadi gosong begini."


"Yah sayang. Siapa suruh kamu nggak mau pulang."


"Kok Mas nyalahin Ratih. Kan Mas yang ngajak Ratih panas-panas main ke pantai."


"Tapi tujuan Mas kan, biar buat kamu senang Ratih."


"Iya. Ratih tahu. Mas Darma, Ratih capek banget...!"


"Iya. Terus kalau capek mau gimana? Apa mau mas pijatin."


"Mau dong Mas di pijat,"

__ADS_1


"Ya udah sini..."


Ratih kemudian duduk di depan Darma.


"Sekali-kali dong suami pijatin istrinya. Jangan istri terus yang pijatin suami."


"Iya bawel."


Darma kemudian memijat Ratih.


"Pindah di kaki dong Mas..."


"Hemm..."


"Baiklah..."


Darma kemudian memijat kaki Ratih.


"Mas, gara-gara kita ke pantai, kita tidak ke rumah mama dan papa Ratih."


"Iya sayanh. Lain kali saja saja yah kita ke sana."


"Iya Mas."


"Sekarang kamu tidur dulu. Mas mau mandi. Lengket banget badan ku." Kata Darma.


Ratih masih menatap Darma.


"Kenapa kamu ngelihatin aku kayak gitu? mau ikut mandi juga. Kalau mau ya ayo kita mandi bareng."


"Ish, aku nggak mau. Malas banget...Mending Ratih tidur."


"Ya udah tidur."


Setelah memijat Ratih, Darma pun kemudian pergi ke kamar mandi. Dia kemudian mandi. Sementara Ratih melangkah ke meja belajarnya.


"Wah, tugas apa yang aku belum pelajari. Sepertinya besok udah nggak ada tugas deh." Kata Ratih.


Ring...ring...ring...


Deringan suara hape Ratih.


Mama memanggil.


"Halo Ma, "


"Hiks...hiks..." Suara tangis Bu Lisna memecah.


"Kenapa Ma, ada apa?"


"Papa kamu Nak, tolong cepat kemari. Papa kamu pingsan. Dia baru saja terpeleset dan jatuh dari kamar mandi."


"Apa? Terus ke adaan nya gimana?"


"Pokoknya cepat kamu ke sini Nak."


"Baiklah, Ratih akan segera ke sana."


Ratih kemudian melangkah ke kamar mandi.


"Mas, mas Darma, ayo keluar Mas! Papa Ratih Mas. Papa Ratih pingsan." Kata Ratih sembari mengetuk kamar mandi.


Darma buru-buru memakai handuk dan keluar dari kamar mandi.


"Ada apa sayang...?"


"Mas, papa Ratih pingsan. Gimana nih Mas."


"Apa... Ya udah aku ganti baju dulu dan langsung ke sana." Kata Darma.


Darma kemudian ganti baju dan bersama Ratih akan menuju ke rumah Ratih.


"Darma, Ratih, kalian mau kemana? malam-malam orang hamil nggak boleh keluar malam."


Ratih menangis. Membuat bu Arum bingung.


"Ya ampun Ratih kenapa kamu menangis? ada apa Nak...?" tanya Bu Arum.

__ADS_1


__ADS_2