
Pagi ini, Arfan terlihat sangat lesu dan tak bersemangat. Dia menatap istrinya yang sedang menyusui anaknya. Dia bingung mau menceritakan kejadian kemarin atau tidak.
"Al Kamu udah masak?" tanya Arfan pada Alma istrinya.
"Udah. Masak nasi doang Bang. Aku malas masak. Si Dedek rewel terus dari kemarin." Alma menjelaskan.
"Ya udah, dedeknya sama Abang dulu. Sekarang sana kamu masak! "
"Abang nggak kerja?"
"Abang lagi nggak enak badan Al." Bohong Arfan.
Padahal fikirannya saat ini, sangat kacau karena kejadian kemarin. Kemarin dia sempat memukul Nino, bos besarnya di tempatnya kerja.
Tapi semua ini dia lakukan karena demi membela Darma sahabatnya. Bagaimanapun juga, Darma adalah sahabat terbaiknya, yang selalu membantunya di saat susahnya. Bahkan yang memasukan Arfan di kantor Nino, itupun Darma.
Arfan tak berani untuk bertemu Nino. Pasti saat ini Nino lagi sangat kacau fikirannya. Karena sudah kepergok mau tidur dengan Ratih pacar Darma.
Apa yang harus aku katakan pada Alma yah?
"Bang Arfan, Kok malah bengong, lagi mikirin apa sih?" tanya Alma bingung.
"Nggak apa-apa Al. Nggak lagi mikirin apa-apa kok." Arfan mengelak. Padahal fikirannya masih sangat kacau.
"Ini Dedeknya, Katanya abang nyuruh Alma masak. Keperluan dapurkan sudah habis, jadi Alma harus ke pasar dulu Bang."
"Dedek udah tidurkan?" tanya Arfan yang matanya tidak berkedip menatap jagoannya, yang pules di pangkuan ibunya.
"Udah bang. Nanti Alma ke kamar dulu. Mau baringin Dedek dulu." Kata Alma. Setelah itu dia membaringkan Putranya di kamar.
Arfan bangkit dari duduknya. Fikirannya masih berkecamuk. Apa yang harus di katakan pada Alma soal kejadian kemarin.
Mending Alma nggak usah tahu masalah ini. Gue nggak mau kalau dia kepikiran macam-macam. Gue harus cepat-cepat dapat kerjaan lagi nih.
Arfan ke kamar menyusul istrinya. Dia kemudian meraih dompetnya yang ada di atas nakas.
"Ini uang belanja bulan ini, berhematlah mulai sekarang." Ucap Arfan sembari memberi sejumlah uang pada Alma.
"Iya Bang makasih." Alma menerima sejumlah uang dari Arfan.
Yah, memang tak seberapa uang itu, tapi Alma tidak pernah meminta lebih dari itu. Karena Alma seorang istri yang sangat pengertian.
Alma yakin, jika suatu saat nanti, rezeki akan menghampiri kehidupannya. Bukankah roda kehidupan berputar. Jika sekarang dia ada di bawah, mungkin suatu saat nanti akan ada di atas.
"Bang, titip Dedek dulu yah." Kata Alma.
"Iya Al. Sana terserah kamu mau belanja apa, terserah kamu juga, mau masak apa. Abang mah apa aja yang kamu masak, pasti Abang suka."
Alma tersenyum. Setelah itu, Alma pergi meninggalkan suaminya.
Ponsel Arfan berdering.
Nomer Darma memanggil.
"Halo Bro..."
"....."
"Gue lagi bingung nih, gue udah nggak mau kerja di tempat Nino lagi. Gue mau nyari kerjaan lain."
."......"
__ADS_1
"Wah, yang benar? lu mau ngasih gue kerjaan?"
"......"
"Lo mau kesini? ya udah, gue tunggu."
tuut...
***
Beberapa saat kemudian, Darma datang. Dia langsung memarkir mobilnya di depan kontrakan Arfan.
Setelah itu dia turun dari mobilnya, sementara sorot matanya menelusuri ruamh kontrakan Darma.
"Setelah Arfan nikah, rumah kontrakan ini, jadi terlihat bersih dan nyaman. Paling istrinya yang selalu rajin membersihkannya." Gumam Darma.
Setelah itu, kemudian Darma masuk ke dalam rumah Arfan yang pintunya masih terbuka lebar. Arfan tampak sedang duduk di ruang tamu menunggu kehadiran Darma.
"Wah, Lo sendiri aja? mana istri lo? " tanya Darma.
"Istri gue lagi ke pasar." jawab Arfan datar.
"Enaknya yang udah punya istri." Cetus Darma.
Darma menghempaskan tubuhnya, duduk di sofa dekat Arfan.
"Mana bayi lo?"
"Lagi tidur."
"Anak lo cowok kan?"
"Iya dia jagoanku."
" Kenapa lo...?"
"Nggak apa-apa, cuma lagi ngebayangin sesuatu aja."
"Ngebayangin Ratih? Udah pengin lu?"
"Ha ha..." Darma tertawa.
"Malah ketawa lagi."
"Nggak, gue cuma ngebayangin aja masa depan kita."
Arfan bingung.
"Seandainya gue dan Ratih punya anak cewek, gue maunya kita jodohin mereka. Biar kita bisa besanan."
Ha ha ha....Arfan tertawa.
"Leon masih bayi Bro...jangan mikirin yang aneh-aneh deh, Belum tentu juga anak lu cewek. Kalau lelaki semua gimana?"
"Gue suka anak cewek, Kalau nanti Ratih punya anak cewek, gue akan beri nama dia Ayara."
Arfan manggut-manggut.
"Dan gue akan nikahkan Ayara dengan Leon. Pasti mereka cocok. Leon dan Ayara. yah...Aku yakin mereka akan menjadi pasangan serasi. kayak aku dan Ratih. Pasti Ayara, akan mirip mamanya. Cantik, baik, imut, dan aku nggak salah jodohin Ayara dengan Leon."
Darma berhenti bergumam saat melihat orang di sampingnya sudah tidak ada.
__ADS_1
Sial. Kebiasaan banget tuh anak. Kalau gue belum selesain ngomong lah, malah di tinggalin.
Tak lama kemudian, Arfan membawa dua cangkir kopi, untuk suguhan. Minuman favorit mereka saat mereka nongkrong.
"Udah. Ngarang ceritanya?" tanya Arfan yang sudah duduk di dekat Darma.
Darma menabok bahu Arfan.
"Sialan lu!" ucap Darma kesal.
"Ha...ha... Makanya jangan mengkhayal yang nggak nggak,"
"Lo itu cocoknya jadi novelis, dari pada jadi direktur."
***
"Assalamu alaikum." ucap Alma setelah sampai ke rumah.
Darma dan Arfanpun menjawab salam Alma bersamaan.
"Eh, ada Darma di sini." Ucap Alma.
"Iya Al. Lama gue nggak main kesini. Kangen rumah kalian. Juga sekalian mau nengokin jagoan kamu."
"Oh iya. Jagoannya sedang tidur Dar." Ucap Alma yang kemudian berlalu meninggalkan Arfan dan Darma di ruang tamu.
Lagi-lagi Darma tersenyum.
"Kayaknya lo lagi senang banget hari ini. Ada apa sih?" tanya Arfan.
"Iya dong, Mas Husnikan sekarang lagi umrah, Nanti pas Mas Husni pulang, gue akan melangsungkan pernikahan dengan Ratih. Nggak pakai tunangan. Yang penting Ratih halal buat gue."
"Halah... halal halal, Oke, baguslah. Kapan mereka pulang umrah?"
"Minggu depan."
"Gue juga mau ngajakin lo, untuk bantuin acara pernikahan gue."
"Okelah itu pasti. Apa sih yang nggak buat lo." Arfan menepuk-nepuk bahu Darma.
"Dan satu lagi, setelah gue dan Ratih resmi nikah, gue ada hadiah buat lo."
"Apa?"
"Lo harus siap jadi sekertaris pribadai gue."
Arfan berjingkrak bahagia.
"Apa gue nggak salah dengar? Lo ngasih jabatan sekertaris ke gue."
"Iya. Karena cuma lu yang bisa gue percaya."
"Gue senang banget sumpah bro...Makasih banyak Yah,"
Arfan memeluk Darma dan menepuk-nepuk bahu Darma. Kebahagiaan tersendiri untuknya. Bisa menjabat sebagai seorang sekertaris. Di perusahaan besar milik Darma.
Almapun ikut senang mendengarnya, Alma bisa kumpulin uang buat beli rumah sendiri, tanpa harus ngontrak lagi seperti sekarang.
" Darma, benar yah, kamu mau ngasih kerjaan bagus itu pada Abang?" tanya Alma yang belum sepenuhnya percaya.
"Iya. Gue serius! Gue kan direktur utama sekarang. Perusahaan itu kan, milik bokap gue."
__ADS_1
Pasangan Arfan dan Alma saling berpandangan. Mereka terlihat sangat bahagia.