Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
Bab 44


__ADS_3

Ratih bingung mau jawab apa. Wajahnya merona, pipinya memerah.


"Sayang..."Darma menatap istrinya lekat.


"Siap apa...?" Darma menaik turunkan alisnya tampak menggoda.


Ratih jadi kikuk.


"Ah...Mas Darma nyebelin deh! katanya mau minta jatah."


"He...he... Kamu mau memberiku jatah? Apa kamu udah siap sayang?"


"Iya. Aku siap Mas." Kata Ratih mantap.


Aku sangat siap Mas. Aku udah belajar ama mbah google sedikit demi sedikit. hi hi... Aku juga penasaran. Sakitnya kayak apa... nikmatnya kayak apa?


Darma kemudian berdiri dan mengambil sesuatu di laci lemarinya.


"Itu benda apa Mas?"


"Ini pengaman yang akan di pasang pada junior ku sayang."


"Hah...Junior mu yang mana?


Ratih bingung.


"Junior teman kamu sayang. Junior yang akan jadi makananmu."


Ratih tambah bingung. Karena setahu dia, dia tidak mempunyai teman yang namanya junior. Dan mana ada makanan yang namanya junior. Setahu Ratih, junior itu adalah lawan kata dari senior. Juinor itu muda, dan senior itu tua.


Ah untuk apa aku bersusah payah menjelaskan pada bocah ini. Ini bocahkan otaknya di dengkul. Jadi mana bisa nyerap kata-kataku. Mending sekarang kamu tunggu aja Ratih. siap-siap aja aku akan memberikan mu sesuatu yang tidak akan pernah bisa kamu luoakan seumur hidup kamu. ha...


***


Ratih masih tertidur pulas di ranjangnya. Dia sudah sangat lama tertidur. Mungkin karena tadi pagi dia habis olah raga di tempat tidur bersama suaminya.


Waktu sudah menunjukan jam satu siang.


Darma masih berkutat dengan laptopnya. Wajahnya sangat berseri-seri. Setelah dia memberikan nafkah batin pada istrinya, Darma jadi merasa sangat bangga.


Dia bangga bisa menjadi lelaki seutuhnya. yang menyentuh perempuan yang sangat dia cintai, dan perempuan yang mencintai Darma dengan tulus.


Darma masih duduk di tepian ranjang. Dia sudah memakai pakaian lengkap. Sementara Ratih masih bertubuh polos. Hanya tampak selimut aja yang menutupi bagian tubuhnya.


Ratih menggeliat. Dia mengerjapkan matanya. Dia kemudian melirik wajah suaminya.


"Mas..." Gumam Ratih.


"Iya sayang, ada apa? mau lagi?" tanya Darma tanpa melirik Ratih dia masih fokus dengan kerjaannya.


Ratih mencubit pinggang Darma.

__ADS_1


"Auh... sakit adek! Apaan sih kamu!"


"Aku...aku..." Ratih bingung mau ngomong apa. Seluruh tubuhnya terasa sakit.


Ah, mbah google ngaco nih. Nikmat dari mananya. Aku aja masih perih gini. Tahu gitu, aku nggak mau ngelakuin ini. Aku nggak mau percaya lagi ama mbah google. Nggak akurat ngasih infonya.


"Aku tahu sayang. Aku sudah siapkan air mandi hangat di bathroom. Kamu tinggal berendam aja di sana untuk merileks kan semua tubuhmu yang sakit. Kalau nggak bisa jalan, nanti aku gendong. Kalau tidak bisa mandi, nanti aku mandiin." kata Darma lagi.


"Mas, aku capek banget. Tubuhku seperti remuk redam." Keluh Ratih.


"Itu karena belum biasa sayang. Coba kalau udah terbiasa. Pasti biasa aja kok nggak akan sakit. Malah akan jadi super nikmat."


"Mas..."


"Apa lagi!" Darma kesal.


"Mas lagi ngapain sih serius amat!" Ratih ikut-ikutan kesal.


"Menurut mu, Mas lagi ngapain?" tanya Darma.


"Nggak tahu."


"Aku lagi ngerjain tugas kantor sayang, aku mau ada meeting besok." Jelas Darma


"Tugas kantor kok ngerjainnya di rumah. Kenapa nggak berangkat kantor saja!" Gerutu Ratih.


"Ah, bawel. Aku di sini lagi nungguin kamu bangun sayang, Eh malah kamu kayak kebo."


"Mas Darma...!" pekik Ratih.


Darma menutup laptopnya. Kemudian di meletakan di atas kasur.


Darma kemudian melangkah ke arah Ratih dan mengangkat tubuh Ratih.


Ratih meronta meminta di turunkan.


"Mas lepasin. Aku bisa jalan sendiri. Turunin aku!"


"Aku mau ngajakin kamu mandi bareng."


"Nggak mau. Mas Darma jahat. Mas Darma udah melukai ku. Udah bikin aku sakit. hiks...hiks..."


Lah lah lah....kok ini bocah malah nangis. Bukannya seharusnya dia senang udah aku kasih nafkah batin. Malah ini nangis. Akukan suaminya, kalau dia hamil , juga aku pasti bertanggung jawablah.


****


Sepulang kantor, Husni tidak langsung pulang ke rumahnya. Dia mampir dulu ke tempat Inayah. Sudah beberapa hari ini, Inayah begitu depresi. Dia selalu merasa ketakutan.


Semenjak kepulanganya dari korea, Inayah selau mendapat teror. Entah itu dari siapa. Kaca jendelanya setiap malam selalu ada yang melempar surat kaleng, yang isinya ancaman dan makian pada Inayah. Inayah juga tidak tahu, dengan siapa orang yang berani melakukan teror itu. Apalagi sekarang ini, Inayah tinggal sendiri.


Inayah wanita sebatang kara itupun menangis.

__ADS_1


"Mas Husni, aku takut..."


"Iya Inayah. Nggak usah takut. Ada aku di sini. Aku akan selalu melindungi kamu dari orang-orang yang mau jahatin kamu. Kamu sekarang nggak usah khawatir yah."


Inayah mengangguk.


Satu mingu ini, Husni selalu menyempatkan dirinya ke rumah Inayah. Sudah satu minggu pula Inayah izin dari kantornya karena dia sakit.


Tujuan Husni cuma satu, dia ingin melindungi Inayah dari hal-hal buruk yang sedang mengancam jiwanya sekarang.


"Hai....Inayah...keluar kau...! "seru seseorang dari luar rumah Inayah.


" Keluar kau Inayah...Kamu tidak pantas mengotori lingkungan kami...!" teriak seseorang lagi.


Inayah dan Husni saling menatap.


"Mas, kok di luar rame banget." Ucap Inayah panik.


Inayah berdiri dan mengintip di balik tirai jendela.


Inayah memutar tubuhnya.


"Mas, itu. Banyak orang di luar." Tutur Inayah.


"Mereka mau ngapain kesini Inayah?" tanya Husni tak mengerti.


"Nggak tahu." Kata Inayah mengedikan bahunya.


"Ya udah. Kita keluar sama-sama yah, kita hadapi mereka sama-sama."


Inayah mengangguk.


Inayah dan Husni kemudian keluar secara bersamaan.


"Dasar kurang ajar kau Inayah. Perempuan penggoda, janda genit. Kamu harus pergi dari kampung ini." Kata seorang ibu-ibu pada Inayah.


"Tenang semuanya tenang...ada apa sebenarnya ini." Husni mencoba menenangkan warga itu.


"Kalian habis berbuat mesumkan di sini." Ucap salah seorang lagi.


Ternyata sekarang Husni tertangkap basah oleh warga, sedang berduaan di rumah seorang janda bernama Inayah.


Deg


Husni baru menyadari. Sekarang memang sudah jam 12 malam, namun dia ke asyikan ngobrol dengan Inayah.


Sampai-sampai dia tidak menyadari kalau dirinya sudah berduaan dengan seorang wanita yang bukan mahramnya di rumah yang sepi.


"Astaghfirullah..." Ucap Husni sembari membasuh wajahnya kasar.


"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku. Pasti sekarang Nara sedang menunggu ku." Gumamnya pelan.

__ADS_1


Husni ingin pulang, namun dia tidak tega dengan Inayah. Jika dia pulang, bagaimana nasib Inayah. Inayah sekarang sedang sendiri dan di kroyok orang sekampung.


"Maaf, kita bisa jelasin semuanya. Kita tidak melakukan apa-apa di sini. Saya cuma atasannya Inayah. Saya ke sini karena saya mau menjenguk Inayah. Dia sedang sakit sekarang. Dia itu perempuan sebatang kara. Tidak punya saudara."


__ADS_2