Kesetiaan Ratih Dan Darma

Kesetiaan Ratih Dan Darma
bab 37


__ADS_3

Korea.


Malam ini, di sebuah cafe, Husni dan Inayah tampak sedang menikmati makan malam mereka.


Seperti biasanya setiap habis bertemu klien penting, pasti setelah itu mereka melanjutkan makan malamnya berdua.


Mata indah Inayah masih menatap ke luar jendela. Dia masih tampak menikmati indahnya pemandangan alam Korea. Yah, ini kali pertamanya dia tinggal di Korea.


Inayah hanya mengaduk-ngaduk makanannya saja tanpa dia makan.


"Kamu kenapa Inayah, Kok nggak di makan makanannya, nggak enak yah?" tanya Husni yang mencoba mau mengerti dengan apa yang sedang di fikirkan Inayah sekarang.


Inayah menatap Husni.


Dia tersenyum.


"Enak kok." Jawab Inayah singkat, yang kemudian pandangan matanya menuju ke arah luar lagi.


"Aku cuma lagi melihat keindahan malam di sini. Ternyata di sini beda dengan di Kairo."


"Ya jelas bedalah, Kairo itu negara mayoritas muslim. Di sini mayoritasnya non muslim Inayah."


"Tapi negri ini cukup indah menurutku."


"Inayah, Apakah kamu lagi ada masalah?"


Lagi-lagi Inayah tersenyum.


"Nggak ada."Jawabnya singkat.


Padahal Inayah sedang mencoba menyembunyikan luka dari Husni.


"Sorot matamu nggak bisa berbohong Inayah. Kau sama seperti istriku. Tidak bisa menyembunyikan sebuah kebohongan."


Mata Inayah berkaca-kaca. Dia ingin menangis sekali. Namun, Inayah mencoba untuk menahan air matanya supaya tidak jatuh ke pipinya.


"Menangislah Inayah. Jika dengan menangis itu bisa membuatmu lega.


Jika kamu memang sudah bisa menerima ku sebagai sahabat, maka ceritakanlah semua masalah mu pada ku. Aku akan selalu menjadi pendengar yang baik untukmu."


hiks...hiks..


Inayah menangis. Dia benar-benar menuangkan semua air matanya di depan Husni.


"Aku nggak kuat Mas, kalau aku harus menceritakan masalalu ku. Aku ini Inayah. Aku adalah anak yatim piatu yang selalu tersakiti oleh mantan-mantan suaminya. Aku bisa sekolah di Kairo itupun, karena aku mendapatkan beasiswa untuk kuliah di sana. Aku ini sudah menjadi anak yang terbuang. Sampai sekarang aku pun tak tahu siapa orang tua kandungku yang sebenarnya."


Husni menegak salivanya. Dadanya tampak sesak saat Inayah menceritakan kalau dia sudah menjanda sampai empat kali.


***


Global Islamic school.

__ADS_1


Di sinilah Ratih berdiri. Dia menatap gedung sekolah international islam itu. Dia tampak sangat takjub. Sekolahnya yang sekarang, adalah sekolah anak-anak orang kaya. Dan besarnya dua kali lipat dari sekolahnya yang dulu.


"Sayang, ayo kita masuk! kenapa malah bengong di sini." Ajak Darma yang masih melihati istrinya berdiri mematung di area parkiran sekolah.


"Mas, apa benar ini sekolah Adek?"


"Iya sayang, tapi kamu jangan macam-macam di sini !"


Ratih mengernyitkan alisnya.


"Pokoknya kamu harus selalu mengingat Mas di sini." Darma menunjuk dahi Ratih.


"Ish, kok gitu. Untuk apa aku harus mengingat Mas terus. Nggak bisa gitu dong, Mas itu ternyata posesiv juga yah. Ratih itu harus mengingat pelajaran. Kalau ngingat Mas terus, kapan dong Ratih bisa konsen belajarnya. Jangan cemburu ama pelajaran dong sayang!"


Seorang gadis bertubuh sedang, bermata indah dan berkerudung panjang itu menghampiri Ratih.


"Hai, kamu pasti anak baru yah. Soalnya aku baru pernah lihat kamu di sini." Kata gadis itu ramah.


Ratih tersenyum.


"Kamu di antar sama siapa kesini?" tanya gadis itu lagi.


Ratih melirik Darma.


"Hai, kenalin. Iya aku anak baru. Nama ku Ratih."


"Hai aku Adista."


Adista dan Ratih berkenalan.


"Iya ." kata Ratih singkat.


"Oh iya, kenalin juga. Ini Om ku. namanya Om Darma. Dia orang yang akan ngantar jemput aku tiap hari." Ratih memperkenalkan Darma sebagi Omnya.


Darma melotot. Hatinya seperti tidak terima kalau dia di bilang Omnya.


Enak aja sih Ratih itu. Dia nggak mau ngakuin aku sebagai suaminya. Awas aja kamu Ratih. Malah dia bilang aku ini Om nya. Apa aku sudah setua itu. Kalau mau bohong, bilang kek kalau aku ini Kakaknya.


"Om kamu masih muda. Ganteng banget lagi." Puji Adista yang membuat Darma salting.


Ah, ini cewek. kelihatnya polos, tapi genit juga yah. Awas aja kalau dia naksir sama suami ku. Bisa aku patahin lehernya!


Darma yang merasa mendapat pujian dari Adista tersenyum.


Iya. Aku ini memang gantengnya nggak ada duanya Adek. Makanya banyak cewek yang tergila-gila dan terobsesi denganku. Makanya harusnya kamu bersyukur Ratih. Udah dapatin pria kayak aku.


"Oh iya Ratih. Kamu mau masuk kelaskan? Ayo kita bareng." Ajak Adista.


"Aku mau ke ruang kepsek dulu. Nanti baru aku ke kelas. Soalnya aku belum tahu di mana kelasku." Jelas Ratih.


"Ya udah aku antarin kamu ke ruang kepsek."

__ADS_1


"Iya makasih ya Adista."


Ratih mencium tangan suaminya.


"Om, aku pergi dulu yah."


Ratih kemudian pergi bersama Adista.


"Om...? Dia bilang aku ini Om. Kenapa harus Om Sih Ratih. Kakak, Mas ,apa Abang kek." Darma tampak kesal.


Setelah itu Ratih dengan Adista menuju ke ruang kepsek.


Sementara itu Darma pergi dari sekolah Ratih. Kemudian dia meluncur menuju kantornya.


***


Tot tok tok


Ratih dan Adista mengetuk ruang kepsek.


"Masuk." Kata seorang lelaki paruh baya yang tampak sedang menulis sesuatu di laptopnya.


"Permisi Pak. Ini saya, mau ngantar Ratih anak baru." Kata Adista.


"Oke. Silahkan duduk." Pak Sakti kepala sekolah itu mempersilahkan Ratih dan Adista masuk.


"Selamat pagi Pak." Ucap Ratih.


"Pagi."


Ratih dan Adista duduk.


Pemandangan yang mengejutkan. Seorang lelaki bertubuh sexi badan tinggi tegap berwajah oval masuk kedalam ruang kepsek untuk mengantarkan sesuatu.


Ratih dan Adista terpesona seketika itu juga dengan lelaki itu.


Ratih meneguk salivanya.


Aish, kenapa ada makhluk yang lebih tampan dan sexi melebihi suami ku. Dia juga melebihi Nino. bushet dah...Makhluk mana lagi ini. Jangan buat aku jatuh cinta padanya Tuhan. Aku Ratih Anggraini cuma milik Darma setiawan."


Ratih dan Adista masih menatap lelaki sexi itu tanpa berkedip. Sosok makluk sexi yang melintas di hadapannya, membuat debaran-debaran aneh di dada kedua gadis remaja ini.


Lelaki itu tersenyum membuat kedua gadis itu hampir pingsan.


Aish ah, senyumannya ...! Iya benar kata Mas. Aku harus selalu mengingat Mas Darma di kepalaku. Aku tidak boleh tergoda dengan cowok itu.


Lelaki itu kemudian berlalu meninggalkan ruang kepsek.


"Dia itu namanya Pak Rama. Guru olah raga baru di sekolah ini, Tapi dia itu sudah jadi guru Favorit di sekolah ini. Tapi, menurutku lebih ganteng Om kamu."


"Ish, apa kamu bilang? gantengan Om ku. Jaga ya ucapan kamu! kamu jangan sampai naksir sama Om ku! dia itu udah menikah."

__ADS_1


"Ya nggak apa-apalah. Aku rela kok di jadikan yang kedua. Diakan ganteng. Lebih ganteng dari Pak Rama."


Aish Apa-apaan ini cewek.


__ADS_2